Seminar Publik FEB Unsrat – CSIS, Bahas Laporan Perdagangan dan Investasi

Peneliti CSIS memaparkan hasil kajian terkait perdagangan dan investasi Indonesia tahun 2026. (Foto: Yoseph Ikanubun/DetikManado.com)

Manado, DetikManado.com – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado menggelar Seminar Publik 2026 Indonesia Sustainable Trade and Investment Report pada, Kamis (27/8/2026), di Gedung F1 FEB Unsrat. Seminar dengan tema “From Fragmentation to Transformation: Strengthening the Green Economy as a Strategy for Indonesia’s Competitiveness” ini bekerjasama dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Rektor Unsrat, Prof Dr Ir Jamaludin Jompa MSc dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Prof Dr Ir Royke I Montolalu SPi MSc memberi apresiasi kepada FEB Unsrat yang boleh berkolaborasi dengan salah satu think tank, pemikir terkait dengan kebijakan ekonomi dan politik di Indonesia yakni CSIS. Apalagi menurutnya, CSIS sudah berdiri sejak tahun 1971 dan memberikan banyak kontribusi bagi Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Saat ini tentunya kita sedang menghadapi perubahan besar dalam lanskap ekonomi dunia. Antaranya, rantai pasok global semakin tertekan, persaingan perdagangan semakin kompleks, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat,” papar Montolalu.

Sementara pada saat yang sama, lanjut dia, dunia dituntut untuk merespons perubahan iklim dan mempercepat transisi menuju pembangunan yang berkelanjutan. Dimasukkannya ekonomi hijau menjadi sangat penting. Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjalankan transformasi ini.

“Kita memiliki kekayaan sumber daya alam yang beragam. Kita memiliki potensi energi yang potensi energi terbarukan yang sangat besar. Antaranya juga tentunya kita memiliki SDM yang mumpuni, serta terpenting di situ kita memiliki posisi geografis yang sangat strategis,” papar dia.

Di sisi lain, Montolalu mengingatkan, kekayaan baru tersebut benar-benar menjadi keunggulan jika Indonesia mampu mentransformasikannya menjadi nilai tambah. Mampu mentransformasikannya menjadi inovasi, menjadi teknologi industri berkelanjutan, dan tentunya bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

“Dalam konteks inilah perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang sangat penting. Unsrat tentunya menjadi salah satu tempat untuk meningkatkan potensi-potensi ekonomi hijau yang ada di kawasan Timur Indonesia ataupun di Indonesia secara umum,” tuturnya.

Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Prof Dr Ir Royke I Montolalu SPi MSc saat membacakan sambutan tertulis Rektor Unsrat.  (Foto: Yoseph Ikanubun/DetikManado.com)

Sehingga nantinya ke depan, lanjut dia, bisa menjadi pusat ilmu pengetahuan. Dia mengatakan, dengan adanya kolaborasi-kolaborasi ini, ada kelompok penelitian tematik sehingga nantinya lebih fokus.

“Contohnya ini mungkin diinisiasi oleh SDGs Fakultas Ekonomi dan Bisnis, mungkin di kemudian hari itu bisa diinisiasi oleh penelitian-penelitian kelompok yang lain. Sehingga nantinya ada dampaknya,” ujarnya.

Wakil Rektor Unsrat mengatakan, Unsrat terus berupaya untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi yang berdampak. Artinya di sini bahwa penelitian tidak hanya disimpan. Hasil penelitian itu tidak hanya disimpan di dalam bentuk artikel, dalam bentuk jurnal internasional, jurnal nasional, ataupun dalam bentuk buku, dalam bentuk hak paten kekayaan intelektual dan lain sebagainya.

“Namun penelitian yang dihasilkan bisa berdampak pada masyarakat,” ujarnya.

