Jakarta, DetikManado.com – Justin Hubner, sang bek muda menyambut baik gelaran FIFA Series tahun ini di Jakarta, yang menurutnya bisa menjadi platform bagi Indonesia untuk unjuk kualitas.
Justin Hubner melihat FIFA Series sebagai kesempatan penting bagi tim nasional Indonesia untuk menegaskan perkembangan dan identitas mereka di level internasional.
Bek berusia 22 tahun itu menjadi bagian dari skuad yang akan tampil di Jakarta, di mana Indonesia sebagai tuan rumah dijadwalkan menghadapi Saint Kitts dan Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Jumat, (27/3). Tiga hari kemudian, tim Garuda akan kembali bermain di venue yang sama untuk menghadapi pemenang antara Kepulauan Solomon dan Bulgaria.
Bagi Hubner, turnamen ini bukan sekadar rangkaian pertandingan persahabatan, melainkan sebuah panggung untuk menunjukkan kualitas tim di hadapan lawan dari konfederasi berbeda.
“Ini kesempatan besar bagi kami untuk menunjukkan kualitas dan seberapa bagus kami sebagai tim,” ujarnya seperti dikutip dari fifa.com.
“Sebagai sebuah negara, ini penting karena orang-orang bisa melihat kemampuan kami. Sekarang kami harus membuktikan bahwa kami akan memanfaatkan kesempatan ini,” ujarnya.
Meski mengakui belum memiliki banyak informasi mengenai lawan pertama, pemain kelahiran Belanda itu menegaskan bahwa fokus utama tim tetap pada performa sendiri.
“Kami harus menunjukkan siapa kami dan apa yang bisa kami lakukan di lapangan. Saya tidak tahu banyak tentang lawan pertama, tetapi saya tidak takut. Kami ingin menunjukkan kualitas kami dan memenangkan pertandingan,” tuturnya.
Memulai era baru bersama Herdman
Indonesia memasuki FIFA Series dalam fase awal di bawah kepemimpinan pelatih kepala John Herdman, yang mulai menangani tim sejak Januari lalu. Hubner mengungkapkan bahwa komunikasi awal dengan pelatih asal Kanada tersebut memberikan gambaran jelas tentang arah perkembangan tim.
“Saya berbicara dengan pelatih beberapa bulan lalu. Itu percakapan yang sangat baik. Dia ingin membawa kami ke level berikutnya dan membantu kami berkembang,” kata Hubner.
Rekam jejak Herdman di level internasional juga menjadi sumber optimisme bagi sang bek.
“Saya tahu dia pernah melatih tim nasional Kanada dan melakukan pekerjaan yang sangat baik. Saya pikir dia bisa membantu saya berkembang dan juga tim nasional,” tuturnya.
Keyakinan dan ambisi skuad
Meninjau perjalanan tim dalam beberapa waktu terakhir, Hubner menggambarkan suasana di dalam skuad tetap positif, meski hasil yang diraih tidak selalu sesuai harapan, termasuk kegagalan melangkah lebih jauh dari putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Asia.
“Kami tidak menyangka beberapa hasil yang terjadi, tetapi perasaan di dalam tim sangat bagus,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki ruang besar untuk berkembang dan ambisi jangka panjang yang jelas.
“Kami masih bisa berkembang jauh lebih baik. Kami bermimpi untuk bermain di Piala Dunia atau melakukan hal yang lebih baik di Piala Asia,” tegasnya.
Sebagai salah satu pemain yang kerap mendapat kepercayaan tampil, Hubner merasakan tanggung jawab besar meski usianya masih muda.
“Saya terlibat di setiap pertandingan dan merasa bertanggung jawab atas apa yang sudah kami capai. Saya mungkin salah satu yang paling muda, tetapi di sepakbola tidak ada [mengenal] umur. Saya selalu memberikan segalanya dan tidak pernah menyerah,” tutur Justin Hubner.
Dukungan dan akar yang menguatkan
Bek yang pernah memperkuat Wolverhampton Wanderers dan Cerezo Osaka, serta kini bermain untuk Fortuna Sittard, juga mengungkapkan bahwa kedekatannya dengan Indonesia semakin kuat sejak pertama kali membela tim nasional tiga tahun lalu.
“Saya merasakan koneksi yang semakin kuat dengan Indonesia. Setiap kali saya datang ke sini, rasanya seperti pulang sungguhan,” kata Hubner.
Ia juga menyoroti dukungan masyarakat Indonesia yang menurutnya selalu hadir dalam berbagai situasi.
“Orang-orang di Indonesia memiliki hati yang baik dan akan selalu mendukung kami apa pun yang terjadi,” ujarnya.
Hubner turut menyinggung akar keluarganya dari Makassar melalui sang ayah, yang membentuk karakter dan mentalitasnya di lapangan.
“Makassar adalah tempat di mana orang-orangnya kuat dan tangguh, dan keluarga saya punya darah dari sana. Jadi saya tidak boleh mengecewakan siapa pun dengan menjadi pemain yang lemah di lapangan,” ujarnya memungkasi. (yos)















