Kisah Pertempuran 10 November dan Peran Bapak Brimob Polri Muhammad Yasin

  • Whatsapp
Foto Ist

“Tanpa peran M. Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa (sekarang Brimob) tidak akan ada peristiwa 10 November.” Jenderal TNI Moehammad Wahyu Soedarto, pelaku 10 November 1945

 

Bacaan Lainnya

PERINGATAN Hari Pahlawan pada 10 Nopember hampir terjadi di seluruh daerah di Indonesia. Khusus di Surabaya, peringatan dimeriahkan dengan Parade Juang di salah satu sudut kota. Dalam parade tersebut digambarkan semangat pertempuran “arek-arek Suroboyo” mempertahakan kemerdekaan dan kedaulatan negerinya.

Bung Tomo “Di saat kota-kota lain memilih memberikan dan membakar kotanya sendiri, arek-arek Suroboyo memilih mempertahankan kotanya sampai titik darat penghabisan.“

Orasi Bung Tomo dan pekik Allahu Akbar berhasil membakar semangat arek-arek Suroboyo saat itu. Pertempuran 10 Nopember tercatat sebagai salah satu perang terdahsyat dalam sejarah Indonesia modern. Perang yang tidak seimbang tetapi dalam rangkaian konflik bersenjata yang mencapai puncak pada 10 Nopember tersebut, telah memalukan pihak sekutu (Inggris) dengan matinya dua orang jenderal yang dimiliki oleh pihak sekutu. (Mallaby dalam konflik bersenjata di Jembatan Merah Surabaya dan Loder Symon dalam pertempuran 10 Nopember).

Tidak banyak yang mengetahui bagaimana proses rangkaian peristiwa 10 Nopember. Arek-arek Suroboyo tergerakkan untuk mempertahankan kedaulatannya sampai mati sekalipun. Para ulama juga memiliki peran yang sangat signifikan. Melalui seruan Resolusi Jihadnya saat itu dianggap sebagai faktor yang paling kuat mampu menyatukan seluruh penduduk kota dan datangnya para santri dari berbagai daerah dalam membantu mempertahankan kota Surabaya.

Sebelumnya kota ini diultimatum untuk segera dikosongkan dan penduduk harus melucuti semua persenjataan. Ketidakpatuhan pada ultimatum tersebut, maka sekutu akan menepati janjinya membumihanguskan Surabaya dari segala arah penjuru.

Adalah Muhammad Jasin, seorang polisi yang dikenal jujur dan rendah hati. Ia adalah sosok lain polisi jujur dan berani selain yang paling dikenal, yaitu Jenderal Hoegeng. Jasin adalah sorang pria asal Baubau, Buton – Sulawesi Tenggara. lahir pada tanggal 9 Juni 1920. Sosok yang rendah hati namun tidak sepopuler tokoh-tokoh di masanya.

Di awal kemerdekaan, pada tanggal 21 Agustus 1945, Jasin bertindak sebagai inspektur dalam memimpin apel pagi di Surabaya. Inspektur Moehammad Jasin adalah pemimpin Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsu Tai), salah satu kekuatan tempur militer hasil bentukan Jepang.
Dalam apel tersebut, Jasin bersama pasukan mendeklarasikan diri bergabung dan menjadi Polisi Republik Indonesia serta ikut dalam perjuangan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Momen di tempat itu kemudian diabadikan menjadi markas Polisi Istimewa, Jalan Coen Boelevard serta menjadi nama Jalan Polisi Istimewa di Surabaya. Dalam perjalanan karirnya, Jasin mendirikan Brimob yang menjadi salah satu brigadir tempur mematikan dan ia kemudian dikenal sebagai Bapak Brimob Indonesia. Jasin-2Di penghujung tahun 1945, situasi di Surabaya di antara tokoh-tokoh militer cukup panas.

Saat itu terjadi aksi culik-menculik dan saling bunuh di antara pihak-pihak militer yang masih bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Republik Indonesia. Yang menjadi Komandan Polisi TKR (PTKR) Karesidenan Surabaya adalah Mayor Sabarudin. Sabarudin dikenal sebagai orang berperangai koboi, mudah sekali membunuh orang-orang yang dianggap mata-mata serta dianggap mengkorupsi dana perjuangan (ntmc-polri). Di bawah perintah langsung Jenderal Soedirman, Jasin berhasil menggerebek dan menangkap Mayor Sabarudin tanpa perlawanan.

