Pemberdayaan Bumdes Melalui Aplikasi Teknologi Microgreen Guna Mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Dimembe

Pelaksanaan Pelatihan dan Pendampingan.

ABSTRAK

Inovasi teknologi dalam sektor pertanian menjadi kunci untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kemandirian ekonomi masyarakat desa, khususnya melalui lembaga seperti Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah menuntut ketersediaan pasokan pangan lokal yang berkualitas, berkelanjutan, dan bernilai gizi tinggi. Namun, Bumdes di Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada metode pertanian konvensional dengan siklus panen yang lama dan diversifikasi produk yang rendah. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kompetensi manajerial tiga Bumdes mitra (Desa Laikit, Dimembe, dan Matungkas) melalui pelatihan dan pendampingan aplikasi teknologi budidaya microgreen. Metode yang digunakan meliputi observasi partisipatif, pelatihan teknis dan manajerial, serta evaluasi efektivitas program menggunakan desain kuantitatif one-group pretest-posttest. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan peserta, dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 4,80 meningkat menjadi 8,20 pada post-test. Analisis lebih lanjut menggunakan N-Gain score menghasilkan nilai rata-rata sebesar 65,38%, yang masuk dalam kategori “cukup efektif”. Program ini terbukti efektif dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan mengenai teknologi microgreen, sehingga membuka peluang bagi Bumdes untuk menjadi pemasok utama produk pangan bergizi, memperkuat ketahanan pangan lokal, dan mendukung keberhasilan program MBG secara berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

 

PENDAHULUAN

Peran inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian berkelanjutan menjadi semakin krusial di tengah tantangan ketahanan pangan global dan nasional (Quirinno, et al. 2024). Modernisasi sektor agrikultur tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk memberdayakan entitas ekonomi lokal seperti Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) agar mampu beradaptasi dan berdaya saing (Sari et al., 2024). Bumdes, sebagai pilar ekonomi desa, memiliki posisi strategis untuk mengelola potensi sumber daya lokal dan menggerakkan perekonomian masyarakat. Namun, kapasitasnya sering kali terkendala oleh keterbatasan akses terhadap teknologi, pengetahuan manajerial, dan jaringan pasar yang lebih luas.

Kecamatan Dimembe, yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, memiliki potensi agrikultur yang signifikan, didukung oleh kondisi agroklimat yang kondusif untuk budidaya hortikultura (Yusuf et al., 2023; Selvia et al., 2024). Wilayah ini menjadi lokasi fokus pengabdian, khususnya di tiga desa: Laikit, Dimembe, dan Matungkas. Di ketiga desa tersebut, Bumdes telah terbentuk dan menjalankan berbagai unit usaha, mulai dari perdagangan hasil pertanian hingga jasa pengolahan skala kecil. Bumdes Laikit berfokus pada perdagangan hasil tani, Bumdes Dimembe telah menjalin kerja sama informal dengan sekolah dasar setempat untuk penyediaan pangan, sementara Bumdes Matungkas masih dalam tahap pengembangan kelembagaan dengan fokus pemberdayaan ekonomi keluarga.

Meskipun memiliki kelembagaan yang aktif, hasil observasi lapangan dan analisis situasi awal mengidentifikasi beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi oleh ketiga Bumdes mitra. Pertama, dari aspek produksi, para mitra masih sangat bergantung pada metode pertanian tradisional untuk komoditas seperti kangkung, bayam, dan sawi. Metode ini memiliki siklus panen yang relatif lama (30–45 hari), memerlukan lahan yang luas, dan menghasilkan produk dengan nilai tambah yang rendah (Mešić, et al., 2024). Keterbatasan ini menghambat kemampuan Bumdes untuk memenuhi permintaan pasar yang dinamis dan berkelanjutan, seperti kebutuhan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kedua, dari aspek manajemen usaha, kapasitas manajerial pengelola masih terbatas. Praktik pencatatan keuangan yang belum terstandarisasi, perencanaan produksi yang bersifat reaktif, dan minimnya strategi bisnis yang terstruktur menjadi kendala serius dalam pengembangan skala usaha. Ketiga, dari aspek pemasaran, saluran distribusi masih bersifat informal dan terbatas pada lingkup lokal, tanpa pemanfaatan platform digital yang dapat memperluas jangkauan pasar (Wahditiya et al., 2024).

Untuk menjawab permasalahan tersebut, program pengabdian ini menawarkan solusi berupa aplikasi teknologi budidaya microgreen. Microgreen adalah tanaman sayuran muda yang dipanen pada usia 7–14 hari, saat daun kotiledon atau daun sejati pertama telah berkembang (Rachmawati, 2023). Teknologi ini dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan strategis. Secara nutrisi, microgreen diakui sebagai “superfood” karena mengandung konsentrasi vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif seperti antioksidan dan polifenol yang jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman dewasanya (Rizvi et al., 2023; Bhaswant et al., 2023). Senyawa-senyawa ini memiliki peran krusial dalam mendukung kesehatan manusia, termasuk meningkatkan sistem imun dan meredakan inflamasi (Alloggia et al., 2023; Dereje et al., 2023; Rao, 2024; Rohmanna et al., 2023). Dari sisi budidaya, microgreen sangat efisien karena dapat ditanam di lahan terbatas, bahkan di dalam ruangan, dengan menggunakan sistem hidroponik atau media tanam sederhana, serta memiliki siklus panen yang sangat singkat (Rachmawati, 2023). Keunggulan ini menjadikan microgreen sebagai solusi ideal untuk diversifikasi produk, peningkatan nilai tambah, dan pemenuhan pasokan pangan bergizi secara cepat dan konsisten.

