48 Pelajar Minahasa Selatan Jadi ‘Garda Depan’ Penyelamat Yaki di Alam Liar

Oplus_16908288

Bitung, DetikManado.com– Sebanyak 48 pelajar terpilih dari jenjang SMA/SMK dan MA se-Kabupaten Minahasa Selatan resmi menyandang gelar ‘Duta Yaki’. Status ini mereka emban usai menuntaskan program edukasi intensif Yaki Youth Camp 2026 yang berlangsung selama empat hari, 13–16 Februari 2026.

Kegiatan kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, BKSDA Sulawesi Utara, dan Program Selamatkan Yaki ini bukan sekadar kemah biasa. Para peserta digembleng untuk membangun rasa bangga dan kepedulian terhadap Macaca nigra (Yaki), satwa endemik Sulawesi Utara yang kini statusnya sangat terancam punah.

Bacaan Lainnya

 

Dari Hutan ke Pusat Penyelamatan

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengalaman tak terlupakan di Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih. Di sana, para siswa melakukan pengamatan langsung terhadap Yaki di habitat aslinya. Perjalanan berlanjut ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki, Minahasa Utara, tempat mereka melihat sisi kelam perdagangan satwa liar.

“Sebagai duta, mereka harus siap secara pengetahuan, empati, dan karakter. Karena itu, porsi kegiatan dirancang 70 persen diskusi agar peserta lebih aktif terlibat,” ujar Program Manager Selamatkan Yaki, Reyni Palohoen.

 

Menjadi ‘Mata dan Telinga’ Konservasi

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulawesi Utara, Hendrik Rundengan, menekankan pentingnya peran pelajar sebagai pelapor jika menemukan tindakan ilegal di lapangan.

“BKSDA Sulawesi Utara bangga dengan adik-adik ini. Jika menemukan perburuan atau pemeliharaan Yaki secara ilegal, silakan laporkan melalui kanal resmi kami,” tegas Hendrik.

Senada dengan itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Minsel-Mitra, Arie Toloh, menyampaikan apresiasinya atas ketahanan fisik dan mental para siswa. Meski sempat ada kendala kesehatan di lapangan, 48 dari 50 target peserta berhasil menyelesaikan misi hingga penutupan di Pusat Budaya Sulawesi Pa’ Dior, Tompaso.

 

Testimoni Peserta: Antara Nyali dan Kepedulian

Wilia Lintang, siswi SMA Negeri 1 Amurang, mengaku terkesan dengan pengalaman menjelajahi hutan.

“Saya belajar pentingnya melindungi Yaki dan sangat termotivasi menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi alam,” ungkapnya.

Sementara itu, Jeferson Hart Koyong dari SMK Rembang Amurang Barat merasa program ini berhasil meningkatkan kepercayaan dirinya.

“Awalnya saya malu-malu, tapi suasana kebersamaan di sini membuat saya lebih berani bersuara,” katanya.

 

Komitmen Global

Program ini juga mendapat dukungan internasional dari GIVSKUD ZOOTOPIA dan Mandai Nature. Dukungan ini menegaskan bahwa pelestarian Yaki bukan hanya isu lokal Sulawesi Utara, melainkan komitmen dunia dalam menjaga biodiversitas.

Ke depan, para Duta Yaki Minahasa Selatan 2026 ini akan mengikuti serangkaian aksi lanjutan untuk menyuarakan perlindungan satwa liar dan habitatnya di sekolah maupun lingkungan masing-masing. (yos)


Pos terkait