WALHI Sulut Bicara Banjir dan Tanah Longsor di Kota Manado

  • Whatsapp
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Provinsi Sulut Theo Runtuwene.

Manado, DetikManado.com – Provinsi Sulut dilanda hujan lebat,angin kencang disertai tanah longsor bahkan untuk Kota Manado sendiri kembali diterjang banjir ROB yang menggenangi dan memporak-porandakan beberapa kawasan pusat perbelanjaan.

Terkait hal ini, tanggapan datang dari Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Provinsi Sulut Theo Runtuwene. Dia mengatakan semenjak menjadi direktur 5 tahun yang lalu, pihaknya sudah menyampaikan kepada pemerintah mengenai hal ini.

Sampah di Kawasan Megamas Manado.

“Menangani banjir ini tidak hanya di Kota Manado sendiri tetapi harus ada kerja sama dengan pemerintah Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon sendiri. Karena ada DAS yang mengalir melewai daerah itu,” jelas Theo, Senin (18/01/2021).

Pihaknya juga mengkritisi pola pembangunan Kota Manado yang semrawut dan tata ruang yang baru disusun beberapa tahun kemarin karena dari sejak dulu tidak diperhatikan akan hal itu serta dampaknya.

“Kami juga menilai pemerintah abai dalam mengatasi masalah banjir karena dari tahun 2014 seharusnya berkaca yang dimana ada sekitar 19 orang yang meninggal, ribuan rumah porak-poranda serta kerugian yang mencapai 1,8 triliun dan itu seharusnya menjadi catatan penting untuk dijadikan evaluasi,” tegasnya.

Pohon tumbang di salah satu ruas jalan di Kota Manado.

Karena menurutnya ini berbicara soal nyawa tidak hanya bicara soal kerugian materil serta bagaimana jaminan dari pemerintah provinsi dan kota untuk menyelesaikan ancaman yang luar biasa ini.

“Letak Kota Manado ini berada di bawah sedangkan daerah resapan air yang berada di gunung kebanyakan sudah dijadikan perumahan. Jadi bagaimana mengantisipasi hal itu ? apakah ada penghijauan atau solusi lain dan hal ini harus dipikirkan oleh pemerintah bukan masyarakat,” jelas Theo.

Berbicara soal longsor, Theo menuturkan bahwa statementnya selalu tetap bahwa jika ada masyarakat yang masih tinggal di sekitar daerah rawan longsor itu di tindak hukum atau direlokasi tetapi dalam konteks yang membangun serta memberikan evaluasi terkait dengan dampaknya kepada masyarakat.

“Contohnya ketika ada masyarakat ingin tinggal di daerah rawan longsor pemerintah harus menjelaskan dampaknya sehingga masyarakat dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Penanganan bencana di Kota Manado yang setiap tahun ada banjir dan selalu mendapat bantuan perahu karet dan makanan, dia menilai itu tidak menyelesaikan masalah dan meminta masyarakat untuk bijak dengan bantuan tersebut.

“Harus ada analisis data strategis yang ditunjukkan pemerintah bagaimana mengedukasi ke masyarakat,” harapnya.

Dia menanmbahkan, Kota Manado sangat rawan dalam menghadapi masalah banjir kedepan karena pastinya akan banyak pembangunan. Untuk itu, dia mengimbau daerah resapan air di Tondano harus di tanam pohon semua.

“Sehingga Kota Manado dan sekitarnya aman karena volume air dari Tondano bisa terserap sehingga tidak ada lagi over kapasitas,” tandas Theo.(ml)

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.