Analisis komprehensif terhadap potensi dan tantangan yang ada dirangkum dalam analisis SWOT (Gambar 1). Analisis ini menyoroti bahwa kekuatan internal seperti kelembagaan Bumdes yang sudah ada dan minat masyarakat yang tinggi dapat dimanfaatkan untuk mengadopsi teknologi baru. Peluang eksternal, terutama adanya program MBG sebagai pasar potensial, menjadi pendorong utama. Intervensi teknologi microgreen dirancang untuk mengatasi kelemahan internal (teknologi konvensional dan manajemen terbatas) guna menangkap peluang tersebut, sekaligus memitigasi ancaman terkait keberlanjutan program pasca-pendampingan.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan.

Oleh karena itu, program pelatihan dan pendampingan aplikasi teknologi microgreen ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi teknis untuk masalah produksi, tetapi juga sebagai katalisator untuk transformasi manajerial dan pemasaran pada Bumdes mitra, sehingga mereka mampu berkontribusi secara optimal dalam mendukung program MBG dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.

 

METODE

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada rentang waktu Juli hingga September 2025. Lokasi kegiatan difokuskan pada tiga desa di Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, yaitu Desa Laikit, Desa Dimembe, dan Desa Matungkas. Peserta yang terlibat dalam program ini berjumlah 30 orang, yang merupakan anggota dan pengelola aktif dari tiga Bumdes mitra yang dipilih berdasarkan kriteria partisipasi dan komitmen untuk pengembangan usaha.

Metode pelaksanaan kegiatan ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one-group pretest-posttest design (Purwanti et al., 2020). Desain ini dipilih karena sangat sesuai untuk mengukur efektivitas suatu perlakuan atau intervensi, dalam hal ini adalah program pelatihan dan pendampingan, terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan kognitif peserta (Purwanti et al., 2020). Instrumen tes yang digunakan berupa soal pilihan ganda sebanyak 15 butir yang mencakup tiga domain materi utama: (1) Teknik budidaya microgreen, (2) Manajemen usaha dan analisis biaya, serta (3) Strategi pemasaran produk. Untuk menganalisis data yang diperoleh dari pre-test dan post-test, digunakan uji gain ternormalisasi (N-Gain score) guna mengetahui tingkat efektivitas program secara objektif.

Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan ini dirancang secara sistematis dan terstruktur yang dibagi menjadi tiga tahapan utama:

  • Tahap I, Observasi dan Analisis Kebutuhan. Tahap ini merupakan fase diagnostik yang bertujuan untuk memetakan secara mendalam permasalahan, potensi, dan kebutuhan spesifik dari masing-masing Bumdes mitra. Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi awal program kepada pemangku kepentingan desa, wawancara mendalam dengan para pengelola Bumdes, serta observasi langsung terhadap proses produksi dan manajemen usaha yang sedang berjalan. Pada tahap ini, tim pelaksana juga menjelaskan secara rinci mengenai alur kegiatan, peran serta fungsi masing-masing pihak, dan target luaran yang diharapkan.
  • Tahap II, Pelaksanaan Pelatihan dan Pendampingan. Tahap ini adalah inti dari intervensi yang dilakukan. Kegiatan diawali dengan pemberian pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal peserta. Selanjutnya, dilaksanakan serangkaian sesi pelatihan yang menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, dan demonstrasi praktik. Materi pelatihan mencakup pengenalan teknologi microgreen, teknik budidaya (pemilihan benih, media tanam, penyiraman, dan panen), manajemen usaha (pencatatan keuangan sederhana, perhitungan harga pokok produksi), dan strategi pemasaran (pemasaran lokal dan pengenalan pemasaran digital). Setelah sesi teori, peserta melakukan praktik langsung budidaya microgreen dengan didampingi oleh tim pelaksana untuk memastikan pemahaman dan penguasaan keterampilan teknis.
  • Tahap III, Evaluasi. Tahap akhir ini bertujuan untuk mengukur dampak dan keberhasilan program. Evaluasi dilakukan dengan memberikan post-test kepada seluruh peserta menggunakan instrumen yang sama dengan pre-test. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis N-Gain score menjadi indikator utama untuk menilai efektivitas program pelatihan dan pendampingan yang telah dilaksanakan di Bumdes mitra (Purwanti et al., 2020).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini dibagi ke dalam tiga tahapan utama yang saling berkesinambungan, yaitu observasi, pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, serta evaluasi. Setiap tahapan dirancang untuk mencapai tujuan spesifik yang berkontribusi pada keberhasilan program secara keseluruhan.


Pos terkait