Manado, DetikManado.com — Pagi di Kelurahan Ranomuut, Senin (29/12/2025), tidak menyisakan kehangatan matahari seperti biasanya. Di tepi tebing Kecamatan Paal 2 itu, bau hangus masih menyengat tajam, menyeruak dari reruntuhan bangunan yang semalam masih bernama Panti Werda Damai.
Kini, “damai” itu telah terusik oleh tragedi.
Di antara puing-puing bangunan yang telah menjadi arang, pemandangan paling menyayat hati bukanlah tembok yang runtuh, melainkan deretan rangka kursi roda yang menghitam. Benda-benda itu berdiri kaku, menjadi saksi bisu detik-detik terakhir 16 lansia yang tak kuasa menyelamatkan diri saat api melahap tempat tinggal mereka pada Minggu (28/12/2025) malam.
”Mereka para lansia tidak dapat berbuat banyak,” ujar seorang warga setempat dengan suara bergetar, memandangi sisa kebakaran. “Sebagian hanya bisa terduduk di kursi roda hingga api membakar.”
Kalimat itu menggambarkan kepasrahan yang mengerikan. Bagi para penghuni panti, kursi roda adalah kaki mereka. Namun, ketika jago merah mengamuk sekitar pukul 20.31 Wita, kaki-kaki itu tak cukup cepat untuk membawa mereka lari. Semua barang milik mereka, kenangan yang tersisa di masa tua, ikut lebur menjadi abu.
Tebing dan Lorong Sempit: Tantangan Sang Penyelamat Tragedi ini bukan hanya soal api, tapi juga soal akses. Lokasi panti yang berada di tepi tebing dengan akses lorong yang sempit menjadi penghalang fatal bagi upaya penyelamatan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Manado, Charles Jemmy Rotinsulu, mengungkapkan betapa peliknya perjuangan malam itu. Sebanyak 25 personel dengan lima unit armada pemadam dan satu sepeda motor dikerahkan, namun medan berkata lain.
”Proses pemadaman dan evakuasi cukup sulit karena lorongnya sempit,” ungkap Charles. Timnya butuh waktu hampir satu jam berjibaku menjinakkan api dan menembus akses yang terbatas itu. Namun, bagi 16 penghuni panti, waktu tersebut adalah jeda antara hidup dan mati yang terlambat dimenangkan.
Garis Polisi dan Duka yang Tersisa.
Hingga Senin pagi, puluhan aparat kepolisian telah memadati lokasi, memasang garis polisi, dan mulai menyusun kepingan teka-teki penyebab kebakaran. Sementara itu, 16 jenazah telah dibawa ke RS Bhayangkara Manado, dan tiga korban luka bakar kini berjuang untuk pulih di RSUD Kota Manado.
Di Ranomuut, api memang telah padam. Namun, bayangan tentang kursi-kursi roda yang tak sempat bergerak itu akan membekas lama, menjadi monumen kesedihan di ujung tebing yang sunyi. (yos)















