Gempa M 6,7 Guncang Sulawesi Tengah: Jembatan Palu Retak, Gunung Kamarora Longsor

Oplus_16908288

Palu, DetikManado.com — Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) pagi pukul 10.27 Wita, memicu kerusakan infrastruktur di empat kabupaten/kota. Selain meretakkan fasilitas publik, gempa darat ini juga memicu tanah longsor.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episenter gempa berpusat di darat, berjarak 42 kilometer tenggara Kota Palu dengan kedalaman dangkal 10 kilometer.

Bacaan Lainnya

Dampak guncangan dilaporkan paling terasa di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, hingga Kabupaten Poso. Di Kota Palu, fasilitas vital Jembatan 3 Palu dilaporkan mengalami keretakan dan beberapa bangunan roboh.

Situasi cukup parah juga terjadi di Kabupaten Sigi, di mana sejumlah bangunan runtuh, saluran air bersih warga terputus, dan Gunung Kamarora dilaporkan mengalami longsor. Sementara di Parigi Moutong dan Poso, kerusakan bangunan serta kerusakan akses jalan (jalur Napu) mulai teridentifikasi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah, Ir. Asbudianto ST MSi, menyatakan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim ke seluruh titik terdampak.

“Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusdalops dari BPBD Kota Palu, Sigi, Parigi Moutong, hingga Poso sudah langsung turun ke lapangan untuk melakukan assessment cepat. Prioritas kami saat ini adalah memetakan titik kerusakan dan memastikan keselamatan warga,” ujar Asbudianto pada, Selasa (16/6/2026) siang.

Hingga pukul 13.38 Wita, BPBD mencatat telah terjadi 42 kali gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo bervariasi, termasuk satu kali gempa susulan yang mencapai Magnitudo 5.

Terkait jumlah pengungsi dan kemungkinan adanya korban jiwa, Asbudianto menegaskan bahwa semuanya masih dalam proses pendataan intensif di lapangan. Kendati demikian, ia memastikan situasi secara umum di empat wilayah tersebut masih aman dan kondusif.

“Kami meminta masyarakat untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Mengingat grafik gempa susulan masih fluktuatif—sudah 42 kali terjadi hingga siang ini—kami mengimbau warga menghindari bangunan yang retak atau sudah tidak stabil sampai situasi benar-benar dinyatakan aman,” tambah Asbudianto.

Hingga berita ini diturunkan, BPBD Provinsi Sulteng belum merilis adanya kebutuhan mendesak yang diperlukan di lapangan, sementara koordinasi lintas sektor terus diperketat untuk mengantisipasi dampak lanjutan. (yos)

 


Pos terkait