Curah Hujan Meningkat, Warga Sitaro Diminta Waspadai Potensi Lahar Hujan Gunung Karangetang

Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulut

Sitaro, Detik Manado.com — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman lahar hujan dari puncak Gunung Karangetang. Imbauan ini dikeluarkan menyusul curah hujan yang mulai mengguyur kawasan gunung api aktif setinggi 1.784 meter di atas permukaan laut tersebut.

Berdasarkan laporan pengamatan periode Senin (18/5/2026) sepanjang pukul 00.00 hingga 24.00 Wita, wilayah Gunung Karangetang mencatat curah hujan harian sebesar 14,7 milimeter dengan kondisi cuaca berawan hingga mendung basah.

Bacaan Lainnya

Penyusun Laporan Aktivitas Gunung Karangetang, Yudia Prama Tatipang, menjelaskan bahwa tumpukan material vulkanik dari erupsi sebelumnya masih berada dalam kondisi tidak stabil di sekitar puncak kawah. Kondisi ini sangat rawan runtuh dan terbawa aliran air jika dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi.

“Kami mengimbau masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai yang berhulu di puncak Gunung Karangetang untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan. Curah hujan yang tercatat sebesar 14,7 mm berpotensi memicu lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir cepat hingga ke area pantai,” ujar Yudia Prama Tatipang dalam keterangan resminya, Selasa (19/5/2026).

Selain ancaman lahar dingin, Yudia juga menyoroti potensi bahaya runtuhnya kubah lava secara tiba-tiba yang dapat memicu awan panas guguran.

“Masyarakat harus mewaspadai guguran lava dan awan panas yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Penumpukan material lava sebelumnya belum stabil dan sangat mudah runtuh, terutama mengarah ke sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya,” tambah Yudia.

Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Karangetang masih bertahan di Level II (Waspada). Secara visual, gunung lebih sering tertutup kabut tebal level 0-II hingga 0-III, sehingga asap kawah tidak dapat teramati dengan jelas dari pos pemantauan.

Dari sisi kegempaan, pos pengamatan merekam adanya aktivitas tektonik dan vulkanik yang fluktuatif. Tercatat ada 2 kali gempa hembusan dengan amplitudo 5 mm berdurasi hingga 37 detik, 1 kali gempa vulkanik dalam berkekuatan amplitudo 10 mm, serta didominasi oleh 12 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo maksimal mencapai 50 mm.

Guna mengantisipasi jatuhnya korban jiwa, PVMBG mengeluarkan rekomendasi ketat bagi warga lokal maupun wisatawan yang berada di kawasan Sitaro dilarang keras melakukan pendakian dan aktivitas apa pun di dalam zona bahaya dengan radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan).

” Larangan aktivitas juga diperluas secara sektoral ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer dari puncak kawah,” ujarnya

Dia mengatakan, warga di bantaran sungai diinstruksikan segera menjauh dan mencari tempat aman apabila terjadi hujan deras berdurasi lama di wilayah puncak gunung.

Pihak berwenang setempat bersama jajaran BPBD Sitaro terus melakukan koordinasi berkala guna memantau perkembangan visual maupun kegempaan Gunung Karangetang demi menjamin keselamatan warga di lereng gunung. (yos)


Pos terkait