AJI: Jurnalis dan Media Tingkatkan Kepedulian Soal Keselamatan

  • Whatsapp
Ketua Umum AJI Indonesia Abdul Manan.

Jakarta, DetikManado.com – Kasus Covid-19 di Indonesia, sampai 12 Juli 2020, menjadi 75.699 setelah ada penambahan sebanyak 1.681 orang. Pasien sembuh menjadi 35.638 setelah ada penambahan 919 orang, yang meninggal menjadi 3.606 setelah ada penambahan 71. Di antara mereka yang terinfeksi itu adalah para pekerja media.

Hari ini kantor Televisi Republik Indonesia (TVRI) Jatim di Surabaya memberlakukan penutupan kantor setelah dua karyawannya meninggal akibat Covid-19. Lebih dari 50 pegawainya juga positif Covid-19. Penutupan kantor berlaku mulai hari ini sampai 15 hari ke depan dan TVRI Jatim hanya akan me-relay tayangan TVRI Pusat.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, Bali mencatat ada 1 jurnalis yang meninggal karena Covid-19. Wartawan itu awalnya mengeluh sesak napas dan tidak enak badan pada 1 Juli 2020 lalu. Keluarga lantas membawanya ke Rumah Sakit Daerah Mangusada, Badung. Ia meninggal saat dalam perawatan di rumah sakit. Hasil swab test terhadapnya keluar keesokan harinya dan terkonfirmasi positif Covid-19.

Usai kematian ini, Gugus Tugas Covid-19 Bali langsung melakukan pelacakan. Wartawan yang bersangkutan diketahui mengikuti kegiatan konferensi pers sebelumnya. Untuk kebutuhan tersebut, Gugus Tugas Covid-19 Bali pada 4 Juli melakukan rapid test kepada 20 lebih wartawan yang sempat kontak dengan pasien. Hasilnya dinyatakan non-reaktif.

Peristiwa di Surabaya dan di Bali ini menunjukkan rentannya jurnalis terinfeksi Covid-19 di tengah langkah pemerintah yang mulai membolehkan pegawai pemerintah dan pekerja swasta untuk kembali bekerja.

Melihat perkembangan tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) donesia menyerukan sejumlah hal penting.

Ketua Umum AJI Indonesia Abdul Manan mengatakan, jurnalis hendaknya lebih meningkatkan kehati-hatiannya demi keselamatan dan mematuhi protokol kesehatan. Protokol kesehatan AJI bisa diakses di sini https://aji.or.id/read/buku/63/protokol-keamanan-liputan-pemberitaan-covid-19.html.

Dengan situasi saat ini, ujar Manan, sangat penting jurnalis mempertinggi kewaspadaannya, baik di kantor maupun di tempat liputannya. Jika memungkinkan, jurnalis bisa menyampakan kepada medianya untuk bekerja dari rumah.

“Kalau pun harus ke lapangan, berusahalah untuk teguh pada protokol dengan selalu memakai masker, pelindung wajah, jaga jarak, dan sering cuci tangan atau memakai hand sanitizer,” ujar Manan didampingi Sekjen Revolusi Reza.  

Manan mengingatkan, setibanya di rumah jangan lupa segera membersihkan diri untuk melindungi keluarga dan kerabat. Jika memang ada gejala yang mengarah ke Covid-19, segera sampaikan kepada keluarga, perusahaan dan jika diperlukan ke Satgas Covid-19 di daerah masing-masing.

“Agar ada upaya lebih lanjut demi mencegah penularan kepada yang lain,” ujarnya.

Hal berikutnya adalah perusahaan media harus melindungi kesehatan para pekerjanya, termasuk menyediakan alat perlindungan diri yang memadai. Sebagai alternatif pertama, media hendaknya membolehkan para pekerjanya –terutama jurnalis–  untuk bekerja dari rumah.

“Kalau pun harus masuk kantor atau liputan ke lapangan, hendaknya memastikan protokol kesehatan diikuti, yaitu dengan jaga jarak, memakai masker, pelindung wajah, sering cuci tangan atau memakai hand sanitizer,” paparnya.

Perusahaan perlu secara reguler melakukan penyemprotan dengan disinfektan. Jika memang ada pekerjanya yang memiliki gejala yang mengarah ke Covid-19, segera sampaikan kepada pekerja yang lain agar mereka yang pernah kontak bisa melakukan pemeriksaan atau isolasi mandiri.

“Jika diperlukan, media bisa melaporakan ke Satgas Covid-19 untk mencegah penularan kepada yang lain,” tandasnya.

Manan memaparkan, pemerintah hendaknya bersikap lebih preventif untuk mencegah penularan di kalangan pekerja media antara lain dengan meminimalisir kegiatan yang mengudang wartawan untuk hadir secara langsung. Seperti yangterjadi selama ini, informasi dari pemerintah tetap bisa disampaikan kepada publik melalui media tanpa harus mengundang wartawan hadir secara fisik.

“Kalau pun tidak terhindarkan untuk mengundang wartawan secara offline, pemerintah harus memastikan protokol kesehatan dipatuhi,” tegasnya.

Manan mengatakan, pilihan untuk mengundang wartawan dalam kegiatan hendaknya dipakai sebagai alternatif terakhir. (joe)

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *