Manado, DetikManado.com – Pertukaran budaya lintas negara melalui harmoni musik paduan suara akan mewarnai Kota Manado pekan ini. Goethe-Institut Indonesien bersiap menggelar konser penutup Kelas Master Pengaba Paduan Suara bersama maestro asal Jerman, Prof. Kerstin Behnke.
Acara megah tersebut diselenggarakan berlangsung pada Kamis, 10 September 2026, pukul 19.00 Wita di Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulut, dan terbuka untuk umum gratis melalui sistem registrasi online .
Konser penutup ini menjadi panggung puncak yang mempertemukan 12 pengaba ( konduktor paduan suara ) muda terpilih dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Filipina. Mereka akan berkolaborasi langsung dengan dua kelompok paduan suara kebanggaan masyarakat lokal, yakni Gema Sangkakala Female Choir dan Manado Catholic Choir. Seluruh rangkaian acara dirancang di bawah bimbingan Kerstin Behnke, Profesor Kepemimpinan Paduan Suara dan Ansambel dari Universitas Musik FRANZ LISZT Weimar, Jerman.
Sebelum naik ke atas panggung utama, ke-12 pengaba tersebut telah melewati lokakarya intensif sejak 1 hingga 9 September 2026 di Manado. Pelatihan berfokus pada teknik memimpin latihan sebagai proses artistik dan komunikatif, pengembangan ekspresi musikal, memperhalus suara ansambel, serta mengarahkan paduan suara menuju representasi yang meyakinkan dalam suasana latihan yang efisien dan memotivasi.
Kepala Regional Program Budaya Goethe-Institut Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Dr Nina Wichmann, menyampaikan bahwa program ini menjadi momentum berharga untuk mempererat hubungan antarbangsa melalui seni. “Program ini menjadi sebuah perjumpaan yang sangat istimewa antara 12 konduktor asal Asia Tenggara dan dua komunitas paduan suara lokal Manado. Momen ini mempertemukan pengalaman, tradisi, dan semangat bermusik yang beragam. Kami berharap perjumpaan ini dapat menghadirkan ruang dialog lintas budaya sekaligus menunjukkan bagaimana musik mampu menyatukan kita dalam satu harmoni,” ujar Nina Wichmann.
Pemilihan Manado sebagai lokasi penyelenggaraan juga bukan tanpa alasan. Koordinator Program Budaya Goethe-Institut Indonesien, Elizabeth Soegiharto, menjelaskan bahwa tradisi bernyanyi yang kuat di daerah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaksanaan program internasional tersebut.
“Kota Manado, yang terletak di persimpangan Nusantara, telah melahirkan lanskap musikal antargenerasi yang bersifat lintas komunitas dan tradisi—tempat di mana bernyanyi bersama telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang hidup inilah yang menjadi latar belakang utama pembentukan edisi terbaru Kelas Master Pengaba Paduan Suara di Manado,” tutur Elizabeth.
Para aktor berbakat yang akan memandu pertunjukan tersebut terdiri dari Drake Allan Mokorimban, Ezra Clement Dario, Leo Hubertus Dimas Avianto, M. Inggita Belinda Siegers, Martin Andryas Littik, Roland David Enoch, Sandy Sumampouw, dan Steven Immanuel Angelo dari Indonesia. Selain itu, hadir pula Lee Jian Zhen dari Malaysia, Lian Deih Zaam dari Myanmar, Nguyễn Hải Yến dari Vietnam, serta Paolo Niccolo Piquero dari Filipina.
Pada malam konser, mereka secara bergantian akan memimpin paduan suara di hadapan publik dengan menerapkan pendekatan artistik yang dikembangkan selama pelatihan.
Program Kelas Master Pengaba Paduan Suara ini pertama kali diinisiasi oleh Goethe-Institut Indonesien di Salatiga pada tahun 2016, sebelum akhirnya rutin diselenggarakan di pelbagai kota lain seperti Malang pada 2018 dan Medan pada 2022. Masyarakat Manado dan sekitarnya yang ingin menyaksikan perpaduan seni musikal lintas budaya ini dapat mendaftarkan diri secara cuma-cuma melalui tautan www.bit.ly/kb-manado. (yos)