Montolalu mengatakan, forum seminar publik itu memiliki nilai yang sangat strategis karena mempertemukan para akademisi yang akan menjadi narasumber, kemudian ada lembaga kajian yaitu CSIS,

“Sinergi inilah yang tentunya kita perlukan untuk menjawab tantangan tadi, bahwa apa yang kita teliti, penelitian yang kita lakukan itu ada dampaknya bagi masyarakat,” tuturnya.

Montolalu memaparkan, perguruan tinggi memiliki kekuatan dalam ilmu pengetahuan dan penelitian. Pemerintah memiliki kewenangan dalam kebijakan. Dunia usaha yang dapat hadir saat ini memiliki kemampuan dalam investasi dan implementasi.

“Namun demikian juga lembaga penelitian seperti CSIS tentunya memiliki kemampuan menghasilkan kajian ataupun rekomendasi-rekomendasi yang strategis.

Apabila kekuatan-kekuatan ini dapat ditemukan, maka alhasil kita akan mendapatkan kebijakan yang tidak hanya baik secara konseptual, tetapi kebijakan-kebijakan yang realistis, yang terukur, dan tentunya realistis untuk dilaksanakan,” papar Montolalu.

Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Prof Dr Ir Royke I Montolalu SPi MSc foto bersama tim CSIS, FEB Unsrat, serta para narasumber dan sebagian peserta. (Foto: Yoseph Ikanubun/DetikManado.com)

Selanjutnya, Peneliti Senior CSIS, Dandy Rafifrandri sebagai keynote speech memberikan paparannya terkait hasil kajian CSIS.

“Tahun ini kami akan merayakan 53 tahun ulang tahun CSIS, yang bertepatan pada tanggal 1 September tahun 1971. Tapi fakta menyenangkan ini bahwa 60% dari peneliti di CSIS ternyata berada di bawah 40 tahun,” ujar Dandy mengawali pemaparannya.

Dia memaparkan, saat didirikan, CSIS memiliki tiga departemen yakni Ekonomi, Hubungan Internasional, dan Politik. Namun mulai tahun 2023, CSIS memiliki salah satu unit tersendiri untuk mengkaji masalah-masalah terkait iklim atau perubahan iklim, penelitian kebijakan terkait dengan perubahan iklim.

“Di tahun 2024 itu kami memulai satu program yang kami namakan Decarbonization for Development Lab. Jadi kita mau berdiskusi atau melihat bagaimana sih perekonomian Indonesia itu bisa didekarbonisasi,” ujarnya.

Dia mengatakan, misalnya pada tahun 2045 Indonesia mempunyai cita-cita untuk bisa menjadi negara maju. Tapi di tahun 2060, Indonesia juga punya tenggat waktu yaitu Net Zero .

“Itu di mana emisi yang kita hasilkan itu harus sama dengan emisi yang kita keluarkan. Nah, itu tenggat waktu kedua. Batas waktu ini kita melihat bahwa satu-satunya cara itu adalah kita harus mendekarbonisasi ekonomi kita. Nah, ini mungkin salah satu fokus yang sedang kita lakukan di bawah Departemen Ekonomi CSIS Indonesia,” tuturnya.

Usai Dandy menyampaikan paparannya secara umum, selanjutnya dua peneliti CSIS yakni Dwiwulan dan Via Azlia secara bergantian memaparkan tentang Sustainable Trade and Investment Report 2026.

Sesi selanjutnya adalah diskusi panel dengan menghadirkan panelis, Research Associate Unsrat SDG’s, Ir Hermina Syaloom Korompis, Dewan KEK Bitung, Drs Hendrik Rueben Tendean, dan Karo Ekonomi Setdaprov Sulut, Reza AW Dotulong.

Seminar publik ini dihadiri Dekan FEB Unsrat, Dr Victor PK Lengkong SE MSi CWM, Direktur SDG’s FEB Unsrat, Hizkia Tasik SE MA PhD, kalangan akademisi Unsrat, mahasiswa, serta pelaku usaha di Sulut. (yos)

 

 

 

 


Pos terkait