Bitung, DetikManado.com — Langkah Anggota DPRD Kota Bitung, Rafika Papente yang melakukan blusukan di Manembo Nembo Atas malah menuai kritik.
Pernyataan politisi PDI Perjuangan ini yang mengatakan masyarakat sudah “muak” dengan reses justru dinilai sebagai tamparan balik bagi dirinya sendiri dan lembaga DPRD.
Pasalnya, reses merupakan kewajiban resmi anggota dewan untuk menyerap aspirasi rakyat. Ketika kegiatan itu disebut tidak diminati dan bahkan membuat masyarakat jenuh. Publik menilai hal tersebut sebagai bukti nyata kegagalan para legislator dalam memperjuangkan aspirasi warga lewat reses yang setiap tahun dilakukan.
“Kalau rakyat muak, berarti bukan rakyat yang salah. Itu bukti mereka kecewa karena aspirasi hanya dikumpulkan, tapi tidak pernah diwujudkan,” ungkap warga dengan nada kesal saat mendengar pernyataan Rafika.
Warga pun menilai, pernyataan yang dilontarkan Rafika Papente juga dianggap sebagai bentuk cuci tangan atas mandeknya realisasi Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD. Padahal, sebagai wakil rakyat kata warga, Rafika memiliki peran penting dalam mengawal setiap usulan hingga masuk dan direalisasikan dalam APBD.
“Kalau masyarakat muak itu artinya kinerja DPRD tidak becus.
Faktanya banyak Pokir tidak terealisasi. Seharusnya ini menjadi bahan evaluasi serius, dan aspirasi masyarakat tidak berhenti di atas kertas,” pinta warga.
Sebelumnya, Rafika menyampaikan dirinya memilih melakukan blusukan karena menurutnya, masyarakat sudah muak dengan reses yang dilaksanakan oleh anggota legislatif dengan metode tatap muka.
“Masyarakat sudah muak dengan reses, coba lihat sendiri bagaimana antusiasme mereka yang semakin minim datang ke kegiatan reses. Jadi saya melakukan blusukan dan menyambangi konstituen langsung ke rumah rumah mereka,” kata Rafika kepada sejumlah awak media.
(Jamal Gani)















