425 dibaca

Kisah Lefrandt Karamoy, Pejuang Kemerdekaan RI dari Sulut

  • Whatsapp
Salah satu pejuang itu adalah Lefrandt Karamoy, yang menceritakan pengalamannya saat terlibat pertempuran melawan Belanda di Sulut.

Manado,DetikManado.com-Hari ini Indonesia genap berusia 74 tahun. Sebuah kemerdekaan yang tidak direngkuh semudah membalikkan telapak tangan. Namun darah dan air mata adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah Negara.

Tentunya kemerdekaan yang dinikmati sekarang tak lepas dari usaha para pejuang-pejuang yang bertaruh nyawa untuk NKRI tercinta ini.

Muat Lebih

Salah satu pejuang itu adalah Lefrandt Karamoy, yang menceritakan pengalamannya saat terlibat pertempuran melawan Belanda di Sulut. “Waktu itu saya tergabung dalam Satuan Laskar Rakyat Republik Indonesia, komandan saya semua sudah gugur, tinggal saya yang hidup,” kenang Op’ Lefrandt, begitu biasa dia disapa.

Dia teringat saat mereka bertempur melawan Belanda di Amurang karena sudah menguasai daerah itu, dan harus berjalan kaki dari Tomohon ke daerah itu. “Laskar rakyat banyak yang gugur waktu di Amurang, kami berperang mulai dari tengah kota hingga ke pinggiran pantai,” tutur penerima Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno tersebut.

Dirinya juga bercerita, setelah melawan Belanda dia kemudian diperhadapkan dengan Permesta dan menurutnya, dirinya sempat bergabung saat itu. “Saya berpangkat Kapten dari satuan ‘Sambar Nyawa’ bersama dengan Letkol Ventje Sumual. Tetapi sebenarnya kami tidak mau, karena kami cuma laskar daerah,” katanya.

Kini ‘Opa’Lefrandt tinggal di sebuah gereja di daerah Paal Dua, Kota Manado bersama anak bungsunya Vonny Karamoy, di GPDI Abraham. “Saya masih dapat tunjangan dari TNI sebesar 1.800.000,” bebernya.

Namun dirinya sekarang mengalami kebutaan karena katarak yang dialaminya. “Saya ingin menyampaikan kepada Presiden untuk lebih memperhatikan kami sebagai pejuang, karena kami berjuang mempertahankan NKRI dengan nyawa kami,” ungkapnya sambil terisak.

Namun dia bersyukur kepada Tuhan sudah memberikan Rahmat kepadanya  dan juga bangsa Indonesia. Dia juga menyatakan selalu berdoa kepada Tuhan agar memberkati pemerintah pusat sampai ke pelosok daerah. “Dan terlebih khusus Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Tiopan Aritonang agar diberikan kesehatan dan kebijaksanaan dalam memimpin kesatuan TNI,” pungkasnya.(ml)

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *