Manado, DetikManado.com – Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulut resmi memiliki Direktur Eksekutif Daerah yang baru. Dia adalah Serjio Christian Saeh SH MPd yang menggantikan Muhamad Fajar Santoso SH MH.
Acara serahterima jabatan ini digelar pada, Rabu (3/6/2026), di Kantor PKBI Sulut, dan dihadiri langsung oleh Direktur Eksekutif PKBI Pusat Leny Jakaria SST MPd, Ketua Pengurus Daerah PKBI Sulut, dr Frangki Mamahit, Ir Jennifer Mawikere serta berbagai lembaga mitra PKBI dan perwakilan pemerintah.
“Serah terima direktur yang baru ini bukan hanya pergantian kepemimpinan, tetapi juga melanjutkan estafet perjuangan yang telah dibangun oleh banyak orang dengan dedikasi dan pengabdian yang luar biasa,” tutur Leny dalam sambutannya.
Dia menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Muhammad Fajar Santoso atas kontribusi, komitmen, dan kerja keras yang telah diberikan selama perjalanan amanat sebagai Pjs. Direktur Eksekutif Daerah PKBI Sulawesi Utara. Berbagai pondasi yang telah dibangun tentu akan menjadi bekal berharga bagi organisasi untuk terus bertumbuh dan berkembang.
“Selanjutnya, saya mengucapkan selamat kepada Sergio Christian Saeh, yang hari ini menerima amanat sebagai Direktur Eksekutif Daerah PKBI Sulawesi Utara,” ujarnya.
Leny mengatakan, amanah itu bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab untuk melanjutkan nilai-nilai, semangat, dan perjuangan PKBI dalam melayani masyarakat.
Dia memaparkan, PKBI adalah organisasi yang memiliki sejarah panjang. Sejak berdiri pada tahun 1957, PKBI telah menjadi bagian dari perjalanan pembangunan bangsa, khususnya dalam memperjuangkan kesehatan reproduksi, hak kesehatan seksual dan reproduksi, serta keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.
“Ketika kita berbicara tentang PKBI Sulawesi Utara, kita juga berbicara tentang sebuah warisan yang luar biasa. Gedung klinik PKBI Sulawesi Utara yang telah berdiri dan memberikan pelayanan kepada masyarakat sejak masa yang mungkin bahkan sebelum sebagian dari kita lahir,” tuturnya.
“Artinya, organisasi ini telah melewati berbagai perubahan zaman, berbagai tantangan, dan berbagai pergantian generasi,” sambung dia.
Oleh karena itu, lanjut Leny, tugas hari ini bukan hanya menjaga organisasi tetap berjalan, tetapi memastikan bahwa organisasi ini terus hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi yang akan datang. “Kita juga patut bersyukur karena PKBI Sulawesi Utara memiliki berbagai program yang kuat dan berdampak,” ujarnya.
Dia mengatakan, kehadiran program-program bersama lembaga mitra menunjukkan bahwa PKBI Sulawesi Utara memiliki potensi besar untuk terus memperluas manfaat bagi masyarakat dan kelompok-kelompok yang paling membutuhkan penanganan.
“Namun, sebesar apa pun potensi yang kita miliki, keberhasilan organisasi tidak akan tercapai tanpa persatuan. Ada sebuah peribahasa yang sangat terkenal yang selalu relevan bagi organisasi manapun. Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama,” tuturnya.
Dia percaya bahwa masa depan ditentukan oleh kemampuan semua elemen untuk bersatu, saling mendukung, saling menguatkan, dan bekerja dengan tujuan yang sama. Karena itu, dengan hadirnya Direktur Eksekutif Daerah yang baru, diharapkan seluruh unsur organisasi—pengurus, staf, relawan, mitra, dan para pendukung PKBI—dapat semakin solid.
“Mari kita tinggalkan sekat-sekat yang dapat melemahkan organisasi dan fokus pada cita-cita besar yang ingin kita capai bersama,” ujarnya.
Leny mengatakan, PKBI telah bertahan hampir tujuh dekade. Bukan karena kekuatan individu, melainkan karena kekuatan kolektif orang-orang yang percaya pada nilai dan misi organisasi ini.
“Dan saya yakin, dengan semangat kebersamaan yang sama, PKBI Sulawesi Utara akan terus tumbuh, semakin kuat, dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Leny.
Sementara itu, dr Frangki Maramis mengingatkan akan empat nilai dasar PKBI untuk selalu menjadi pedoman dalam menjalankan berbagai program. Di bawah bimbingan dari Direktur Eksekutif PKBI Pusat dan didampingi oleh Pengurus Daerah, membangun PKBI Sulawesi Utara dari hari ke hari dengan senantiasa berpedoman pada 4 Nilai Dasar PKBI, yaitu kepeloporan, kemandirian, profesionalisme dan kerelawanan
“Apapun program yang kita jalankan, selama didasarkan pada empat nilai dasar ini, maka proses organisasi akan berjalan dengan baik,” ujarnya.
Sedangkan Muhamad Fajar Santoso dalam sambutannya mengatakan, selama lebih kurang 6 bulan ditugaskan sebagai Pjs Direktur Eksekutif Daerah PKBI Sulut, cukup membekas dalam kepengurusannya.
Dia berharap ketika nanti pimpinan baru PKBI Sulut bisa melanjutkan apa hal yang menjadi suatu hal yang baik.
“Cuma pesan saya, ketika kita berjalan itu butuh suatu hal yang namanya konsisten. PKBI tumbuh dari tahun 1957 itu berkat dia konsisten. Sampai dengan saat ini kurang lebih 68 tahun itu berkat konsistensi,” ujarnya.
Dia berharap, kepada pimpinan yang baru agar bagaimana administrasi dan tata kelola tetap berjalan dengan baik. Tidak untuk mengubah segalanya. Ada harapan dan mimpi teman-teman untuk setidaknya melihat segala PKBI Sulut ini dengan dasar kekeluargaan.
“Saya titip teman-teman yang kurang lebih ada 40 sekian kepada direktur terpilih, semoga teman-teman ini semangatnya bisa tetap dijaga,” ujar Fajar yang juga adalah Direktur Eksekutif Daerah PKBI Lampung ini.
Dia mengungkapkan, Serjio Saeh saat ini adalah Direktur Eksekutif Daerah PKBI termuda di Indonesia. Saat ini Serjio berusia 26 tahun.
“Serjio menjadi Direktur Eksekutif Daerah PKBI termuda di Indonesia dalam usia 26 tahun,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Daerah PKBI Sulut, Serjio Christian Saeh SH MPd dalam sambutannya menyatakan, dia menyadari bahwa dari sisi usia lebih muda dibanding teman-teman di PKBI Sulut. Kultur dari Minahasa itu adalah menghormati orang-orang yang lebih tua.
“Tetapi saya yakin dan percaya, sikap profesionalisme yang ada di dalam nilai-nilai PKBI yang harus kita tanamkan. Kita tidak memandang usia, kita tidak memandang gender yang bekerja sama-sama di PKBI,” tuturnya.
Dia mengatakan, yang pandang adalah sikap profesional dari semua unsur yang terlibat. Perlu digarisbawahi bahwa PKBI adalah rumah aktivis.
“Rumah aktivis bukan berarti adalah rumah mencari keuntungan sebesar-besarnya. Rumah aktivis, yakni kita memperjuangkan hak-hak warga yang ada di luar sana,” ujarnya.
Serjio mengatakan, yang paling penting juga bagaimana kolaborasi kemitraan yang perlu dijaga untuk membangun Sulawesi Utara ini.
“Terlebih khusus terkait pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi,” tuturnya. (yos)















