Gender Dalam Tradisi Bali dan Agama Hindu

Luh Putu Dina Satriani.

Budaya patriarki, yang telah mempengaruhi pemikiran-pemikiran mendasar seluruh masyarakat dunia tentang hakekat manusia dengan doktrin-doktrinnya diterima secara universal.  Doktrin yang dikonstruksi sehingga seakan-akan tampak sebagai hukum alam, apalagi dogma-dogma ini diperkuat oleh doktrin-doktrin agama yang mau tidak mau hingga kini masih terpatri oleh pemikiran-pemikiran yang lebih mendewakan laki-laki daripada perempuan, padahal sama-sama manusia ciptaan Tuhan.

Ironis memang sebagai umat beragama manusia selalu dicekoki oleh dogma-dogma “Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Adil” jika itu benar haruskah ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan? Haruskah ada sekat-sekat yang menjadikan perempuan lebih rendah dari pada laki-laki? Sesungguhnha pertanyaan ini adalah pertanyaan yang reflektif yang menuntut kita berpikir dan menemukan jalan keluar.

Bacaan Lainnya

Budaya patriarki juga mewarnai adat budaya Bali, sebagaimana yang dikatakan oleh Holleman dan Koentjaraningrat dalam Sudarta, bahwa kebudayaan Bali identik dengan sistem kekerabatan patrilineal. (Sudarta, 2006). Hal ini tentunya sangat kontradiktif dengan pandangan Agama Hindu sebagai ajaran yang diyakini kebenarannya secara dominan oleh Masyarakat Bali, yang dalam ajarannya sangat memuliakan perempuan, bahkan perempuan dianggap sebagai “sakti” (memiliki kekuatan mistis) bagi laki-laki. Padahal peran gender justru menetapkan bagaimana perempuan atau laki-laki harus berpikir, bertindak, dan berperasaan.

Komentar Facebook

Pos terkait