Tahap 1. Observasi
Pada tahap awal yang dilaksanakan pada bulan Juli 2024, tim melakukan kunjungan dan analisis situasi mendalam di tiga Bumdes mitra. Dari hasil wawancara dengan pengelola dan observasi lapangan, teridentifikasi beberapa temuan kunci yang menjadi dasar perancangan intervensi.
- Pada aspek produksi, ditemukan bahwa ketiga Bumdes masih sepenuhnya mengandalkan metode budidaya sayuran konvensional di lahan terbuka. Proses ini memiliki siklus panen yang panjang, rata-rata antara 30 hingga 45 hari, dan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketiadaan diversifikasi produk menjadi masalah utama; komoditas yang dihasilkan cenderung homogen dan memiliki nilai jual yang rendah di pasar lokal. Hal ini menyebabkan pendapatan usaha stagnan dan membatasi kemampuan Bumdes untuk berkembang.
- Pada aspek manajemen usaha, ditemukan bahwa sistem administrasi dan keuangan masih sangat sederhana dan belum terstandarisasi. Pencatatan transaksi sering kali tidak dilakukan secara rutin, sehingga sulit untuk melakukan evaluasi laba-rugi secara akurat. Kapasitas manajerial para pengelola dalam hal perencanaan strategis, seperti menyusun rencana produksi berdasarkan permintaan pasar atau melakukan analisis biaya, teridentifikasi sebagai area yang memerlukan penguatan signifikan (Wahditiya et al., 2024; Sari et al., 2024).
- Pada aspek pemasaran, analisis rantai pasok menunjukkan bahwa sistem distribusi masih bersifat informal dan sangat terbatas. Penjualan produk sebagian besar hanya mengandalkan pasar desa atau penjualan langsung kepada konsumen di sekitar lokasi usaha. Belum ada upaya pemanfaatan platform digital atau media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran (Wahditiya et al., 2024). Keterbatasan ini menyebabkan Bumdes kesulitan menjangkau segmen pasar yang lebih luas, termasuk peluang untuk memasok institusi seperti sekolah dalam rangka program MBG. Temuan-temuan ini mengonfirmasi urgensi intervensi yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis produksi, tetapi juga pada penguatan kapasitas manajerial dan pemasaran.
Tahap 2. Pelaksanaan Pelatihan dan Pendampingan
Berdasarkan hasil observasi, tahap kedua difokuskan pada transfer pengetahuan dan keterampilan melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan intensif. Kegiatan ini diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur pemahaman dasar peserta terkait materi yang akan disampaikan. Hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata yang tergolong sangat rendah, yaitu 4,80 (dari skala 10), yang mengindikasikan adanya kesenjangan pengetahuan yang signifikan dan memvalidasi kebutuhan mendesak akan pelatihan.
Pelaksanaan pelatihan dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan interaktif. Materi dibagi menjadi tiga sesi utama untuk memastikan pemahaman yang komprehensif:
- Sesi Pelatihan Teknis Budidaya Microgreen: Sesi ini mencakup pengenalan konsep dan manfaat microgreen, pemilihan jenis benih yang cocok untuk pasar lokal (seperti kangkung, bayam merah, dan sawi), teknik penyiapan media tanam yang efisien dan murah, metode penanaman, manajemen penyiraman, serta teknik panen dan pascapanen untuk menjaga kualitas produk.
- Sesi Pelatihan Manajemen Usaha: Sesi ini berfokus pada aspek bisnis, meliputi cara melakukan pencatatan keuangan sederhana, metode perhitungan harga pokok produksi (HPP) dan penentuan harga jual, serta penyusunan rencana bisnis dasar untuk unit usaha microgreen.
- Sesi Pelatihan Pemasaran: Peserta diperkenalkan dengan strategi pemasaran produk pangan sehat, baik secara konvensional (misalnya, membuat kemasan menarik, menawarkan produk ke sekolah-sekolah untuk program MBG) maupun digital (pengenalan pemasaran melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp Business).
