FMIPA Universitas Papua dan BRIDA Papua Barat Perkuat Kolaborasi Riset dan Inovasi

Penandatanganan perjanjian kerjasama oleh Kepala BRIDA Provinsi Papua Barat Prof Dr Charlie D. Heatubun dan Dekan FMIPA UNIPA Markus Heriyanto Langsa SSi MSc PhD, pada Senin (19/10/2026).

Manokwari, DetikManado.com – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Papua (UNIPA) menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat untuk memperkuat riset, inovasi, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian oleh Kepala BRIDA Provinsi Papua Barat Prof Dr Charlie D. Heatubun dan Dekan FMIPA UNIPA Markus Heriyanto Langsa SSi MSc PhD, pada Senin (19/10/2026).

Bacaan Lainnya

Ruang lingkup perjanjian mencakup riset dan inovasi, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, diseminasi dan publikasi ilmiah, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Charlie D. Heatubun mengatakan, kerja sama dengan FMIPA merupakan bagian dari upaya BRIDA memperluas kemitraan dengan berbagai unit akademik di lingkungan Unipa. Sebelumnya, BRIDA telah menjalin kerja sama dengan Fakultas Kehutanan UNIPA. Kemitraan serupa direncanakan melibatkan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta program pascasarjana.

Menurut Charlie, perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia dan kompetensi keilmuan yang dapat mendukung pengembangan inovasi daerah. Karena itu, kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi juga menghasilkan kontribusi nyata bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

“Ke depan, apabila pemerintah daerah membutuhkan inovasi untuk pembangunan dan kemajuan masyarakat, tenaga profesional dari UNIPA dapat dilibatkan. Kerja sama ini menjadi dasar bagi pengembangan kolaborasi berikutnya,” ujarnya.

Markus Heriyanto Langsa mengatakan, kemitraan tersebut membuka peluang bagi dosen, khususnya di Program Studi Biologi, untuk meningkatkan kapasitas penelitian dan memperluas kontribusi ilmiah bagi Papua Barat.

Selain mendorong penelitian bersama, kerja sama itu diharapkan menghasilkan program-program strategis yang dapat diusulkan dan dilaksanakan secara kolaboratif. Publikasi ilmiah bersama BRIDA juga menjadi salah satu sasaran yang ingin dikembangkan.

Markus menambahkan, Program Studi Biologi perlu memperkuat jejaring akademik dan meningkatkan mutu pendidikan agar mampu bersaing di tingkat internasional. Menurut dia, kerja sama dengan BRIDA melengkapi jejaring kelembagaan yang telah dibangun program studi tersebut.

Sebelumnya, Program Studi Biologi telah menjalin kerja sama dengan South Australian Museum dan Mochtar Riady Institute for Nanotechnology di Universitas Pelita Harapan. Penjajakan kemitraan dengan University of Wollongong, Australia, juga telah dilakukan. Kerja sama internasional tersebut diharapkan membuka peluang pertukaran mahasiswa dan pengembangan pendidikan pascasarjana di MIPA khususnya Prodi Biologi.

Dr. Naima Iram, ahli ekologi lahan basah pesisir dari National University of Singapore (NUS).

Membahas Potensi Blue Carbon

Rangkaian kegiatan penandatanganan perjanjian kerja sama itu juga diisi kuliah tamu bertajuk Understanding Blue Carbon yang diselenggarakan Program Studi Biologi FMIPA UNIPA di Ruang Arfak, Gedung Biologi, UNIPA.

Kuliah tamu menghadirkan Dr. Naima Iram, ahli ekologi lahan basah pesisir dari National University of Singapore (NUS). Kegiatan tersebut bertujuan memperluas pemahaman mahasiswa mengenai potensi ekosistem karbon biru dalam mitigasi perubahan iklim, sekaligus memperkenalkan tantangan penelitian ekosistem pesisir kepada sivitas akademika Prodi Biologi.

Koordinator Program Studi Biologi Heru Joko Budirianto SPd MSi mengatakan, kegiatan tersebut difasilitasi melalui BioAction Community Project, sebuah inisiatif yang dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dan dosen dengan praktisi profesional serta memperluas jejaring keilmuan.

Fajar RDN Sianipar SSi MSc selaku fasilitator kegiatan, menjelaskan bahwa kuliah tamu tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Papua, National University of Singapore, dan BRIDA Papua Barat.

“Kehadiran narasumber diharapkan membuka ruang diskusi yang komprehensif bagi mahasiswa, sekaligus mendorong lahirnya inovasi riset lingkungan dan kepemimpinan ekologis di kalangan generasi muda Papua Barat,” kata Fajar.

Dalam Kuliahnya, Dr Naima Iram mengatakan, blue carbon merujuk pada karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut, terutama mangrove, padang lamun, dan rawa pasang surut. Ekosistem tersebut berperan dalam siklus karbon dan memiliki arti penting bagi upaya mitigasi perubahan iklim. Di wilayah pesisir Papua Barat, kajian mengenai ekosistem tersebut berpotensi mendukung pengelolaan lingkungan sekaligus memperkuat basis ilmiah bagi kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Peneliti stok karbon sekaligus dosen Biologi UNIPA Slamet Arif Susanto SSi MSi menilai, materi kuliah tamu memberikan perspektif yang lebih luas mengenai tantangan penelitian Blue Carbon. Pembahasan tidak hanya mencakup aspek ekologi, tetapi juga kebutuhan kolaborasi lintas disiplin dan dimensi sosial ekonomi.

Menurut Slamet, pengembangan penelitian pesisir perlu didukung teknologi modern, seperti penginderaan jauh dan analisis data berskala besar. Pendekatan tersebut dapat membantu peneliti memahami perubahan ekosistem secara lebih menyeluruh dan menghasilkan informasi yang relevan bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Ia menambahkan, masih diperlukan penguatan penelitian untuk mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai karbon biru. Bagi mahasiswa, pemahaman tersebut dapat menjadi landasan untuk mengembangkan gagasan riset yang relevan dengan persoalan lingkungan di daerah. Sementara bagi dosen, kolaborasi lintas lembaga membuka peluang untuk memperluas cakupan penelitian dan publikasi ilmiah.

Kuliah tamu tersebut diikuti dosen dan mahasiswa Program Studi Biologi serta dihadiri Kepala BRIDA Papua Barat, jajaran staf BRIDA, dan Dekan FMIPA UNIPA. Kehadiran para pemangku kepentingan itu mempertemukan agenda pengembangan riset daerah dengan penguatan kapasitas akademik di perguruan tinggi.

Kerja sama antara FMIPA UNIPA dan BRIDA Papua Barat selanjutnya diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program penelitian bersama, peningkatan kompetensi peneliti, serta publikasi ilmiah yang relevan dengan kebutuhan daerah. Tantangannya adalah memastikan bahwa kemitraan kelembagaan tersebut menghasilkan luaran yang terukur dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam serta kesejahteraan masyarakat Papua Barat. (yos)

 

 


Pos terkait