Jasin memiliki peran penting dalam pertempuran 10 Nopember. Perlu diketahui, PRI pada masa awal kemerdekaan menjadi satu-satunya kekuatan tempur tinggi yang belum dilucuti Jepang. Jasin bersama pasukannya menghadapi pasukan sekutu yang mendarat di Tanjung Perak Surabaya.

Dalam insiden di Hotel Yamato serta pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya, Jasin mendorong pasukannya yang tergabung dalam PRI melancarkan serangan dengan taktik perang gerilya. Bung Tomo dalam satu kesempatan mengatakan bahwa Jasin tampil memimpin Pasukannya untuk mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya (historia). Dalam buku memoar Jasin, disebutkan bahwa Pasukan Polisi Istimewa dibawah komandonya berperan sangat heroik dalam pertempuran Surabaya. Jasin juga dikenal sebagai sosok yang sangat berani dalam pertempuran. Menerobos desingan peluru dan berhasil menghentikan serangan tembak menembak.

Dalam memoar Jasin Sang Polisi Pejuang, sosoknya sangat dihormati baik di pihak kepolisian maupun pihak TNI. Ia banyak berperan dan berhasil menumpas peristiwa pemberontakan di Indonesia serta meredam konflik antara kepolisian (Brimob) dengan TNI. Dalam memoar tersebut, diceritakan Jasin pernah memiliki kesan yang sangat haru dan tidak bisa melupakan bentuk penghormatan yang diberikan padanya.

Adalah Prabowo Subianto, pada peringatan HUT Polri ke-50 pada 1 Juli 1995 turut hadir dan duduk di posisi yang dekat dengan tempat duduk Jasin. Ketika melalui pengeras suara disebutkan nama Jasin dan kiprahnya yang patriotik bagi Republik Indonesia, tanpa disangka-sangka Prabowo muda mendekat ke kursi Jasin dan secara spontan memberikan penghormatan dalam sikap sempurna. Tindakan Prabowo itu kemudian diikuti oleh hampir seluruh Jenderal, Laksama dan Marsekal yang hadir (kisah panglima legendaris). Kisah ini diceritakan dalam buku “Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisan Indonesia”, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2010. Jasin wafat pada Kamis, 3 Mei 2012 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bersama empat tokoh lainnya pada tanggal 4 Nopember 2015 lalu.

Beberapa pendapat patah tokoh terhadap kiprah M Jasin dalam perjuangannya melawan penjajah, diantaranya Jenderal TNI Moehammad Wahyu Soedarto, “Tanpa peran M. Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa (sekarang Brimob) tidak akan ada peristiwa 10 November.”

“Tindakan Inspektur I Moehammad Jasin untuk mempersenjatai Rakyat Pejuang telah memberikan andil yang cukup besar dalam gerak maju para pejuang kemerdekaan di Surabaya, yang kemudian mencapai puncaknya dalam pertempuran heroik di Surabaya tanggal 10 Nopember 1945”. (Jendral TNI Tri Sutrisno)

“PETA diharapkan dapat mendukung perjuangan di Surabaya tahun 1945, tetapi PETA membiarkan senjatanya dilucuti oleh Jepang, untung ada Pemuda M. Jasin dengan pasukan-pasukan Polisi Istimewanya yang berbobot tempur mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya. (Bung Tomo)

M. Jasin dan Pasukan-Pasukan Polisi Istimewa mendahului yang lain muncul di medan juang Surabaya tahun 1945 dan karena itu Pasukan Polisi ini adalah modal pertama perjuangan.” (DR. H. Roeslan Abdulgani)

Komisaris Jenderal Polisi Dr H. Mohammad Yasin, yang juga yang dikenal sebagai Bapak Brimob Polri, merupakan putra Sulawesi, lahir di Baubau, Sulawesi Tenggara, 9 Juni 1920, kemudian menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 pukul 15.30 WIB, di RS Polri Kramat Jati, almarhum mengahiri pejalanan hidupnya diusia 92 tahun, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Mohammad Yasin, mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, diera kepemimpinan Presiden Joko Widodo, berdasarkan Keputusan Presiden, Nomor 116/TK/Tahun 2015 pada tanggal 5 November 2015. (Tim Redaksi/Dikutip dari berbagai sumber/Catatan La Januar)

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *