Solar Langka, Kontainer Menumpuk di TPK Bitung, Distribusi Barang ke Sulut Terancam Tersendat

Terminal Petikemas (TPK) Bitung.

BITUNG, DetikManado.com– Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai memukul sektor logistik di Kota Bitung. Dampaknya tak lagi sebatas antrean panjang di SPBU, tetapi telah merembet ke aktivitas di Terminal Petikemas (TPK) Bitung, tempat ratusan kontainer dilaporkan tertahan karena belum dapat diangkut.

Akibatnya, area penumpukan kontainer di pelabuhan semakin padat. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu kelancaran bongkar muat kapal sekaligus mengancam rantai pasok barang ke berbagai daerah di Sulawesi Utara.

Sejumlah sopir truk angkutan logistik mengaku kesulitan memperoleh solar dalam sepekan terakhir. Mereka bahkan harus mengantre hingga berhari-hari hanya untuk mengisi bahan bakar.

“Biasanya antre satu sampai dua hari. Tapi sepekan terakhir antreannya makin lama,” ujar salah seorang sopir truk logistik, Ronny, Sabtu (4/7/2026).

Lambatnya distribusi truk keluar dari pelabuhan membuat kontainer terus menumpuk di dalam Terminal Petikemas Bitung. Arus keluar barang menjadi tersendat, sementara aktivitas bongkar muat kapal tetap berjalan.

Seorang staf perusahaan pelayaran yang enggan disebutkan namanya mengatakan kondisi lapangan penumpukan di TPK Bitung kini nyaris penuh.

“Lokasi penumpukan sudah penuh. Kapal-kapal juga harus menunggu antrean untuk proses bongkar muat,” katanya.

Ia menjelaskan kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya dwelling time atau waktu tunggu kontainer di pelabuhan. Jika biasanya berada di kisaran tiga hingga lima hari, kini mencapai sekitar delapan hari.

Meningkatnya dwelling time dinilai menjadi sinyal terganggunya rantai distribusi logistik. Semakin lama kontainer tertahan di pelabuhan, semakin besar risiko keterlambatan pasokan barang ke gudang, distributor hingga pasar.

“Bila kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya sektor logistik yang terdampak. Ketersediaan kebutuhan pokok di pasaran juga berpotensi terganggu sehingga memicu kenaikan harga sejumlah komodita,” katanya.

(Jamal Gani)


Pos terkait