Bukan Pinjol, Kredivo Ajak Masyarakat Pahami Potensi dan Risiko PayLater

Manado, DetikManado.com – Tak hanya di Jabodetabek, PayLater kini makin diminati di berbagai daerah, termasuk di Manado

dengan jumlah transaksi tumbuh 96,43% sepanjang 2022 – 2024.

Bacaan Lainnya

Meski mampu buka akses kredit, bangun skor kredit, dan bantu daya beli masyarakat,

penggunaan PayLater dibayangi tantangan literasi hingga disalahpahami sebagai pinjol ilegal.

Memperkuat ekspansi di daerah, Kredivo gandeng merchant lokal hingga gaet Andre Taulany untuk dorong literasi PayLater dan optimalkan dampak positif bagi pengguna serta ekonomi lokal.

Layanan PayLater kini makin diminati di berbagai daerah yang sejalan

dengan penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan secara nasional sebesar Rp 8,56 triliun per Juni 2025

Data Kredivo mencatat, pengguna dari kota-kota tier 2 dan 3 telah menyumbang 53,6%

dari total pengguna pada 2023, menandakan bahwa akses keuangan digital semakin inklusif menyasar wilayah di luar Jabodetabek.

Namun di balik tren positif tersebut, masih terdapat berbagai tantangan. Salah satu yang krusial adalah soal miskonsepsi yang menyamakan PayLater dengan pinjaman daring atau bahkan pinjol ilegal.

Minimnya pemahaman ini, termasuk soal hak dan kewajiban pengguna, kerap berujung pada keterlambatan bayar, skor SLIK yang buruk, hingga risiko terjebak pinjol ilegal. Padahal, jika digunakan

dengan bijak, PayLater bisa menjadi alat bantu keuangan yang mendukung cash flow, menjaga daya beli, dan membangun riwayat kredit formal.

“Pesatnya pertumbuhan PayLater di daerah membuktikan bahwa akses kredit digital yang terjangkau memang nyata. Literasi keuangan tetap jadi fondasi utama agar layanan ini tidak disalahartikan.

PayLater bukan pinjaman daring, apalagi pinjol ilegal. Sama seperti layanan kredit keuangan lainnya, jika digunakan secara benar dan bijak, PayLater dapat menjadi solusi keuangan yang memberikan manfaat positif,” ujar Indina Andamari, SVP Marketing & Communications Kredivo.

Sebagai pelopor layanan PayLater di Indonesia, Kredivo menegaskan bahwa ekspansi ke daerah bukan sekadar strategi bisnis, tetapi juga bagian dari komitmen untuk membangun literasi keuangan digital

yang merata. Ini sejalan dengan upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendorong peningkatan

literasi keuangan secara inklusif di berbagai daerah.

Melalui berbagai inisiatif seperti #AutoMikir,

#AndaiAndaPandai, Generasi Djempolan, dan Kredicast, Kredivo aktif mengedukasi masyarakat mengenai literasi keuangan sekaligus untuk lebih bijak memanfaatkan PayLater. Edukasi ini tak hanya penting untuk pengguna, tapi juga untuk memperkuat fondasi industri keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan, khususnya di luar Jabodetabek.

Pertumbuhan PayLater juga membuka peluang besar dalam memperluas akses kredit dan mendorong ekonomi lokal. Namun, minimnya literasi masyarakat terhadap cara kerja PayLater kerap memicu risiko, mulai dari penipuan hingga ketidaktahuan bahwa keterlambatan pembayaran bisa tercatat di SLIK dan

berdampak pada skor kredit.

Menanggapi hal tersebut, Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, mengungkapkan, pertumbuhan PayLater di daerah menunjukkan bahwa masyarakat semakin mencari solusi keuangan

yang relevan dengan kebutuhan: mudah diakses, cepat, dan terjangkau. Ini sinyal positif bahwa gap layanan keuangan formal mulai terisi.

“Namun, pertumbuhan PayLater harus dijaga arahnya. Salah persepsi soal PayLater, risiko gagal bayar, hingga pencatatan negatif di SLIK adalah dampak serius yang perlu diantisipasi akibat rendahnya literasi masyarakat,” ujarnya.

Kehadiran PayLater harus diiringi dengan sikap bijak dalam menggunakan layanan teknologi finansial ini, agar tidak merugikan diri sendiri. Karena itu, edukasi terkait dengan “pinjam dengan bijak” bukan sekadar pelengkap, namun menjadi kewajiban agar pertumbuhan ini sehat dan inklusif.”

 

Masyarakat Manado Manfaatkan PayLater sebagai Metode Pembayaran Sehari-Hari

 

Seiring dengan pertumbuhan PayLater yang semakin merata di kota-kota tier 2 dan 3, Manado menjadi salah satu wilayah dengan perkembangan yang menjanjikan. Tercatat, jumlah pengguna Kredivo di

Manado pada 2024 meningkat 74,77% dibanding pada 2022, dengan lonjakan jumlah transaksi sebesar 96,43% di periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Manado semakin familiar dan

nyaman menggunakan layanan PayLater.

Lebih dari itu, PayLater kini juga telah menjadi bagian dari metode pembayaran harian masyarakat Manado.

Kredivo mengungkap bahwa pengguna yang memilih tenor 1 bulan dengan fasilitas bunga 0% pada 2024 meningkat signifikan, naik 98% dibanding 2022.

Hal ini menjadi indikator bahwa pengguna

makin bijak dalam mengelola cash flow, memilih tenor pendek untuk belanja sehari-hari tanpa menimbulkan beban keuangan jangka panjang. Pilihan ini sejalan dengan strategi Kredivo dalam memberikan limit kredit secara bertanggung jawab dan proporsional.

“Peningkatan signifikan pada jumlah transaksi, pengguna, dan preferensi tenor 30 hari menunjukkan bahwa PayLater di Manado tidak hanya tumbuh secara ekspansif, tetapi juga sehat. Kami juga melihat bahwa PayLater semakin dipersepsikan sebagai solusi pembayaran harian yang membantu memenuhi

kebutuhan tanpa membebani cash flow. Melalui ekspansi ini, kami harap dapat mendorong pemahaman yang lebih baik soal manfaat dan risiko PayLater, sekaligus memperluas akses PayLater bagi masyarakat Manado untuk memenuhi berbagai kebutuhan secara bijak,” imbuh Indina.

Sejalan dengan hal tersebut, Kredivo terus memperluas layanan di kota-kota premium, termasuk di Manado, dengan menyediakan limit hingga Rp50 juta dan tenor cicilan hingga 24 bulan. Ekspansi ini juga

diperkuat lewat kemitraan dengan merchant offline lokal dan kampanye edukasi serta pemasaran yang

relevan, termasuk dengan menggandeng figur publik seperti Andre Taulany untuk menjangkau masyarakat secara luas dan inklusif.

“Adopsi PayLater di daerah bukan hanya soal akses kredit yang lebih mudah, tapi juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi lokal. Ketika layanan ini dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif atau pengeluaran harian rumah tangga, efeknya bisa sangat terasa di tingkat daerah,” ujarnya.

Huda menambahkan, pelaku usaha bisa

mendapatkan permintaan lebih baik ketika masyarakat di daerah tersebut mempunyai daya beli yang terjaga. Perekonomian di satu daerah bisa lebih cepat berputar ketika permodalan ataupun pembiayaan

berada di jalur yang tepat.

“Namun agar manfaatnya merata, literasi terkait dengan finansial dan teknologi, serta perlindungan konsumen di daerah juga harus jadi prioritas,” tutup Huda. (yos)

 


Pos terkait