Diskusi Perempuan, Seksualitas dan Kekuasaan Pemuda Kristen Loloda

  • Whatsapp
Foto bersama Pengurus dan anggota PMPKL di Minahasa, Sulawesi Utara . Hadir Asterlita T Raha, Fasilitator Diskusi (Berdiri, keenam dari sebelah kiri).

Tondano, DetikManado.com – Persatuan Mahasiswa Pemuda Kristen Loloda (PMPKL) di Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) menggelar diskusi bertajuk Perempuan, Seksualitas dan Kekuasaan.

Diskusi ini difasilitasi Asterlita T Raha, Ketua Bidang Kajian Aksi dan Pelayanan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Tondano.

Bacaan Lainnya

Dalam paparannya, Raha membahas bagaimana kekuasaan mengintervensi seksualitas perempuan dengan meregulasikan lewat perundang-undangan. Salah satunya melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang menjadi rencana pengesahan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI). “Wacana seksualitas tak bisa dilepas dari konteks sosio-kultural zamannya, politik dan relasi kuasa sehingga perempuan menjadi pihak paling tidak diuntungkan sebab sistem patriarki telah mengakar dalam berbagai bentuk kehidupan,” kata Raha melalui aplikasi pesan singkat, Senin (30/09/2019) diterima DetikManado.com.

Raha menuturkan, perempuan diharapkan sadar dan merebut kekuasaan baik atas tubuhnya ataupun kebijakan agar tidak menjadi lumbung bersarang segala ketertindasan dan ketidakadilan. “Diskusi yang bertema perempuan teruslah dilaksanakan, agar seluruh perempuan di tanah Minahasa sadar dan secara kolektif turut serta memperjuangkan nasib dan kehidupannya sendiri,” imbuhnya.

Senada dengan Raha, Ketua PMPKL Juner Harimisa menjelaskan, agenda yang diprogramkan organisasi PMPKL khususnya dari Kompartemen Perempuan ini adalah sebuah langkah maju bagi kaum perempuan yang tergabung di dalam anggota penuh PMPKL. “Sudah seharusnya dan selayaknya hari ini kaum perempuan berbuat untuk menentang perlakukan marjinal dari dominasi hegemoni watak patriarki yang membelenggu kaum perempuan dari waktu ke waktu,” tuturnya.

Harimisa menegaskan, padahal jika meninjau historis perjuangan untuk melawan bentuk ketidakadilan, penindasan dan lain-lain, selalu ada suara kaum perempuan. Namun, kekuasaan patriarkilah yang mensubordinasi kaum perempuan lebih ke ranah-ranah domestik. “Bertolak dari hal di atas, maka saya sangat mengapresiasi kaum perempuan PMPKL untuk selalu berdiskusi tentang kaum perempuan karena prinsipnya tida ada revolusi sejati tanpa keterlibatan kaum perempuan,” ungkapnya.

Diskusi ini digelar di Perum Unima Blok C No 85 Tondano, Minahasa, Sulut, Senin (30/09/2019), mulai pukul 17.00-19.00 Wita dan diikuti anggota PMPKL. (rf)

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *