Manado, DetikManado com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Manado bersama Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menegaskan bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari ketaatan iman. Hal ini ditegaskan dalam aksi bersih-bersih pantai di Pantai Karangria, Kota Manado, Sulut pada, Minggu (15/2/2026).
Kegiatan yang digelar serentak di lima titik di Indonesia ini menggandeng komunitas Sea Soldier dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Daerah Sulawesi Utara. Aksi ini sekaligus menjadi peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 dan menyambut bulan suci Ramadan.
Sekretaris MUI Kota Manado, Suaib Sulaiman, menyatakan bahwa keterlibatan lembaga keagamaan bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku umat melalui pendekatan spiritual.
”MUI telah mengeluarkan fatwa pengelolaan sampah untuk mengajak kita hidup sehat. Kerusakan alam adalah ulah manusia, dan momentum ini adalah ajakan bagi semua agama untuk peduli lingkungan agar tidak berdampak banjir,” ujar Suaib di sela-sela aksi.
Senada dengan hal tersebut, Pengawas Lingkungan Hidup DLH Manado, Ridwan Lamani, menyebut sinergi ini memberikan kekuatan hukum moral bagi masyarakat.
”MUI mempertegas dengan fatwa haram membuang sampah di pesisir pantai, sungai, maupun danau. Artinya, membuang sampah sembarangan itu berdosa. Ini bukan lagi soal sosial, tapi tanggung jawab iman,” tegas Ridwan.
Ancaman Mikroplastik di Balik Keindahan Karangria
Di sisi lain, Sekretaris SIEJ Daerah Sulut, Julkifli Madina, menyoroti ancaman nyata di balik tumpukan sampah plastik bagi kesehatan warga Manado. Menurutnya, sampah yang terurai menjadi mikroplastik akan dikonsumsi ikan dan akhirnya masuk ke tubuh manusia.
”Ini ancaman serius. Selain merusak terumbu karang dan membunuh biota laut seperti penyu, mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia melalui ikan yang kita makan bisa merusak kesehatan dalam jangka panjang,” jelas Julkifli.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengelola sampah dari rumah dan melihat sampah sebagai potensi ekonomi, bukan sekadar limbah.
Sistem Pilah: Sampah Tidak Berakhir di TPA
Berbeda dengan aksi pungut sampah biasa, sampah yang terkumpul di Pantai Karangria tidak langsung dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Perwakilan Sea Soldier Sulut, Patrick Paendong, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan sistem pemilahan langsung di lokasi.
”Kami memisahkan sampah organik, anorganik, hingga limbah B3. Kami bekerja sama dengan NTPI untuk mendaur ulang plastik. Botol plastik akan diproses jadi produk baru, sementara tutupnya bisa diolah menjadi barang bernilai ekonomi seperti meja atau gantungan kunci,” tutur Patrick.
Laporan hasil pemilahan dari Pantai Karangria ini nantinya akan diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bagian dari data capaian pembersihan nasional. Aksi di Manado ini terkoneksi langsung dengan main event nasional yang berpusat di Bogor dan dipantau langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup.(yos)















