Bitung, DetikManado.com – Menjadi perawat ternyata bukan garis akhir bagi Aghata Christie Angkouw. Di balik profesinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Fungsional Perawat di RSUD Mitra Sehat, Kabupaten Minahasa Tenggara, perempuan muda ini masih menyimpan mimpi besar: menjadi seorang dosen.
Cita-cita perempuan asal Aertembaga, Kota Bitung ini bukan sekadar angan. Aghata terus membuktikannya lewat pendidikan dan pengabdian.
Lulusan cumlaude Fakultas Keperawatan Universitas Katolik (Unika) De La Salle Manado itu mengaku kecintaannya terhadap dunia kesehatan sudah tumbuh sejak aktif mengikuti berbagai kegiatan kemanusiaan. Meski perjalanan meraih impian tak selalu mudah, tekadnya tak pernah surut.
Kariernya mulai menanjak setelah dinyatakan lulus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 2021. Sejak saat itu, ia mengabdikan diri sebagai perawat di RSUD Mitra Sehat.
Tak hanya sukses dalam karier, kehidupan pribadinya juga memasuki babak baru. Pada 1 Maret 2025, Aghata resmi dipersunting anggota Polri, Mario Senduk, sehingga kini ia juga menjalankan peran sebagai ibu Bhayangkari.
Namun, kesibukan sebagai perawat dan istri anggota Polri tak membuatnya berhenti belajar.
Dengan dukungan penuh dari suami dan keluarga, Aghata memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di dua bidang sekaligus.
Ia mengambil Program Magister Ilmu Keperawatan di Universitas Karya Husada serta Magister Hukum Kesehatan di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
“Ada keinginan menjadi dosen. Jadi saya mengambil Program Studi Magister Ilmu Keperawatan dan Magister Hukum Kesehatan,” ujar Aghata, Rabu (1/7/2026).
Saat ini, studi Magister Ilmu Keperawatan yang ditempuhnya telah memasuki tahap penyusunan tesis dan jurnal ilmiah. Sebagai Wakil Ketua DPD PPNI Kabupaten Minahasa Tenggara Bidang Pendidikan dan Pelatihan, ia juga aktif mengembangkan kapasitas tenaga kesehatan.
Adapun tesis yang sedang disusunnya berjudul Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Ketepatan Early Warning System (EWS) Perawat di RSUD Mitra Sehat.
Sementara jurnal ilmiahnya mengangkat tema Factors Associated with Nurses’ Early Warning System (EWS) Scoring Accuracy and Patient Clinical Outcomes.
Bagi Aghata, menjadi dosen bukan semata mengejar profesi baru, melainkan bentuk pengabdian yang lebih luas kepada masyarakat.
Ia ingin ilmu yang dimiliki tidak berhenti pada praktik pelayanan kesehatan, tetapi juga diwariskan kepada generasi perawat berikutnya melalui dunia pendidikan dan penelitian.
“Ilmu yang bermanfaat itu dibagikan kepada orang lain dan tidak disimpan sendiri agar berguna,” tuturnya.
Semangat Aghata menjadi bukti bahwa belajar tidak mengenal batas. Di tengah kesibukan sebagai perawat, organisasi profesi, hingga mendampingi suami sebagai ibu Bhayangkari, ia terus melangkah mengejar cita-cita demi menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi dunia kesehatan dan pendidikan. (Jamal Gani)















