Bitung, DetikManado.com – Meski Kongres Asosiasi Kota (Askot) PSSI Bitung periode 2027-2031 masih akan digelar tahun depan, dinamika perebutan kursi ketua mulai menarik untuk dibahas.
Sejumlah figur mulai diperbincangkan sebagai calon kuat yang berpotensi memimpin organisasi sepak bola tertinggi di Kota Bitung.
Saat ini setidaknya ada tiga nama yang disebut-sebut memiliki peluang besar maju dalam proses seleksi Ketua Askot PSSI Bitung. Mereka adalah Frando Maringka, Abigail Sigarlaki, dan Petra Watuna.
Ketiganya dinilai memiliki modal, jaringan, dan sumber daya yang berbeda untuk melanjutkan kepemimpinan yang saat ini masih dipegang Geraldi Mantiri.
Frando Maringka dikenal sebagai pengusaha muda di sektor perikanan yang cukup dekat dengan dunia sepak bola. Namanya mulai mendapat perhatian setelah Trimar FC yang dibinanya sukses menjuarai kompetisi Youth Kampis 2023.
Selain memiliki pengalaman dalam pembinaan sepak bola, Frando juga memiliki jaringan yang kuat di lingkungan pemerintahan. Ia merupakan kakak kandung Wakil Wali Kota Bitung Randito Maringka.
Sementara itu, Abigail Sigarlaki hadir dengan latar belakang sebagai anggota DPRD Kota Bitung dari Partai Demokrat. Politisi muda tersebut dinilai memiliki kemampuan membangun komunikasi dan sinergi dengan pemangku kebijakan, termasuk dalam mendorong dukungan terhadap pembinaan dan kompetisi sepak bola daerah.
Di sisi lain, Petra Watuna dianggap sebagai representasi generasi muda yang memiliki pengalaman organisasi cukup luas. Sosok muda energik itu diyakini mampu membawa warna baru dalam tata kelola organisasi sekaligus mendorong lahirnya program-program pembinaan yang lebih progresif.
Wakil Ketua Askot PSSI Bitung Marsel Tatuil mengatakan pihaknya terbuka terhadap siapa saja yang memiliki niat baik untuk membangun sepak bola Kota Bitung.
“Kami ingin kepemimpinan baru mampu memajukan pembinaan usia dini, meningkatkan kualitas kompetisi, dan memajukan prestasi sepak bola Bitung,” kata Marsel, Jumat (12/6/2026).
Menurut Marsel, PSSI bukan sekadar organisasi yang menaungi klub-klub sepak bola. Lebih dari itu, PSSI merupakan rumah besar bagi seluruh insan sepak bola di Kota Bitung.
Ia juga mengungkapkan bahwa proses penentuan Ketua Askot PSSI Bitung mendatang akan berbeda dibanding periode sebelumnya. Hal itu menyusul pemberlakuan Statuta PSSI 2025 yang membawa sejumlah perubahan dalam struktur organisasi sepak bola nasional.
Salah satu perubahan yang menjadi sorotan adalah dihapusnya posisi Exco PSSI Provinsi dan diberikannya kewenangan kepada Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) untuk menetapkan Ketua Askab maupun Askot melalui mekanisme panitia seleksi.
“Dengan aturan baru tersebut, pemilihan Ketua Askab dan Askot tidak lagi dilakukan melalui voting seperti sebelumnya. Penunjukan dilakukan oleh Ketua Asprov berdasarkan rekomendasi panitia seleksi yang dibentuk khusus untuk menyeleksi calon,” ujar Marsel.
Perubahan mekanisme itu membuat persaingan menuju kursi Ketua Askot PSSI Bitung diperkirakan akan berlangsung lebih ketat. Jika sebelumnya kandidat harus menggalang dukungan klub-klub pemilik suara, kini rekam jejak, kapasitas, integritas, dan visi pengembangan sepak bola menjadi faktor yang akan mendapat perhatian lebih besar dalam proses seleksi.
(Jamal Gani)















