Bitung, DetikManado.com — Pelaksanaan Ujian Sekolah (US) di SMA Negeri 2 Bitung kembali mengandalkan model berbasis proyek yang kini memasuki tahun ketiga penerapan.
Diikuti 542 siswa, metode ini tak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga memunculkan tantangan baru terkait akurasi penilaian individu.
Kepala SMAN 2 Bitung, Maxy Awondatu, mengatakan ujian sekolah tahun ini menggunakan dua metode, yakni ujian tertulis dan berbasis proyek. Khusus untuk proyek, siswa telah mempersiapkannya sejak tiga bulan sebelum ujian berlangsung.
“Ujian proyek mencakup mata pelajaran sejarah, agama, dan pendidikan Pancasila. Setelah proses pengerjaan, siswa masuk tahap presentasi dan penilaian selama dua minggu,” ujar Maxy.
Sebanyak 129 kelompok siswa ambil bagian dalam ujian proyek tersebut. Setiap kelompok terdiri dari rata-rata empat orang dan dibagi dalam lima sesi pelaksanaan di sembilan ruang ujian.
Ketua Panitia Ujian Sekolah, Fredynandus Takalamingan, menjelaskan bahwa model kerja kelompok dinilai efektif untuk mengukur kemampuan kolaborasi siswa. Namun, di balik itu, muncul persoalan klasik yang belum sepenuhnya teratasi.
“Kerja tim memang terlihat, tapi penilaian individu berpotensi tidak merata. Ini menjadi tantangan dalam penerapan sistem ini,” katanya.
Untuk menekan potensi subjektivitas, pihak sekolah telah menggelar bimbingan teknis (bimtek) bagi tenaga pengajar guna menyamakan persepsi dan standar penilaian.
Selain itu, pengawasan juga diperkuat dengan melibatkan penguji eksternal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara.
“Penguji eksternal dilibatkan agar ada kontrol dan penilaian lebih objektif,” tambah Fredynandus.
(Jamal Gani)














