Dari Keamanan Menuju Kepercayaan : Jalan Panjang Pengabdian Polri
Manado, DetikManado.com – Kehadiran Polri di tengah kehidupan masyarakat Indonesia sangat diperlukan, untuk memberikan rasa aman dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Persoalan Keamanan dan ketertiban kerap kali menjadi sorotan yang tak kunjung berakhir.
Namun dibalik kritikan dan hujatan itu, ada insan-insan Polri yang terus berjuang, mengabdi dan melayani untuk masyarakat. Dengan dedikasi tanpa batas, bahkan harus mengorbankan waktu, keluarga dan bahkan nyawa adalah taruhan untuk sebuah pengabdian bagi masyarakat.
Jalan panjang pengabdian seorang anggota Polri bukanlah hal yang mudah, banyak persoalan yang merintangi. Hanya keteguhan hati dan rasa cinta yang dapat menggerakan sebuah pengorbanan demi keutuhan masyarakat Indonesia.
Hal inilah yang ditunjukan personil Polda Sulawesi Utara sebagai wujud suatu pengabdian di bidang kemanusiaan, pendidikan hingga menjaga keutuhan wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Filipina.

Cerita Aiptu Deyidi Mokoginta dari Pasukan hingga Jadi Seorang Dosen
Pengabdian untuk negeri itu diceritakan Aiptu Deyidi Mokoginta yang saat ini menjadi Pamin Subbagrenmin Biro Logistik Polda Sulut. Dirinya adalah salah satu dari ribuan anggota Polri yang memenuhi panggilan pertiwi untuk sebuah keutuhan bangsa. Sewaktu menjadi anggota Brimob Aiptu Deyidi Mokoginta, harus meninggalkan keluarga dan kekasihnya untuk bertugas di Ambon, Provinsi Maluku, pada tahun 2003.
“Waktu itu terjadi konflik horizontal dan pemerintah mengeluarkan status darurat sipil,”tuturnya.
Saat bertugas, dirinya bersama 1 SSK Brimob Polda Sulut yang tergabung dalam Satgas Operasi Mutiara Amon VII, sebagai anggota yang saat ini masih berpangkat Bripda, dia dan rekan sepeletonnya harus berpindah-pindah pos di daerah yang dianggap rawan, dimana nyawa harus menjadi taruhan demi keutuhan bangsa.
“Waktu itu, wilayah yang paling rawan ada di Desa Tantui, Aboru, dan Nania,” terangnya.
Dirinya juga menceritakan saat bertugas di Pos Pulau Haruku yakni di Desa Aboru, dimana pos mereka hanya diterangi lampu petromax pada malam hari karena pasokan listrik hanya siang hari.
“Di desa tersebut tidak ada alat telekomunikasi seperti Wartel apalagi Handphone sehingga kami harus ke Pulau Saparua untuk memberikan laporan ke Ambon,” kenangnya.
Di tengah konflik horizontal tersebut, dirinya harus bijak melihat situasi demi keselamatan warga dan pasukan Brimob saat itu.
“Kami harus memberikan rasa aman sehingga warga dapat beraktivitas seperti biasa,”kata Deyidi.
Atas dedikasi para pasukan Korps Brimob yang tergabung dalam Sargas Operasi Mutiara VII tersebut, para anggota satgas termasuk Bripda Deyidi Mokoginta memperoleh penghargaan berupa Satya Lencana Dharna Nusa dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005.
Lanjutkan Studi Jadi Cikal Bakal Berkontribusi di Dunia Akademis
Setelah menjalani masa kedinasan selama 16 tahun di Satuan Brimob, dirinya ditarik ke markas Polda Sulut dan bertugas di Biro Logistik.
“Saya kemudian melanjutkan studi dan meraih gelar S1 Universitas Teknologi Sulut dan S2 di Unsrat Manado,” bebernya.
Inilah yang menjadi cikal bakal dirinya berkontribusi di dunia akademis. Karena kecerdasannya di bidang teknologi dirinya mendapat kepercayaan menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Teknik Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU).
“Saya mengajar komputer di jurusan Teknik Elektro konsentrasi Informatika,” ungkap Deyidi.
Dia juga berbagi pengalaman saat menjadi seorang dosen, dimana harus terus belajar dan mengasah skill karena perkembangan teknologi yang sudah semakin maju setiap hari.
“Kalau tidak belajar nanti mahasiswa yang akan lebih pintar dari dosen,” candanya.
Selama menjadi seorang dosen di UTSU, dia melihat daya serap mahasiswa terhadap materi kuliah sangat baik seperti kemampuan memahami dan menguasai informasi yang diberikan.
“Daya serap mereka sangat bagus karena belajar teori dan praktek,” tambahnya.
Hal ini dibuktikan dengan banyak mahasiswa jurusan Teknik Elektro UTSU yang mendapat pekerjaan usai lulus dari kampus.
“Banyak dari mereka yang bekerja di Instansi pemerintahan dan swasta,” ungkapnya.
Selama menjadi seorang dosen Aiptu Deyidi Mokoginta telah menulis 3 buku yaitu Pengantar Teknik Elektro, Pengantar Aplikasi Komputer dan Pengantar Teknologi Informasi.
“Ketiga buku ini juga telah saya daftarkan di Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HAKI),” terang Deyidi.
Tak berhenti disitu dirinya bersama beberapa temannya atau yang biasa disebut Chapter Book telah menulis buku diantaranya Operation Reserch, Pendidikan dalam Transformasi Digital, Manajemen Logistik, serta Kecerdasan Buatan.
“Ilmu pengetahuan di bidang informatika terus berkembang, kalau satu tahun saja tidak belajar mengikuti perkembangan aplikasi, maka akan tertinggal jauh,” ujarnya.
Tak hanya itu, di saat banyak dosen di tanah air yang kesulitan lulus sertifikasi dosen atau serdos, ternyata Mokoginta sudah menyandang status sebagai dosen tersertifikasi sejak tahun 2024 lalu.
“Saya lulus sertifikasi dosen tahun 2024, dan sudah punya sertifikat pendidik yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi,’ tutup Mokoginta.
Sisihkan Gaji Bantu Masyarakat
Selain terjun ke dunia pendidikan, saat Pandemi Covid-19, Aipda Deyidi Mokoginta ST MSi juga menyisihkan 50 persen gajinya untuk membantu masyarakat.
Pria yang akrab disapa Dedy ini mendatangi beberapa asrama mahasiswa dari Timur Indonesia yang ada di Kota Manado, dan memberikan bantuan berupa beras premium.
Adapun asrama yang didatanginya yaitu Asrama Mahasiswa asal Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku, dan Asrama Mahasiswa asal Kota Ternate, Maluku Utara.
“Hal itu saya lakukan semata-mata ingin membantu para mahasiswa yang mengalami kesulitan akibat pandemi Covid-19. Saya dengar ada mahasiswa yang makan satu bungkus mie instan untuk empat orang, karena mereka belum mendapat kiriman dari orang tua, maupun bantuan dari pemerintah,” jelasnya.
Selain mahasiswa, dirinya juga memberikan bantuan beras premiun kepada sejumlah Lansia di Kelurahan Singkil II, Lingkungan 3, Kecamatan Singkil, Kota Manado.
“ini merupakan bentuk kepedulian saya terhadap sesama karena masih banyak saudara-saudara kita di luar sana yang membutuhkan perhatian kita,”ucapnya.

