Oleh: Ester Tiara Oktalia Br Simbolon*
Setiap tahun, ribuan mahasiswa di seluruh Indonesia mengenakan toga dan merayakan kelulusan dengan harapan yang sama: mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, harapan itu tidak selalu berjalan sesuai kenyataan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Februari 2025 jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang. Angka ini bahkan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Di tengah bertambahnya jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun, fakta tersebut memunculkan pertanyaan penting: mengapa pengangguran masih bertambah ketika semakin banyak anak muda berhasil menempuh pendidikan tinggi?
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, pendidikan tinggi masih dianggap sebagai jalan utama untuk memperbaiki taraf hidup. Banyak orang tua rela bekerja keras agar anak-anak mereka bisa mengenyam bangku kuliah dengan harapan setelah lulus akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Sayangnya, kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa gelar sarjana tidak lagi menjadi jaminan untuk memasuki dunia kerja.
Fenomena ini dapat dengan mudah ditemukan di sekitar kita. Tidak sedikit lulusan baru yang harus mengirim puluhan bahkan ratusan lamaran kerja sebelum mendapatkan panggilan wawancara. Ada pula yang sudah lulus berbulan-bulan tetapi belum memperoleh pekerjaan tetap. Di media sosial, keluhan para fresh graduate tentang sulitnya mencari pekerjaan juga semakin sering muncul. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengangguran terdidik bukan sekadar cerita individu, melainkan masalah yang sedang dihadapi banyak anak muda Indonesia.
Salah satu penyebab yang sering disorot adalah adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Selama bertahun-tahun mahasiswa dibekali teori dan pengetahuan akademik di ruang kelas. Namun ketika memasuki dunia kerja, perusahaan tidak hanya melihat nilai akademik atau IPK. Mereka juga mencari kandidat yang memiliki keterampilan praktis, kemampuan berkomunikasi, pengalaman kerja, kemampuan beradaptasi, serta penguasaan teknologi digital.
Tidak sedikit lulusan baru yang merasa kesulitan memenuhi persyaratan perusahaan karena minim pengalaman kerja. Di sisi lain, banyak lowongan pekerjaan yang mensyaratkan pengalaman satu hingga dua tahun untuk posisi yang sebenarnya ditujukan bagi lulusan baru. Akibatnya, para sarjana muda terjebak dalam situasi yang membingungkan: mereka membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh pengalaman, tetapi perusahaan justru meminta pengalaman sebelum mereka diterima bekerja.
Selain itu, perkembangan teknologi juga mengubah kebutuhan tenaga kerja secara signifikan. Digitalisasi dan otomatisasi membuat sejumlah pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih efisien menggunakan teknologi. Akibatnya, perusahaan menjadi lebih selektif dalam merekrut karyawan. Persaingan pun semakin ketat karena jumlah pencari kerja terus bertambah setiap tahunnya.
Masalah lainnya adalah pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi yang tidak selalu diimbangi dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan. Setiap tahun, kampus-kampus di Indonesia meluluskan ratusan ribu sarjana baru. Sementara itu, kesempatan kerja yang tersedia tidak berkembang dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, persaingan antar pencari kerja menjadi semakin tinggi.
Menurut saya, persoalan ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada para lulusan. Banyak anak muda yang telah berusaha meningkatkan kemampuan mereka melalui organisasi, magang, pelatihan, hingga sertifikasi tambahan. Namun ketika lapangan pekerjaan yang tersedia tidak mampu menyerap jumlah pencari kerja yang terus bertambah, maka persoalan ini sudah menjadi masalah yang lebih besar daripada sekadar kualitas individu.
Karena itu, perguruan tinggi perlu lebih aktif menjembatani mahasiswa dengan dunia kerja. Program magang, pelatihan keterampilan, sertifikasi profesi, serta kerja sama dengan industri harus diperkuat agar mahasiswa memiliki bekal yang lebih relevan sebelum lulus. Di sisi lain, pemerintah juga perlu mendorong penciptaan lapangan kerja baru melalui investasi, pengembangan industri, serta dukungan terhadap sektor usaha yang mampu menyerap tenaga kerja muda.
Pada akhirnya, meningkatnya pengangguran terdidik menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya lulusan yang dihasilkan setiap tahun. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa pendidikan mampu membekali generasi muda dengan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Sebab tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga membantu mereka memperoleh kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Jika jumlah sarjana terus bertambah sementara kesempatan kerja tidak berkembang secara seimbang, maka kita perlu mulai mempertanyakan apakah sistem pendidikan dan dunia kerja di Indonesia sudah berjalan dalam arah yang sama. Jangan sampai gelar sarjana yang selama ini dianggap sebagai simbol harapan justru berubah menjadi simbol kekecewaan bagi banyak anak muda. ***
*Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi, Universitas Medan Area














