Sebelum melaksanakan Tawaf, para jamaah haji terlebih dahulu mendapatkan pemeriksaan oleh Tim Kesehatan Haji (TKH) dan hasinya, kondisi almarhumah stabil. Namun setelah melakukan Tawaf, almarhumah mengeluh sedikit lelah, dan kemudian beristirahat di kamar.
“Sejak selesai melakukan Tawaf, almarhumah sudah tidak lagi beraktifitas di luar, hanya sholat di kamar dan beraktifitas ringan di sekitar lantai 29,” ujar Latoale.
Tanggal 19 Juli, almarhumah mandi, pada pukul 14.00, seperti biasanya dan beraktifitas seperti biasa. Jam 18.00 almarhumah sempat makan bakso dan lontong.
“Pukul 19.00 almarhumah bersiap sholat maghrib dan sempat berkomunikasi dengan keluarganya di tanah air. Selesai sholat, biasanya jemaah pada mengaji, teman sekamar memperhatikan almarhumah sudah tidak mengaji, sesaat selesai mengaji, teman-teman sekamar terus memanggil, tetapi almarhumah sudah tidak menyahut,” ujar teman sekamar almarhumah, menceritakan kronologi wafatnya kepada Pembimbing Ibadah H. Rusdi Musanip.
“Tepat pukul 20.00, teman sekamar almarhumah menghubungi Tim Kesehatan Haji (TKH). Setelah diperiksa, tensi darah tak berukur, nadinya sudah tidak teraba dan tidak ada respon, sehingga pada pukul 21.00 Hj.Sunartin Naami Hinur dinyatakan meninggal dunia,” tandas H. Musanip.
Keluarga Besar Kantor Kementerian Agama Kabupaten Minahasa Selatan, sangat berduka atas wafatnya jemaah haji Sulawesi Utara Hj. Sunartin Naami Hinur, Kepala RA Al-khairaat Amurang.