Dampingi Warga di Tengah Musibah Banjir
Dedikasi untuk kemanusian juga dibuktikan oleh Ipda Fegy Lumantouw SH, Kapolsek Kakas, Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, yang berjuang tak kenal lelah dalam melayani masyarakat di tengah kondisi banjir.
“Kami hadir bukan hanya untuk menjaga situasi, tetapi juga memberi rasa aman dan semangat. Ini bagian dari tugas kemanusiaan,” ujar Lumantow.
Akibat cuaca buruk air Danau Tondano meluap, mengakibatkan puluhan rumah di Desa Tounelet, Paslaten, dan Kaweng, Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 30–75 cm.
“Jalur transportasi lumpuh dan aktivitas ekonomi nyaris terhenti. Namun di tengah keterbatasan, warga tetap bergerak cepat,” kata Egy.
Akibatnya, warga harus mengungsi ke tempat lebih aman. Ipda fegy bersama personil jajaran membuat sebuah Posko darurat untuk warga.
“Posko ini bukan sekadar tempat perlindungan, melainkan juga simbol keteguhan hati dan rasa solidaritas untuk warga terdampak,” tuturnya.
Dialog bersama Warga untuk Bangun Kepedulian dan Jaga Persaudaraan
Selain itu, Ipda Fegy juga kerap kali berdialog dengan warga untuk mendengar secara langsung keluhan warga terkait masalah keamanan dan ketertiban di masyarakat.
“Setiap hari Minggu usai ibadah di gereja, saya berdialog dengan warga dengan pendekatan persuasif dan penuh kekeluargaan,”tambahnya.
Dirinya mengajak masyarakat untuk saling peduli, menjaga persaudaraan dan membangun komunikasi yang sehat antar warga.
“Kami hadir bukan sekedar memberi arahan tetapi menjadi pendengar dan mitra yang membangun sehingga warga merasa dihargai karena Polisi hadir bukan dengan tekanan tetapi dengan ketulusan,”ucap Fegy.

Bertarung dengan Ombak, Bripka Melky Kasiala Tak Menyerah Demi Pengabdian di Ujung Negeri
Pengabdian sejati tak mengenal batas, bahkan ketika harus berhadapan dengan badai, gelombang tinggi, dan hujan lebat di tengah lautan. Itulah yang dijalani oleh Bripka Melky, seorang personel Polri yang bertugas di Kepolisian Resor Kabupaten Kepulauan Talaud.
Tugasnya bukan hanya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga menjadi garda terdepan saat warga mengalami musibah di wilayah perbatasan Indonesia. Dalam kesehariannya, Bripka Melky kerap menghadapi tantangan berat, seperti mengevakuasi korban kecelakaan lalu lintas antar pulau, melakukan patroli keamanan laut, hingga menjawab panggilan tugas mendadak ke Manado dalam cuaca yang tak menentu.
“Cuaca di laut itu sulit diprediksi. Kadang tenang, tapi bisa berubah jadi badai dalam hitungan menit, sehingga kami tidak bisa memilih cuaca. Tetapi hanya bisa memilih untuk tetap bertugas dengan sepenuh hati,” tambahnya.
Salah satu pengalaman yang tak pernah ia lupakan adalah ketika mendampingi Kapolres Talaud menuju Pulau Karatung untuk menghadiri upacara adat ‘Mane’e’—sebuah tradisi unik menangkap ikan bersama yang dilakukan oleh masyarakat setempat.















