Bersama Kita Bisa Melawan Asap

  • Whatsapp
Warga terdampak kabut asap mengungsi ke tempat penampungan sementara.

Jakarta,DetikManado.com – Panjangnya periode musim kemarau tahun 2019 yang diperkirakan hingga bulan Oktober oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi salah satu faktor penyebab semakin tinggi pula potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Seperti yang sedang terjadi di enam provinsi masing-masing Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Oleh karena itu solusinya tidak lain adalah kepedulian bersama untuk melawan asap.

Muat Lebih

Agus Wibowo, Plt Kapusdatinmas BNPB mengungkapkan berbagai alternatif sederhana seperti berbagi ruang dan rasa nyaman kepada sesama warga yang terdampak asap perlu dilakukan bersama. “Bagi mereka yang tidak mempunyai ruang dengan fasilitas air purifier (penetralisir udara) maka dapat berkunjung ke sejumlah posko rumah singgah yang telah disediakan pemerintah maupun dunia usaha di berbagai titik lokasi,” ujarnya.

Hal tersebut sebagaimana yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah dalam memberikan pelayanan intensif hingga seluruh aspek sasaran.

Tidak hanya kepada masyarakat saja, lanjutnya, akan tetapi pelayanan tersebut juga diberikan kepada para petugas pemadam di lapangan. Selain itu, Dinas Kesehatan setempat melengkapi fasilitas layanan kesehatan dengan menyediakan ruang oksigen di beberapa rumah singgah. “Sebagai tambahan Pemerintah Provinsi juga telah menyiagakan 11 puskesmas, 2 rumah sakit umum daerah dan 1 pelayanan dari Palang Merah Indonesia,” tandasnya.

Sementara itu Pemerintah Daerah Provinsi Riau juga memberikan pelayanan kesehatan masyarakat terdampak asap karhutla. Pemerintah Provinsi Riau mendirikan “Posko Rumah Singgah Warga Terdampak Asap” yang tersebar di 14 titik lokasi di Kota Pekanbaru.

Adapun 14 titik lokasi tersebut di antaranya; Rumah Jabatan Asisten 2, Rumah Jabatan Asisten 3, Aula Dinas Sosial Provinsi Riau, Aula Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Aula Bappenda Provinsi Riau, Aula Rumah Sakit Jiwa Tampan, Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRS-AMPK).

Kemudian Rumah Jabatan Kepala Dinas Sosial, Aula Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Riau, Kantor Dinas PUPR, UPT. Industri Pangan, Olahan dan Kemasan Dinas Perindustrian Provinsi Riau, Mal Pelayanan Terpadu Kota Pekanbaru, UPT. Bapelkes Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dan Pusat Informasi Karhutla Rumah Jabatan Kepala Bappeda.

Dia mengatakan, sebagai tambahan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau juga membuka pelayanan yang sama sehingga total Rumah Singgah di Provinsi Riau ada di 15 lokasi.

Peralatan seperti kasur lipat (velbed), tabung oksigen, regulator, tabung oksigen kecil, selang oksigen, alat pengukur tekanan darah, obat-obatan, hingga makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita serta perlengkapan medis lainnya telah tersedia pada tiap-tiap posko dan sudah sesuai standar Kementerian Kesehatan RI. “Selain itu, masing-masing posko juga disiagakan satu mobil ambulance,” tandasnya.

Posko kesehatan ini buka setiap hari dari pukul 08.00 WIB sampai 22.00 WIB dan mulai dioperasikan sejak Minggu (15/9) hingga akhir masa siaga darurat yakni Kamis (31/10). Seluruh masyarakat bisa memperoleh pelayanan seperti konsultasi, cek kesehatan, cek tekanan darah, pemberian pernafasan menggunakan oksigen hingga fasilitas masker yang bisa didapatkan secara gratis dengan penanganan oleh tim medis dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau.

Adanya Rumah Singgah ini, lanjutnya, sangat bermanfaat bagi masyarakat. Selain dapat mengurangi dampak negatif dari asap karhutla, pelayanan tersebut sekaligus sebagai tanda bahwa negara hadir di tengah masyarakat untuk pelayanan yang terbaik.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir mengatakan bahwa untuk membersihkan udara dari polusi jahat ini dapat juga dilakukan dengan alat seperti Air Purify. Akan tetapi, solusi dari masalah asap dan karhutla adalah hujan. “Wilayah ini tidak ada angin, jadi asap tidak bisa kemana-mana. Air Purifier dibutuhkan, tapi hujan yang bisa menyelesaikan masalah” ujar Yuliani.

Pihak Dinas Kesehatan Provinsi Riau bersama unsur terkait lainnya akan terus memantau dan memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat terdampak asap karhutla. Seluruh pihak baik dari masyarakat, dunia usaha, pemerintah serta media diharapkan dapat mendukung dari keseluruhan kegiatan tersebut.(joe)

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *