Minahasa Tenggara, DetikManado.com — Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, kini berada dalam status Level II (Waspada). Masyarakat serta wisatawan diimbau untuk memperketat kewaspadaan dan menjauhi radius berbahaya sedini mungkin guna menghindari ancaman kestabilan aktivitas vulkanik.
Berdasarkan laporan pengamatan visual dan kegempaan terbaru, gunung api setinggi 1.809 mdpl tersebut menunjukkan aktivitas yang fluktuatif namun tetap menuntut kesiapsiagaan tinggi dari warga sekitar.
Asap Putih dan Belasan Gempa Tektonik Jauh
Selama periode pengamatan sepanjang Minggu (14/6/2026) dari pukul 00.00 hingga 24.00 Wita, cuaca di sekitar Gunung Soputan terpantau variatif mulai dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat dengan suhu udara berkisar antara 19–30 °C.
Secara visual, gunung sesekali tertutup kabut. Namun, saat pandangan jelas, asap kawah utama teramati berwarna putih tipis dengan ketinggian mencapai 10 hingga 20 meter di atas puncak.
Dari sisi kegempaan, pos pengamatan mencatat adanya aktivitas bawah permukaan yang didominasi oleh gempa tektonik. Terhitung sebanyak 12 kali gempa Tektonik Jauh terjadi dengan amplitudo berkisar antara 18–40 mm dan durasi gempa 74–189 detik.
Rekomendasi Ketat: Jauhi Radius 1,5 Km
Mengingat status Gunung Soputan yang masih bertahan di Level II (Waspada), pihak pengamat mengeluarkan sejumlah rekomendasi darurat yang harus dipatuhi oleh masyarakat, pendaki, maupun wisatawan.
Penyusun Laporan Aktivitas Gunung Soputan, Dewa Putu Pastika, menegaskan bahwa zona berbahaya telah dipetakan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas secara mendadak.
“Masyarakat di sekitar Gunung Soputan maupun pengunjung, wisatawan, dan pendaki agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 kilometer dari puncak. Larangan aktivitas ini juga diperluas hingga wilayah sektoral arah barat-baratlaut sejauh 2,5 kilometer yang merupakan daerah bukaan kawah,” ujar Dewa Putu Pastika pada, Senin (15/6/2026).
Dewa menjelaskan, perluasan sektoral tersebut sangat krusial guna menghindari ancaman nyata dari leleran lava dan awan panas guguran yang dapat meluncur sewaktu-waktu ke arah bukaan kawah.
Waspada Ancaman Lahar Dingin dan Hujan Abu
Selain ancaman langsung dari puncak, warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai yang berhulu di lereng Gunung Soputan juga diminta ekstra waspada. Potensi ancaman aliran lahar dingin mengintai, terutama saat curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Beberapa jalur sungai utama yang masuk dalam radar pengawasan ketat meliputi Sungai Ranowangko, Sungai Lawian, Sungai Popang dan Sungai Londola Kelewahu.
Pihak otoritas juga mengingatkan masyarakat untuk segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut. Langkah antisipasi ini wajib dilakukan sebagai proteksi dini terhadap gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu vulkanik akibat dinamika aktivitas Gunung Soputan. (yos)














