Diskursus Seks dan Pemerkosaan (Evil Sexsual Predator)

Asterlita T Raha.

Oleh : Asterlita T Raha *

“Rape is not about sex, it is about power” (Rocky Gerung).

Bacaan Lainnya

REYNHARD Sinaga kini memecahkan kendi dalam catatan sejarah United Kindom sebagai pelaku pemerkosaan terbanyak. Hampir mencapai 200 korban, maka predikat ‘predator seksual’ sangat pantas disematkan hingga diberi visa mendekam seumur hidup di prodeo Britania Raya.

Kecaman datang dari segala penjuru dunia, tak ketinggalan para ‘homophobic’ di Indonesia menggunakan momentum ini untuk menyerang kaum LGBT, padahal banyak penelitian telah membuktikan tidak ada pertautan antara orientasi seksual dan pemerkosaan, sebab antara orientasi heteroseksual dan homoseksual mempunyai riwayat kelam tentang pemerkosaan.

Pada tahun 2011 Reymond A. Knight, Ph.D. (Brandeis University) mempresentasikan hasil penelitiannya dalam metode etiologi untuk meneliti para pelaku pemerkosaan berjudul “Preventing Rape: What the Research Tells Us”  mengungkapkan bahwa pelaku pemerkosa bukan tidak bisa menggendalikan nafsu, bukan karena keinginan seksual yang tidak bisa dikontrol, melainkan karena fantasi kekuasaan untuk menaklukkan tubuh seseorang secara seksual. Artinya tak ada landasan rasional ketika mengkambing-hitamkan kaum LGBT karena kasus Reynhard.

Komentar Facebook

Pos terkait