Remboken, DetikManado.com— Terletak pada ketinggian 716,74 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan koordinat geografis 1°13’37.41″N 124°50’40.98″E, Desa Parepei di Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, memiliki segala syarat ideal untuk menjadi lumbung agribisnis unggulan.
Suhu udara mikro yang sejuk di kisaran 25°C, kelembapan relatif 67%, serta hamparan tanah vulkanik tipe andosol yang subur, menjadikan desa ini kawasan potensial untuk pengembangan budidaya hortikultura ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang optimal dengan nilai ekonomi tinggi.
Namun, potensi alamiah tersebut selama ini belum tergarap secara maksimal. Sebagian besar masyarakat yang menggantungkan hidup sebagai petani skala kecil hingga menengah masih terjebak pada pola budidaya tradisional. Penggunaan benih cabai lokal serta pemakaian pupuk kimiawi secara berlebihan justru memicu penurunan kualitas tanah dan membuat produktivitas hasil panen cabai rawit belum mencapai titik optimal.
Di sisi lain, pengetahuan dan keterampilan petani dalam pemanfaatan pupuk organik cair (POC) berbasis bahan lokal masih sangat terbatas.
Begitu juga dengan pemahaman penggunaan varietas cabai unggul, optimasi penambahan bahan organik ke dalam bedengan, pengendalian hama cabai terpadu serta penanganan pasca panen buah cabai yang belum efektif dan perlu ditingkatkan.

Inovasi ULiBiCo: Jawaban Berbasis Mikroba Lokal
Menjawab tantangan tersebut, tim akademisi dari Universitas Negeri Manado (Unima) meluncurkan program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) terintegrasi. Mengusung inovasi bernama ULiBiCo (Unima Liquid Biofertilizer Combination), program ini ditujukan untuk memodernisasi ekosistem pertanian Kelompok Tani Esa Waya yang beranggotakan 10 orang petani produktif.
Inovasi ULiBiCo merupakan pupuk organik cair (POC) yang diracik khusus memanfaatkan formulasi mikroba lokal. Selain pengaplikasian ULiBiCo, petani dibekali paket teknologi terpadu yang mencakup introduksi varietas unggul cabai rawit Rawita F-1, pembuatan pupuk organik padat melalui fermentasi kotoran ternak dengan teknologi EM-4, penerapan teknologi plastikultur Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP), serta formulasi pestisida organik berbahan dasar tanaman lokal.
Ketua Tim PKM Unima sekaligus Dosen Jurusan Biologi, Jacklin Stella S Manoppo SSi MSi, menegaskan bahwa intervensi teknologi ini dirancang untuk mengubah pola pikir dan teknik budidaya petani agar lebih berkelanjutan.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani cabai rawit di Desa Parepei melalui penerapan teknologi ULiBiCo untuk meningkatkan produksi dan kualitas cabai rawit,” ujar Jacklin Stella S Manoppo SSi MSi.
Dia mengatakan, secara khusus, kegiatan itu memiliki target untuk berbagi ilmu dan melatih anggota kelompok tani. Hal ini guna meningkatkan kuantitas dan kualitas produk cabai varietas unggul jenis Rawita F-1, melalui aplikasi dan penerapan teknologi ULiBiCo berbasis mikroba lokal dalam bentuk pupuk organik cair pada tanaman cabai yang dibudidayakan.
Apresiasi Petani dan Dukungan Pemerintah Desa
Langkah transformasi pertanian ini mendapat sambutan hangat dari para petani di lapangan. Keterbatasan pengetahuan mengenai pengelolaan pupuk hayati dan pestisida organik kini teratasi lewat pelatihan praktis dan pendampingan langsung.
Ketua Kelompok Tani Esa Waya, Livia Vivi A Mantiri, mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran tim akademisi Unima di desa mereka.
“Kami sangat berterima kasih dan bersyukur atas kehadiran Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat di desa kami ini yang diselenggarakan oleh tim PKM ULiBiCo Unima. Program ini sangatlah membantu kelompok masyarakat di Desa Parepei dan kami berharap kerjasama yang baik ini dapat berlanjut untuk tahun yang akan datang,“ tutur Livia Vivi A Mantiri.
Dukungan penuh juga mengalir dari Pemerintah Desa Parepei. Hukum Tua Desa Parepei, Tenni Arthur Kasenda, menyambut positif sinergi ini dan siap mendukung keberlanjutan program demi mendorong Desa Parepei menjadi kawasan agribisnis berbasis organik bernilai ekonomi tinggi.

Sinergi Multidisiplin dan Dukungan Pimpinan Unima
Pelaksanaan program PKM ini dipimpin oleh Jacklin Stella S Manoppo SSi MSi (Ketua Tim PKM/Dosen Jurusan Biologi) dengan anggota tim yang terdiri dari Ernest H Sakul SPd MSi (Dosen Jurusan Biologi) serta Dr Ignatius Javier C Tuerah SS MPd (Dosen Jurusan Bahasa Inggris), dengan melibatkan sejumlah mahasiswa pendamping secara aktif.
Program strategis ini terselenggara berkat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi melalui Program Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Program Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan ini juga mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh dari Rektor Unima, Dr Joseph P Kambey SE MBA Ak, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unima yang diketuai oleh Dr Armstrong Sompotan SSi MSi.
Lewat integrasi teknologi hayati ini, Desa Parepei kini bersiap menjadi percontohan desa agribisnis mandiri dan ramah lingkungan di Sulawesi Utara. (yos)















