Usai Warga Blokade Jalan, Karyawan PT Futai Turun Aksi: Kami Juga Punya Keluarga yang Harus Dihidupi

Karyawan PT Futai saat menggelar unjuk rasa di depan kantor lurah Tanjung Merah.

Bitung, DetikManado.com– Polemik antara warga Tanjung Merah dan PT Futai Sulawesi Utara kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya masyarakat turun ke jalan menuntut perusahaan dihentikan operasionalnya akibat dugaan persoalan limbah, kini giliran para karyawan yang menyuarakan keresahan mereka.

Ratusan pekerja PT Futai menggelar aksi di depan Kantor Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari, Kota Bitung, Rabu (24/6/2026).

Bacaan Lainnya

Mereka meminta akses jalan menuju perusahaan kembali dibuka setelah ditutup warga sejak beberapa hari terakhir.

Aksi tersebut menjadi gambaran bagaimana konflik yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada masyarakat sekitar perusahaan, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh para pekerja yang menggantungkan hidup dari aktivitas industri tersebut.

Dengan membawa berbagai tuntutan, para karyawan meminta pemerintah turun tangan mencarikan solusi agar aktivitas perusahaan kembali berjalan normal.

Koodinator aksi Enric Pongoh menyampaikan , penutupan akses jalan menyebabkan kontainer pengangkut barang tidak bisa masuk maupun keluar dari area perusahaan. Akibatnya proses produksi dan pengiriman barang ekspor ikut terganggu.

Dampak yang paling dirasakan para pekerja kata dia, adalah keputusan perusahaan untuk merumahkan sementara sebagian karyawan karena aktivitas operasional tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Ia menambahkan hal tersebut membuat para pekerja berada dalam situasi sulit.

“Kontainer tidak masuk ke perusahaan. Dampaknya ke kami karena mulai hari ini kami diberhentikan sementara sampai waktu yang tidak ditentukan. Kami hanya minta blokade jalan dibuka,” kata Pongoh.

Menurutnya, aksi yang dilakukan para pekerja murni lahir dari kegelisahan karyawan yang khawatir kehilangan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ia mengatakan, pekerja tidak ingin terlibat dalam konflik antara perusahaan dan masyarakat. Namun mereka berharap pemerintah dapat melihat persoalan tersebut secara menyeluruh karena ada banyak kepala keluarga yang bergantung pada keberlangsungan aktivitas perusahaan.

“Kami tidak menerima upah saat dirumahkan. Jadi mohon nasib kami juga diperhatikan,” ujarnya.

Situasi ini memperlihatkan dua sisi berbeda dalam konflik yang sedang berlangsung di Tanjung Merah. Di satu sisi, warga menuntut lingkungan yang bersih dan terbebas dari dampak limbah yang selama ini mereka keluhkan. Namun di sisi lain, para pekerja juga menghadapi ancaman kehilangan pendapatan akibat terhentinya aktivitas perusahaan.

Sebelumnya, warga Tanjung Merah melakukan aksi demonstrasi besar-besaran dan mendesak PT Futai menghentikan operasional perusahaan sampai persoalan limbah diselesaikan. Bahkan warga sempat menutup akses yang digunakan kendaraan operasional perusahaan sebagai bentuk tekanan terhadap manajemen. (Jamal Gani)


Pos terkait