Tahuna, DetikManado.com — Jeruji besi tidak membatasi kreativitas. Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tahuna membuktikannya dengan berhasil memproduksi alat musik tradisional Kolintang secara mandiri. Menariknya, produk perdana mereka langsung memikat pasar dan sukses terjual.
Program pembinaan keberlanjutan di Lapas Tahuna kini tidak hanya fokus pada pengisian waktu luang, namun sudah bergeser ke arah pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif yang bernilai industri.
Kepala Lapas Kelas IIB Tahuna, Yosef Leonard Sihombing, memberikan apresiasi tinggi saat meninjau langsung proses pembuatan sekaligus mencoba memainkan Kolintang karya para warga binaan tersebut pada Kamis (16/7).
“Sebelumnya mereka sudah berhasil membuat alat musik keroncong dan string bass . Sekarang keterampilan mereka berkembang pesat hingga mampu memproduksi Kolintang. Ini adalah hasil dari pelatihan yang konsisten dan berkelanjutan,” ujar Yosef.
Yosef menambahkan, program ini sejalan dengan implementasi Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk mendorong pengembangan UMKM. Pihak Lapas juga telah menyiapkan strategi hilirisasi agar produk ini dapat diserap pasar lebih luas.
“Hasil karya ini akan kami pasarkan melalui mitra usaha di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Target utama kami adalah membekali mereka dengan keterampilan nyata, sehingga saat bebas nanti, mereka memiliki modal keahlian untuk hidup produktif,” jelasnya.
Langsung Dipesan Sekolah lokal
Kualitas Kolintang buatan warga binaan ini terbukti tidak kalah dengan buatan perajin profesional. Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Kegiatan Kerja (Kasibinapi Giatja) Lapas Tahuna, Widodo, mengungkapkan bahwa pesanan sudah mulai berdatangan bahkan sejak produksi pertama selesai.
“Kolintang pertama hasil karya warga binaan ini mendapat berbagai yang sangat positif. Bahkan, langsung dipesan oleh salah satu sekolah di Kepulauan Sangihe. Ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus menjaga kualitas dan menggali potensi kreativitas mereka,” kata Widodo.
Tanggapan positif dari luar tembok lapas ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga binaan.
YS, salah satu warga binaan yang terlibat dalam pembuatan Kolintang, mengaku tidak menyangka karya tangannya bisa dihargai oleh masyarakat.
“Kami sangat bangga karena hasil karya yang kami buat bersama teman-teman di dalam sini mendapat apresiasi dari masyarakat. Ini membuat kami optimis dan merasa punya bekal yang berguna saat nanti kembali ke masyarakat,” ungkap YS.
Melalui inovasi pembuatan alat musik Kolintang ini, Lapas Kelas IIB Tahuna sukses membuktikan peran barunya: bukan lagi sekedar tempat menjalani hukuman, melainkan wadah inkubasi yang mencetak manusia mandiri, produktif, sekaligus menjadi penjaga kelestarian budaya daerah. (yos)















