Demo Jilid III Memanas, Warga Tanjung Merah Ultimatum PT Futai: Tutup dan Hentikan Sumber Air!

Warga Tanjung Merah saat menggelar aksi unjuk rasa di depan PT FUTAI.

Bitung, DetikManado.com – Kesabaran warga Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari, Kota Bitung, tampaknya sudah mencapai batas. Untuk ketiga kalinya, ratusan warga kembali turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa di depan PT Futai Sulawesi Utara, perusahaan pengolahan kertas yang dituding menjadi sumber pencemaran lingkungan di wilayah mereka.

Jika dibandingkan aksi-aksi sebelumnya, jumlah massa kali ini terlihat jauh lebih besar. Mereka datang dengan satu tuntutan yang sama yakni, menghentikan operasional PT Futai dan menutup perusahaan tersebut karena dianggap gagal menyelesaikan persoalan limbah yang telah lama dikeluhkan masyarakat.

Sejak siang, warga memadati pintu masuk perusahaan di Kelurahan Tanjung Merah. Spanduk-spanduk bernada protes dibentangkan. Sebagian massa bahkan meluapkan kemarahan dengan membakar ban di depan gerbang perusahaan yang dijaga aparat kepolisian.

Warga menilai berbagai upaya penyelesaian yang ditempuh selama ini tak pernah membuahkan hasil.

Mulai dari mediasi di tingkat kelurahan, kecamatan, Pemerintah Kota Bitung, DPRD Kota Bitung hingga DPRD Provinsi Sulawesi Utara, namun persoalan yang mereka keluhkan disebut tetap berulang.

Masyarakat menuding limbah perusahaan dibuang ke aliran sungai hingga menimbulkan bau busuk menyengat yang mengganggu aktivitas warga sehari-hari.

Tak hanya itu, mereka juga mengaku mengalami kerugian ekonomi akibat tanaman, ternak hingga ikan yang mati diduga karena terdampak limbah tersebut.

Keluhan serupa sebenarnya sudah berulang kali disampaikan warga sejak 2024. Bahkan persoalan ini beberapa kali menjadi agenda rapat dengar pendapat di DPRD Bitung. Dalam sejumlah forum tersebut, warga meminta perusahaan menghentikan sementara produksi hingga sistem pengolahan limbah benar-benar diperbaiki.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bitung juga pernah menyatakan pengelolaan limbah perusahaan belum berjalan maksimal dan meminta perbaikan IPAL dilakukan.

Salah satu perwakilan warga, Elsye Lengkong, mengatakan masyarakat sudah kehabisan cara untuk memperjuangkan hak mereka atas lingkungan yang bersih dan sehat.

“Kita tidak tahu lagi mau mengadu ke mana. Ke pemerintah kelurahan, kecamatan, Pemkot Bitung, DPRD Bitung sampai DPRD Provinsi sudah kita lakukan. Tapi hasilnya tetap sama. Aroma busuk masih ada dan limbah masih terus menjadi masalah. Saat ini kita hanya mengadu kepada Tuhan,” kata Elsye di tengah aksi.

Massa aksi juga meminta pimpinan perusahaan hadir langsung menemui warga dan memberikan keputusan terkait tuntutan mereka. Namun hingga aksi berlangsung berjam-jam, pimpinan PT Futai tak kunjung muncul.

Perwakilan perusahaan memang sempat menemui massa, namun hanya menyampaikan bahwa tuntutan warga akan diteruskan kepada manajemen. Jawaban tersebut justru memicu kekecewaan para demonstran.

Situasi sempat memanas ketika sejumlah warga berusaha mendekati area perusahaan dan meminta gerbang dibuka. Adu mulut hingga aksi saling dorong dengan aparat kepolisian tak terhindarkan.

Beruntung, kondisi berhasil dikendalikan sehingga bentrokan lebih besar dapat dihindari.

Kekecewaan warga semakin memuncak setelah hingga akhir aksi tidak ada satu pun pimpinan perusahaan yang menemui mereka.

Dalam pernyataan tegasnya, warga mengancam akan mengambil langkah sendiri dengan menghentikan pasokan air yang digunakan perusahaan untuk beroperasi.

“Kami minta PT Futai ditutup. Hari ini sumber air yang digunakan perusahaan dan saluran pembuangan limbahnya akan kami tutup,” tegas salah satu peserta aksi disambut sorakan massa.

Elsye menegaskan, masyarakat Tanjung Merah tidak pernah menolak investasi masuk ke daerah mereka. Namun menurutnya, investasi harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan dan hak masyarakat sekitar.

“Kami tidak pernah melarang investor masuk ke Tanjung Merah. Yang kami minta hanya satu, taat aturan dan jangan merugikan masyarakat,” ujarnya.

Menariknya, aksi kali ini juga mendapat dukungan langsung dari Lurah Tanjung Merah, Bartje Ticoalu. Di hadapan warga, Bartje secara terbuka menyampaikan kekecewaannya karena tidak ada pimpinan perusahaan yang hadir menemui masyarakat.

Ia bahkan meminta PT Futai menghentikan sementara aktivitas produksi sampai seluruh persoalan limbah dan tuntutan masyarakat ditindaklanjuti.

“Saya sebagai Lurah Tanjung Merah meminta PT Futai berhenti beroperasi terlebih dahulu sampai seluruh tuntutan masyarakat ditindaklanjuti. Pemerintah akan terus berkoordinasi dengan pihak perusahaan dan hasilnya akan kami sampaikan kepada warga,” tegas Bartje.

(Jamal Gani)


Pos terkait