BITUNG, DetikManado.com– Manajemen Terminal Petikemas (TPK) Bitung bergerak cepat mengantisipasi kepadatan kontainer yang berdampak pada meningkatnya dwelling time di pelabuhan. Sejumlah langkah strategis kini disiapkan agar aktivitas bongkar muat tetap berjalan dan tidak mengganggu arus logistik di Sulawesi Utara.
Terminal Head TPK Bitung, Jusri mengatakan kondisi penumpukan kontainer saat ini dipengaruhi keterbatasan distribusi BBM solar yang berdampak pada lambatnya pengeluaran kontainer dari pelabuhan.
Menurutnya, persoalan tersebut juga telah menjadi perhatian berbagai pihak dan sudah dibahas dalam forum Forkopimda Sulawesi Utara guna mencari solusi bersama.
“Kami memahami kondisi yang terjadi. Karena itu kami berupaya melakukan berbagai langkah agar penumpukan kontainer tidak semakin parah,” kata Jusri, Jumat (10/7/2026).
Salah satu langkah yang dilakukan kata dia adalah, melakukan penataan ulang area penumpukan atau membuka blok-blok di dalam terminal agar kapasitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Selain itu, TPK Bitung juga telah berkoordinasi dengan Pelindo Regional untuk memanfaatkan lahan tambahan sebagai lokasi penumpukan sementara.
“Kami sudah berdiskusi dengan Pelindo Regional terkait kemungkinan peminjaman lahan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada titik terang,” ujarnya.
Tak hanya itu, TPK Bitung juga tengah berkoordinasi dengan pihak Bea Cukai untuk memanfaatkan kawasan penumpukan di luar terminal. Lahan tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 200 boks kontainer, sehingga dapat mengurangi kepadatan di dalam terminal.
Ia juga mengakui kondisi saat ini cukup berat bagi operasional pelabuhan. Di satu sisi, TPK Bitung harus menjaga kelancaran aktivitas bongkar muat, sementara di sisi lain perusahaan juga menghadapi tambahan biaya operasional akibat lamanya kontainer berada di terminal.
“Posisi kami sekarang adalah berupaya memahami kondisi pelanggan. Kami bekerja keras mencari solusi, walaupun dari sisi bisnis tentu muncul biaya-biaya tambahan,” katanya.
Akibat kepadatan tersebut, waktu tinggal (dwelling time) kontainer yang normalnya berkisar tiga hingga lima hari kini meningkat menjadi sekitar delapan hari. Bahkan, dalam beberapa kasus ada kontainer yang masih berada di terminal hingga 15 hari.
“Kondisi itu juga berpotensi memicu keluhan dari perusahaan pelayaran karena waktu sandar kapal menjadi lebih lama dari biasanya,” bebernya.
Meski demikian lanjut Jusri, TPK Bitung memastikan seluruh upaya terus dilakukan.
“Agar kapasitas terminal tetap terjaga dan arus logistik di Pelabuhan Bitung dapat kembali normal dalam waktu dekat,” pungkasnya.
(Jamal Gani)















