Pelatih Asal Brasil Sebut Sepak Bola Sulut Sedang Tidur

Fabio Oliveira, pelatih asal Brasil yang sudah malang melintang di sepak bola Indonesia sejak akhir tahun 1990-an. (Foto: Yoseph Ikanubun/DetikManado.com)

Manado, DetikManado.com – Kondisi sepak bola di Sulut yang menurun dalam beberapa waktu terakhir ini ternyata menjadi perhatian salah satu pelatih asal Brasil. Hal ini disampaikan saat pelaksanaan Festival Sepak Bola Rakyat di Lapangan Sparta Tikala, Kota Manado, Sabtu (27/6/2026).

“Sepak bola di Sulut ini sedang tidur, kalau tidak ingin kita katakan sedang mati,” ujar Fabio Oliveira, pelatih asal Brasil yang sudah malang melintang di sepak bola Indonesia sejak akhir tahun 1990-an.

Bacaan Lainnya

Mantan gelandang serang Persita Tangerang ini mengaku, dia mengikuti perkembangan sepak bola di Sulut sejak dirinya berkarir di Indonesia. Fabio Oliveira bahkan menyebut beberapa klub di Sulut yang sempat mewarnai liga sepak bola Indonesia.

“Beberapa klub sepak bola yang menjadi andalan di Liga 1 maupun Liga 2 Indonesia, seperti Persma Manado, Persmin Minahasa, dan Persibom Bolaang Mongondow,” tuturnya.

Dia mengatakan, kondisi sekarang berbeda di mana sepak bola Sulut sedang tidur, sehingga perlu dibangkitkan lagi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar Festival Sepak Bola Rakyat yang menyasar anak muda di Sulut.

“Selain itu juga ada pertemuan dengan para pelatih dan pemerhati sepak bola di Sulut untuk berbagi pengetahuan,” ujar pemain yang memperkuat PSP Padang, PSIM Yogyakarta, dan Persiter Ternate ini.

Terkait pelaksanaan Festival Sepak Bola Rakyat, Fabio Oliveira menilai, peserta sangat antusias meski pertandingan berlangsung di bawah terik matahari. Anak-anak yang berpartisipasi tetap menunjukkan semangat dan sportifitas yang tinggi dari awal hingga akhir.

“Selama pertandingan berlangsung, situasi berjalan dengan baik dan tidak ada kejadian yang aneh atau tidak diinginkan,” tuturnya.

Dia mengatakan, event itu merupakan kesempatan yang sangat baik bagi anak-anak usia 15, 16, hingga 17 tahun di Indonesia. Mereka membutuhkan wadah untuk menyalurkan kemampuan terbaik mereka serta mendapatkan pembinaan yang tepat.

Selain bertanding, para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti coaching clinic bersama para pelatih sepak bola Indonesia, termasuk dengan coach Fabio Oliveira dan Izaac Wanggai, serta para pelatih di Sulut.

Salah satu pertandingan pada event Festival Sepak Bola Rakyat di Lapangan Sparta Tikala Manado, Sabtu (27/6/2026). (Foto: Yoseph Ikanubun/DetikManado.com)

“Kami datang di Manado bukanlah untuk menjadi sosok yang “jatuh dari langit” dan merasa paling tahu tentang sepak bola di sini. Kami sadar, pelatih-pelatih lokallah yang paling memahami situasi kultural dan kondisi sepak bola di daerah tersebut,” tutur Fabio Oliveira yang pernah menjadi pelatih Persita Tangerang, Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya ini.

Dia mengatakan, coaching clinic itu bertujuan untuk berbagi pengalaman, mengobrol, dan menampung aspirasi serta keluhan dari para pelatih lokal.

“Di tengah keterbatasan infrastruktur dan kurangnya dukungan, diharapkan para pelatih dan anak-anak tetap semangat berlatih agar bakat-bakat muda ini bisa berkembang dan memiliki masa depan menjadi pemain nasional,” ujarnya sambil menambahkan, jika berhasil hal ini tentu dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.

Dia berharap, generasi muda saat ini bisa membangkitkan kembali sepak bola di Sulawesi Utara agar ke depannya bisa melahirkan pemain-pemain hebat lagi seperti para legenda asal Sulut yang ia kenal.

“Saya mengenal dengan baik Joyce Sorongan, Francis Wewengkang, Dirga Lasut, Felix Lasut, dan Stenly Mamuaya, dan pemain lainnya,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, PT Garuda Gemah Nusantara (GGN), melalui Cuwitan Digital, bersama Coca-Cola Indonesia menutup rangkaian Festival Sepak Bola Rakyat di Manado yang sudah berlangsung pada pada 25–27 Juni 2026.

Setelah hadir di Labuan Bajo, Jakarta, Palu, dan Makassar, penyelenggaraan di Manado menjadi puncak rangkaian kegiatan yang bertujuan membuka akses lebih luas bagi talenta muda daerah untuk belajar, bertanding, dan berkembang melalui sepak bola.

Festival ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem sepak bola usia muda yang inklusif, dekat dengan komunitas, dan relevan dengan semangat generasi muda.

Kehadiran Manado sebagai kota penutup juga menegaskan pentingnya pemerataan ruang pembinaan sepak bola, termasuk bagi talenta muda dari kawasan timur Indonesia. (yos)


Pos terkait