Ini Respon Peserta Usai Nobar Film “Pesta Babi” di Sekretariat AJI Manado

Nobar film dokumenter "Pesta Babi" pada, Jumat (22/502026), di Sekretariat Bersama AMSI Sulut, AJI Manado, dan SIEJ Sulut.

Manado, Detik Manado.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado kembali menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi” pada, Jumat (22/502026), di Sekretariat Bersama AMSI Sulut, AJI Manado, dan SIEJ Sulut.

Dalam agenda nobar kali ini, AJI Manado berkolaborasi dengan Pers Mahasiswa (Persma) Vellichor Psikologi Unima, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SUAM IAIN Manado, dan Badan Pengurus Kota (BPK) Oi Manado.

Bacaan Lainnya

Usai nobar film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono berdurasi lebih kurang 90 menit ini, para peserta kemudian memberikan tanggapan mereka dari berbagai sudut pandang.

Ketua AJI Manado, Fransiskus Talokon menyampaikan pandangannya bahwa film dokumenter “Pesta Babi” memberikan paparan terkait kondisi di Papua. Dalam nobar itu juga tanpa ada narasumber, supaya tidak dianggap memprovokasi keadaan.

“Di sini tidak ada narasumber, seperti kebanyakan yang melakukan nobar, mengingat dari nobar ini kita bisa melihat dari berbagi prespektif, karena sering terjadi pro dan kontra, dengan kondisi yang terjadi di Papua,” ujarnya.

Bidang Pendidikan BPK Oi Manado, Fandy Umar, mengucapkan banyak terima kasih kepada AJI Manado, karena sudah mengajak kolaborasi, untuk membuat nobar film “Pesta Babi” tersebut.

“Beberapa literatur yang saya pernah baca, salah satu karya anak Papua, dia menulis sekalipun rambutmu lurus selama memiliki perjuangan yang sama dengan masyarakat Papua, sekalipun itu baru di hati, maka dialah bagian dari saudara Papua,” jelas Fandy.

Bahkan dia menyentil peran Oi Manado hingga saat ini, terlibat dalam Perjuangan masyarakat pesisir.

” Sampai saat ini Oi terlibat dalam Perjuangan bersama masyarakat pesisir, untuk menjaga ruang Hidupnya,” tambah dia.

LPM Suam IAIN Manado, Wa Umi, mengakui bahwa dirinya baru pertama kali menonton film dokumenter “Pesta Babi” yang sebelumnya dianggap sebagai provokator.

“Saya sempat dilarang teman untuk menonton film ini, karena dianggap memprovokasi, namun setelah menonton ini, baru memahami bahwa kita bisa melihat dari berbagai perspektif yang lebih luas,” terang Umi.

Peserta nobar film dokumenter “Pesta Babi” pada, Jumat (22/502026), di Sekretariat Bersama AMSI Sulut, AJI Manado, dan SIEJ Sulut.

Apa yang diceritakan oleh orang – orang selama ini, tambah dia, tidak seperti yang ditontonnya.

“Film ini, membuat kami bisa mengetahui dari perspektif peserta lain, bahwa Papua ini sangat kompleks untuk dibahas,” ujarnya.

Leo dari Persma Vellichor Psikologi Unima, menyatakan bahwa film dokumenter iti bagian dari refleksi bersama.

“Saya sudah menonton 3 kali film ini, namun ada teman dari Papua menyampaikan bahwa film hanya menjadi refleksi bagi masyarakat yang bukan Papua. Intinya, melihat hal ini, harus ada persamaan dalam satu perahu dahulu, baru membahasnya secara lugas,” ujarnya.

Berbeda dengan di daerah lain yang dilarang oleh aparat keamanan, nobar film “Pesta Babi” yang kedua kalinya di Sekretariat Bersama AMSI Sulut, AJI Manado, dan SIEJ Sulut ini berjalan aman dan lancar. (yos)


Pos terkait