Cerita Mira Turang Mengabdi Sebagai Guru di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui luar jaringan atau luring, dengan mengunjungi peserta didik.

Manado, DetikManado.com – Pandangan tentang sosok guru yang mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa menjadi awal mula Mira Turang menggantung cita-citanya sebagai guru. Dia ingin mengambil bagian dalam pengabdian itu dengan berbagai tantangannya. Dalam masa pandemi ini, tugas berat dipikul wanita energik ini dengan oenuh suka cita.   

“Saya terpanggil untuk menjadi bagian dalam pengabdian tersebut, sekaligus bangga ketika bisa bersama mencerdaskan anak bangsa,” ujar guru SMPN 1 Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulut ini.

Bacaan Lainnya

Alumnus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Manado (Unima) ini menuturkan, profesi sebagai guru dirasakan penuh dengan tantangan. Bagaimana mengajari anak didik agar bisa memahami materi yang diberikan membutuhkan kiat dan ketekunan. Apalagi pelajaran Matematika yang oleh sebagian siswa dirasa paling sulit.

“Di sekolah kami proses pembelajaran menggunakan Kurikulum K-13. Model pembelajaran tatap muka disesuaikan dengan materi pembelajaran dan alokasi waktu yang memadai,” ujarnya.

Namun kondisi kemudian berubah sekaligus menjadi tantangan tersendiri saat pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk di Sulut.  Ketika pandemi Covid-19, pertemuan guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya.

“Pembelajaran yang awalnya dilakukan secara dalam jaringan (daring) namun kenyataannya memiliki kendala dengan jaringan internet yang belum memadai, terutama di sejumlah desa yang menjadi domisili peserta didik,” tuturnya.

Hal lainnya adalah agak sulit mengumpulkan peserta didik untuk bisa gabung dalam pembelajaran daring. Kebanyakan telat hadir. Selain jaringan internet, waktu juga dibatasi serta fokus pada pemberian materi saja.

“Dengan berbagai kendala yang ada, akhirnya kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui luar jaringan atau luring, dengan mengunjungi peserta didik,” ujar Mira yang mengajar mata pelajaran Matematika ini.

Dengan memperhatikan protokol kesehatan Covid-19, dibentuklah kelompok-kelompok siswa di desa-desa. Dengan pembelajaran luring, guru tidak hanya menyampaikan materi, namun juga bisa mengetahui kondisi masing-masing peserta didik di kelompok belajar tersebut.

“Guru merasa dekat dan lebih memahami karakteristik peserta didik khususnya peserta didik kelas 7, atau mereka yang baru masuk SMP tahun ini,” ujar Mira.

Dia mengatakan, untuk komunikasi terkait tugas-tugas sekolah, dia masih memanfaatkan layanan aplikasi seperti WhatsApp. Tugas dikirim melalui grup, kemudian dikerjakan oleh siswa, dan dilaporkan kembali melalui grup yang ada.

“Ini yang bisa kami lakukan agar kegiatan belajar mengajar ini bisa berjalan, meski wabah Covid-19 belum berhenti,” ujarnya.

Peringatan Hari Guru Nasional, Rabu (25/11/2020) lalu, mempunyai makna tersendiri bagi Mira. Dia semakin memantapkan tekad pengabdiannya sebagai guru, karena guru adalah orang yang berjasa.

“Melalui guru kita bisa mengenal huruf dan angka, serta mengerti banyak hal,” ujarnya.

Dalam momentum peringatan Hari Guru Nasional, dia berharap pemerintah lebih memberikan perhatian yang lebih besar dan merata bagi guru-guru yang mengabdi di seluruh penjuru tanah air. Karena guru punya tanggungjawab yang besar untuk masa depan bangsa.

“Mengambil bagian dalam upaya mencerdaskan anak bangsa menjadi komitmen saya,” ujarnya. (joe)

Komentar Facebook
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *