Giliran Seasoldier Belajar Jurnalistik Bersama AMSI Sulut

Foto bersama para peserta pelatihan jurnalistik dan Pengurus AMSI Sulut.

Manado, DetikManado.com – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulut kembali menggelar kegiatan Pelatihan Jurnalistik di Sekretariat AMSI Sulut, Jl Elang Raya, Kecamatan Malalayang, Kota Manado, Kamis (21/10/2021). Kali ini giliran Seasoldier Sulut yang mengikuti pelatihan ini.

Dipandu Noufryadi Sururama, jurnalis Sulawesion.com sebagai moderator, pelatihan ini menghadirkan empat narasumber yang membahas berbagai hal terkait jurnalistik. Para peserta anggota organisasi yang dibesut oleh Nadine Candrawinata ini mengikuti pelatihan dengan antusias.

Bacaan Lainnya

Pemred Barta1.com Agustinus Hari mengawali kegiatan dengan materi Pengenalan Pers dan Jurnalistik. Agust bicara mulai dari pengertian pers, sejarah perkembangan pers, jurnalistik, hingga wartawan dan jurnalis.

“Ini merupakan pemahaman awal, di mana kita harus mengetahui apa itu pers dan jurnalistik, lalu bagaimana sejarahnya,” tutur Ketua AMSI Sulut ini.

Pada materi kedua, Yoseph E Ikanubun (Pemred DetikManado.com) menggugah kesadaran peserta melalui materi Kode Etik Jurnalistik. Secara detail, Ikanubun memaparkan terkait 11 pasal dalam Kode Etik Jurnalistik beserta tafsirannya.

“Kode Etik Jurnalistik ini ibarat kitab sucinya wartawan, seperti umat beragama yang memiliki kitab suci,” papar Ahli Pers dari Dewan Pers ini.

Ketua Badan Pertimbangan dan Pengawas Organisasi (BPPO) AMSI Sulut ini mengatakan, sayangnya 11 pasal Kode Etik Jurnalistik itu kurang dipahami, apalagi diimplementasikan oleh para jurnalis. Sehingga tak heran, banyak persoalan muncul dalam kerja jurnalistik.

“Bagi wartawan yang melanggar kode etik, bisa dikenakan sanksi peringatan hingga pemecatan,” papar Ikanubun.

Salah satu peserta pelatihan Jesica Tumuahi menanyakan bagaimana dengan mengenai wartawan yang tidak diundang pada suatu kegiatan, namun datang meliput. Termasuk membedakan mana wartawan yang profesional dan yang bukan.

“Terlebih dahulu kita menanyakan identitas dari wartawan tersebut, termasuk dari media mana. Prinsipnya kita terbuka untuk memberikan informasi terkait kegiatan itu selama itu bukan kegiatan tertutup atau privat,” ujar Ikanubun.

Pemred Beritakawanua.com Asrar Yusuf mengangkat materi mengenai Teknik Reportase dan Wawancara. Yusuf mengatakan, wawancara dan reportase adalah hal yang berbeda, meski wawancara merupakan bagian dari reportase.

“Dalam melakukan reportase, reporter harus pintar memilah-milah narasumber yang nantinya akan melengkapi bahan penulisan berita,” paparnya.

Dia menambahkan, sedangkan wawancara merupakan cara mengumpulkan data berupa pendapat, pandangan, dan pengamatan seseorang tentang suatu peristiwa.

Pada sesi terakhir, Redpel Barta1.com, Ady Putong membangkitkan kembali antusiasme peserta dengan materinya Menulis Berita, teori maupun simulasi menulis berita.

“Beberapa hal harus kita perhatikan pada materi ini, jika teman-teman nantinya mengirim rilis kegiatan, bisa memperhatikan teknik penulisan berita yang sudah dicontohkan tadi,” ujar Putong.

Seluruh peserta diberi kesempatan menulis berita terkait kegiatan pelatihan itu, selanjutnya beberapa orang mempresentasekan tulisan mereka.

Kegiatan pelatihan jurnalistik ditutup oleh Sekretaris AMSI Sulut Supardi Bado dengan mengucapkan terima kepada para peserta.

“Jangan segan-segan untuk berkolaborasi pada kegiatan yang bermanfaat selanjutnya, Sekretariat AMSI ini sudah kami seklarasikan sebagai Rumah Literasi untuk warga,” ujar Pemred Sulawesion.com.

Sebelum Seasoldier, sejumlah organisasi juga telah mengikuti pelatihan di Sekretariat AMSI Sulut. Organisasi itu adalah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Ikatan Mahasiswa Tomohon (IMT), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Sulut, serta Komunitas Marijo Belajar Sulut. (joe)

Komentar Facebook

Pos terkait