Gender Dalam Tradisi Bali dan Agama Hindu

Luh Putu Dina Satriani.

Hal tersebut di atas, tampak jelas kontradiksinya dengan pandangan Hindu yang memuliakan kaum perempuan sebagai kekuatan sakti, yang memiliki peran yang penting dalam penciptaan alam semesta. Sebagaimana kita ketahui, gender sudah menjadi pembicaraan yang hangat baik di dunia pendidikan, politik, ekonomi, bahkan menjadi wacana dalam pembahasan serius di tengah-tengah masyarakat. Demikian juga diketahui bahwa wacana gender muncul sebagai dekonstruksi terhadap budaya patriarki yang telah menghegemoni paradigma masyarakat sekurang-kurangnya tiga ribu tahun lamanya.

Fritjof Capra mengatakan, selama tiga ribu tahun terakhir peradaban barat dan kebudayaan-kebudayaan lainnya, telah didasarkan atas sistem filsafat, sosial, dan politik, di mana laki-laki dengan kekuatan, tekanan langsung, atau melalui ritual, tradisi, hukum dan bahasa, adat kebiasaan, etiket, pendidikan, dan pembagian kerja, menentukan peran apa yang boleh dan tidak dimainkan oleh perempuan. Di mana perempuan dianggap lebih rendah dari pada laki-laki. Di sini tampak jelas budaya patriarki.

Komentar Facebook

Pos terkait