Minahasa Utara, DetikManado.com – Guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo (M) 5,9 yang berpusat di Laut Maluku memicu kepanikan warga di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat pagi (22/5/2026). Puluhan tamu di Hotel Sutanraja Maumbi bahkan dilaporkan lari berhamburan keluar gedung.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 09.05 Wita tersebut seketika merusak ketenangan pagi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, para tamu hotel tampak panik; sebagian besar berlari cepat menuruni anak tangga, sementara yang lain terpaksa meninggalkan meja makan saat sedang menyantap sarapan pagi mereka untuk menuju ke area terbuka di depan hotel.
“Saya kaget sekali karena getarannya terasa kuat. Terpaksa saya langsung meninggalkan sarapan pagi dan lari keluar hotel,” ujar salah satu tamu hotel yang enggan disebutkan namanya di lokasi kejadian. Setelah situasi dipastikan kembali kondusif sekitar lima menit kemudian, para pengunjung perlahan kembali masuk ke dalam hotel.
Penjelasan BMKG: Aktivitas Lempeng Laut Maluku
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa gempa yang terjadi pada pukul 09.05.09 Wita ini merupakan jenis gempa bumi dangkal.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa episenter gempa terletak pada koordinat 1,17° LU dan 126,14° BT. Tepatnya berlokasi di laut pada jarak 117 kilometer arah tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 38 kilometer.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Laut Maluku,” ujar Wijayanto dalam keterangan resminya, Jumat (22/5).
Lebih lanjut, Wijayanto memaparkan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust).
Terasa hingga Manado, Tidak Berpotensi Tsunami
Guncangan gempa ini dirasakan di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara dengan tingkat intensitas yang bervariasi. Daerah Batang Dua merasakan guncangan paling kuat dengan skala intensitas III-IV MMI, yang artinya jika terjadi pada siang hari akan dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah.
Sementara itu, wilayah Manado, Sofifi, Halmahera Barat, dan Tidore merasakan getaran dengan skala intensitas II-III MMI. “Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terasa seakan-akan ada truk besar yang sedang berlalu,” tambah Wijayanto.
Meskipun pusat gempa berada di laut dan sempat memicu kepanikan, BMKG memastikan bahwa aktivitas tektonik ini aman dari ancaman gelombang pasang.
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” tegas Wijayanto.
Hingga pukul 09.20 WITA, hasil monitoring yang dilakukan oleh BMKG belum menunjukkan adanya tanda-tanda aktivitas gempa bumi susulan (aftershock). Warga pun diimbau untuk tetap tenang namun tetap waspada terhadap potensi bencana. (yos)















