Cegah Tawuran, SMKN 2 Manado Perkuat Pembinaan Karakter dan Koordinasi Lintas Sektoral

Kepala SMKN 2 Manado, Tineke Lesar SPd MPd. (Foto: Yoseph Ikanubun/DetikManado.com)

Manado, DetikManado.com — Kepala SMKN 2 Manado, Tineke Lesar SPd MPd menegaskan komitmen sekolah dalam menekan dan mencegah potensi bentrokan antar-pelajar yang melibatkan siswanya dengan sejumlah sekolah lain di Kota Manado.

Langkah pencegahan difokuskan pada penguatan karakter peserta yang dididik secara internal serta sinergi lintas sektoral bersama kepolisian dan orang tua murid.

Bacaan Lainnya

Dalam keterangannya pada Rabu (30/9/2026), Tineke Lesar mengungkapkan bahwa sekolah secara konsisten menjalankan program pembentukan mental dan kebiasaan positif setiap hari. Pembiasaan tersebut dimulai sejak pagi hari sebelum jam pelajaran hingga keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler serta Kepramukaan.

“Setiap pagi ada pelatihan karakter. Kami berupaya melakukan pembiasaan karakter baik anak Indonesia Hebat. Kami juga menggelar Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) dan kegiatan ekstrakurikuler agar siswa bisa mandiri dan mampu bekerja sama,” ujar Tineke Lesar.

Guna mengantisipasi potensi timbulnya lapangan, pihak sekolah telah membangun koordinasi yang intensif dengan aparat Kepolisian, khususnya Polsek Tikala dan Polresta Manado. Koordinasi tersebut mencakup penjagaan pada jam rawan saat siswa pulang sekolah hingga penindakan terhadap akun-akun penyebar hoaks maupun provokasi di media sosial.

“Upaya preventif sekolah sudah luar biasa. Setiap hari kami koordinasi jam pulang dengan sekolah lain dan melaporkannya ke Polsek Tikala untuk patroli,” ujarnya.

Dia memaparkan, guru-guru pria juga diturunkan untuk berjaga di titik-titik rawan. Soal isu dan provokasi di media sosial, dia mengatakan, sudah serahkan ke pihak Cyber ​​Kepolisian untuk menyelidiki akun-akun penyebar berita kebohongan.

Selain menggandeng Kepolisian, Tineke menekankan pentingnya peran aktif orang tua dalam mengawasi anak didik. Pihak sekolah kini menerapkan sistem kontrol melalui kordinasi dengan orang tua murid di grup WhatsApp kelas dan tiap mata pelajaran. Itu untuk menampilkan keberadaan siswa, membatasi penggunaan kendaraan pribadi, serta melakukan pemetaan ( mapping ) terhadap siswa yang memerlukan perhatian khusus.

“Karakter anak juga harus dibentuk dari rumah, jadi butuh kolaborasi dengan orang tua. Di sekolah, guru mengambil foto kehadiran kelas dan dikirim ke grup orang tua agar mereka tahu anaknya berada di sekolah atau tidak,” ujarnya.

Hal lain yang dilakukan adalah mendata anak-anak yang berpotensi bermasalah atau terlibat masalah dengan sekolah lain untuk diberikan penanganan khusus. (yos)


Pos terkait