CEK FAKTA: Olly Sebut Gini Ratio Minut dan Minsel Tertinggi di Sulut, Pakar Beber Data Tahun 2015-2018

  • Whatsapp
Pasangan calon Gubernur Sulawesi Utara nomor urut 3 Olly Dondokambey - Steven Kandouw.

Manado – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Debat Publik Tahap II Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara Pemilihan 2020, yang berlangsung Rabu (11/11/2020) di Hotel Mercure Tateli, Kabupaten Minahasa.

Debat kali ini mengangat tema ‘Kesejaheraan Masyarakat, Pendidikan dan Penanggulangan Kemiskinan (Ekonomi, Industri, Pendidikan, Perdagangan dan Teknologi, UMKM dan Koperasi, Gender, Disabilitas dan Anak).

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatannya, Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara nomor urut 3 Olly Dondokambey dan Steven Kandouw menyebutkan terkait indeks gini ratio di Sulut ada dua kabupaten paling tinggi.

“Ada dua kabupaten di Provinsi Sulut, gini ratio Minahasa Utara dan Minahasa Selatan paling tinggi,” ujar Olly Dondokambey.

Sementara itu, Magdalena Wullur, Dosen Fakultas Ekonomi Unsrat membeberkan data gini ratio di Sulut slang tahun 2015-2018.

Dijelaskan Magdanlena, pada tahun 2015 gini rasio Kota Kotamobagu adalah yang tertinggi sebesar 0,412 kemudian yang kedua yaitu Kabupaten Minut sebesar 0,405 dan yang ketiga tertinggi yaitu Kabupaten Minsel sebesar 0,399.

Kemudian pada tahun 2016 gini rasio Kab Minut adalah yang tertinggi sebesar 0,425 kemudian yang kedua yaitu Kota Kotamobagu sebesar 0,413 dan yang ketiga tertinggi yaitu Kota Bitung sebesar 0,389.

Pada tahun 2017 gini rasio Kota Manado adalah yang tertinggi sebesar 0,388 kemudian yang kedua yaitu Kabupaten Minsel sebesar 0,377 dan yang ketiga tertinggi yaitu Kabupaten Minahasa sebesar 0,362.

Pada tahun 2018, Manado kembali menjadi yang tertinggi yaitu sebesar 0,401 disusul Kabuapten Minsel dan Minahasa sebesar 0,397.

Rasio Gini (Gini ratio) diartikan sebagai ukuran derajad ketidakmerataan distribusi hasil pembangunan.

Semakin besar atau melebar indeks tersebut, berarti kelompok miskin lebih lambat untuk menjadi kaya, sedangkan yang sudah kaya justru lebih cepat untuk bertambah kaya.

“Jadi makin besar angkanya, makin buruk sebenarnya kesenjangannya,” jelas Magdalena. (joe)

Konten ini hasil kerja tim cek fakta dari sejumlah media yang tergabung dalam Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulut.

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait