Manado, DetikManado.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda wilayah Sulawesi Utara (Sulut) selama dua hari ke depan, yakni pada 28 hingga 29 Mei 2026.
Masyarakat dan pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Sam Ratulangi Manado, Dhira Utama, menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan secara signifikan ini dipicu oleh kombinasi beberapa fenomena dinamika atmosfer yang terjadi secara bersamaan di wilayah Sulut.
“Analisis atmosfer menunjukkan adanya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif secara spasial, serta gelombang Rossby Equatorial dan Gelombang Kelvin. Ditambah suhu muka laut yang hangat, aktivitas konvektif meningkat sangat signifikan,” ujar Dhira Utama dalam keterangan resminya pada Rabu (27/5/2026).
Selain fenomena tersebut, Dhira menambahkan bahwa terpantaunya Bibit Siklon Tropis JANGMI di Samudera Pasifik sebelah timur Filipina turut memperburuk kondisi cuaca di Sulut. Bibit siklon ini memicu terbentuknya daerah konvergensi dan belokan angin.
“Kondisi tersebut menjadi tempat berkumpulnya uap air yang mendukung pertumbuhan awan hujan dominan pada malam hari. Kami memprediksi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang,” jelas Dhira.
Berdasarkan data BMKG, terdapat 10 wilayah kabupaten/kota di Sulawesi Utara yang masuk dalam pemetaan rawan cuaca ekstrem ini adalah Kota Manado, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Kemudian Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Kepulauan Talaud.
“Mengingat potensi ancaman yang cukup besar, BMKG mengimbau masyarakat, pemerintah kabupaten dan kota, hingga Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk segera melakukan langkah mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan,” ujarnya.
Dia mengatakan, koordinasi antar instansi terkait perlu diperkuat untuk mengantisipasi dampak bencana seperti banjir, genangan air, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Kewaspadaan ekstra sangat ditekankan bagi warga yang berada atau tinggal di kawasan bertopografi curam, pegunungan, serta daerah sekitar tebing yang rawan longsor dan banjir.
“Karena sifat cuaca yang dinamis, masyarakat juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini resmi dari BMKG,” ujarnya. (yos)