Setiap sesi teori selalu diikuti dengan praktik langsung. Peserta secara aktif terlibat dalam menyiapkan media tanam, menanam benih, dan merawat tanaman microgreen di unit percontohan yang telah disiapkan. Pendekatan learning by doing ini terbukti sangat efektif, karena memungkinkan peserta untuk langsung menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan mengatasi kendala teknis dengan bimbingan langsung dari tim pelaksana. Selama masa pendampingan, tim secara rutin mengunjungi lokasi untuk memonitor perkembangan budidaya dan memberikan konsultasi, memastikan bahwa peserta mampu mengelola unit produksi secara mandiri.
Tahap 3. Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan puncak dari rangkaian kegiatan pengabdian, yang bertujuan untuk mengukur secara kuantitatif efektivitas program. Setelah seluruh sesi pelatihan dan pendampingan selesai, post-test diberikan kepada seluruh peserta dengan menggunakan instrumen soal yang identik dengan pre-test.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang sangat signifikan. Hal ini tercermin dari lonjakan nilai rata-rata peserta dari 4,80 pada pre-test menjadi 8,20 pada post-test. Peningkatan ini menunjukkan bahwa proses transfer pengetahuan berjalan dengan sangat baik dan materi yang disampaikan dapat diserap secara optimal oleh para peserta.
Untuk mendapatkan ukuran efektivitas yang lebih objektif dan terstandarisasi, dilakukan analisis data menggunakan uji N-Gain score. Hasil perhitungan menunjukkan nilai N-Gain score rata-rata sebesar 65,38%. Berdasarkan kriteria interpretasi, nilai ini masuk ke dalam kategori “cukup efektif”, yang berarti program pelatihan dan pendampingan ini berhasil mengisi sekitar 65,38% dari kesenjangan pengetahuan yang dimiliki peserta sebelum intervensi. Peningkatan ini tidak hanya bersifat teoritis; selama observasi pasca-pelatihan, terlihat bahwa peserta mampu secara mandiri mempraktikkan seluruh siklus budidaya microgreen, mulai dari penanaman hingga panen, serta mulai menyusun rencana sederhana untuk memasarkan produk mereka ke lingkungan sekitar.
Secara keseluruhan, program berjalan dengan sangat kondusif. Antusiasme peserta sangat tinggi, tercermin dari partisipasi aktif selama sesi diskusi dan praktik. Interaksi dua arah antara narasumber dan peserta menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Keberhasilan ini tidak hanya diukur dari peningkatan skor, tetapi juga dari tumbuhnya rasa percaya diri dan motivasi para anggota Bumdes untuk mengembangkan unit usaha baru yang inovatif dan berpotensi meningkatkan pendapatan mereka.

KESIMPULAN
Program pelatihan dan pendampingan mengenai aplikasi teknologi microgreen yang dilaksanakan pada tiga Bumdes mitra di Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, telah memberikan dampak positif yang signifikan. Berdasarkan analisis data kuantitatif, program ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis maupun manajerial para peserta. Hal ini dibuktikan oleh peningkatan nilai rata-rata dari 4,80 pada pre-test menjadi 8,20 pada post-test, serta perolehan N-Gain score sebesar 65,38% yang masuk dalam kategori “cukup efektif”.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi pertanian modern yang efisien seperti microgreen merupakan solusi strategis untuk mengatasi permasalahan produksi yang dihadapi oleh Bumdes, seperti siklus panen yang lama dan keterbatasan lahan. Dengan kapasitas yang baru, Bumdes mitra kini lebih siap untuk melakukan diversifikasi produk, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, dan secara proaktif menangkap peluang pasar, terutama dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tingkat lokal. Diharapkan Bumdes dapat secara berkelanjutan mengaplikasikan teknologi ini untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan penguatan ekonomi desa. Untuk keberlanjutan jangka panjang, diperlukan adanya pendampingan lanjutan yang berfokus pada pengembangan jaringan pemasaran formal, seperti membangun kemitraan strategis dengan sekolah-sekolah dan memanfaatkan platform e-commerce untuk memperluas jangkauan pasar. ***
Oleh: Jantje Ngangi, Alvons A. Maramis, Fanny Nanlohy (Universitas Negeri Manado)














