568 dibaca

HRWG Ajak Organisasi Keagamaan Jadi Jangkar Toleransi

  • Whatsapp
Focus Group Discussiom, "Tantangan Keberagaman di Tahun Politik” (foto : de tikmanado)

MANADO, DetikManado.Com– Human Right Working Group (HRWG), bersama TePI dan GMKI dalam memperingati Hari Toleransi se Dunia, menggelar Focus Group Discussiom, dengan Topik “Tantangan Keberagaman di Tahun Politik”, Selasa (27/11/2018), di Eatboss Cafe.

Salah satu pamateri, Jeiry Sumampow, mengatakan “isu toleransi sangat melekat dengan pemilu, ini mempertegas aturan kita yang jelas melarang menggunakan isu agama dalam meraup suara dalam pemilihan. Karena jika isu agama tetap di biarkan maka akan membuat isu substansi terganggu”.

Muat Lebih

Sumampow juga menambahkan, “Dalam beberapa kasus isu agama menjadi dibiarkan untuk mendapatkan dukungan dari pemilih, contoh pilkada DKI, menjadi anomali baru bahwa kinerja pemerintah yang samapi 80% kepuasan masyarakat tidak membuat masyarakat memilih, hanya karena pilih surga atau dunia. Isu sara ini sangat membuat relasi sosial kita makin tergerus, kalau ini kita pelihara, masa depan demokrasi kita berbahaya. Maka dari itu pemuda harus menjaga semangat keberagaman kita” jelas Jeiry

Di tempat yang sama, kordinator HWRG, Muhamad Hafiz, menjelaskan diskusi ini untuk membangun budaya politik demokratis yang tidak menyentuh sentimen sektarianisme dalam politik praktis. Kita memulai dengan komunitas keagamaan di Manado, terutama anak muda dimana jadi pioner untuk membangun kesadaran bersama terkait proses politisasi.

“Fakta politisasi agama yg terjadi di suatu daerah berdampak pada daerah lain, contoh kejadian DKI dan Sumatra Utara, bisa saja terjadi di Sulawesi Utara. Harapan kami setimen tersebut tidak terjadi kepada komunitas yang berbeda masyarakat Manado, kiranya bisa menjadi contoh yang baik untuk daerah lain soal bagaimana membangun toleransi, Sam Ratulangi dari Minahasa yang mempunyai nilai-nilai kehidupan yang baik kiranya bisa mengakar dalam membangun politik demokratis yang toleran”. tutur Hafiz.

Lebih lanjut, Bung Hafiz sapaan akrab kordinator HWRG tersebut, menjelaskan HRWG selama ini melakukan dua pendekatan, pertama pemerintah sebagai pemangku kewajiban harus membangun culture toleransi ditengah masyarakat, dimana pemerintah harus membangun proses dialog atar umat beragama, membuat kaum minoritas merasa dilindungi. Kedua mendorong komunitas dan organisasi keagamaan harus menjadi jangkar masyarakat untuk membangun toleransi, sehingga arus toleransi ini dapat diikuti oleh masyarakat, tapi jika sebaliknya kelompok itu yg menyebarkan maka tidak menutup kemungkinan para peganut dan komunitas akan melakikan politik seperti itu.

Kegiatan diskusi tersebut diiukuri sekitar 100 peserta dari kalangan pemuda dan mahasiswa, HRWG selaku penggagas kegiatan, menghadirkan sejumlah nara sumber, diantaranya kordinator nasional TePI, Jeiry Sumampow. Putri Pariwisata Indonesia, Lois Tangel. Wakil Rektor Unsrat Drs. Ronny Gosal, M.Si. PKUB, Wawan Djunaedi. serta dari HRWG, Muhamad Hafiz.

Adapun yang bertindak selaku moderator pada diskusi tersebut, yaitu Sekfung Organisasi GMKI cabang Manado, Combyan Lombongbitung.

“Sebagai Pemuda kita harus menjadi agen toleransi, menjadi Pioner kemajemukan dan keberagaman ini, sebagai aktivis kita harus mampu menjawab tantangan tahun politik, yaitu katakan tidak kepada isu-isu yang ingin mempolitisasi agama suku dan budaya kita, kita adalah satu Indonesia, dari sabang sampai merauke” tutup Combyan saat merangkum hasil diskusi tersebut. (dm/red)

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *