Terkait Penahanan WNI Asal Sulut di Filipina, Ini Penjelasan KJRI Davao City

Kunjungan Konjen RI Davao City, Dicky Fabrian menemui Suparlan dan WNI lainnya di Detensi Kantor Imigrasi Davao City.

Manado, DetikManado.com – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Davao City melalui Pejabat Fungsi Protokol dan Konsuler Gufron Hariyanto, angkat bicara mengenai nasib WNI asal Sulut yang sudah 6 bulan ditahan di Davao City, Republik Filipina.

Dalam keterangan resminya kepada DetikManado.com, Senin (19/08/2019) malam, Gufron memberikan penjelasan terkait penahanan Suparlan Mokoginta dan Herison oleh otoritas Filipina.

Bacaan Lainnya

“Saudara Harison dan Suparlan saat ini dalam penanganan pihak Bureau of Imigration-Davao City Field Office dengan kasus yang disangkakan adalah illegal entry,” ungkapnya.

Lanjutnya, kedua Warga Negara Indonesia (WNI) tersebut ditangkap pihak berwajib saat akan menyeludupkan ayam, minuman dan beberapa barang lainnya di salah satu pelabuhan di General Santos. Di mana pada saat dilakukan pemeriksaan oleh aparat setempat, yang bersangkutan tidak dapat menunjukan dokumen keimigrasian (Paspor RI dan Visa). “Keduanya ditangkap dengan sangkaan tanpa dokumen dan masuk ke Filipina tanpa melalui check point yang benar atau Illegal Entry,” jelas Gufron.

Gufron juga mengatakan, bagi setiap orang asing termasuk WNI yang masuk tanpa menggunakan dokumen, dan tanpa melalui tempat pemeriksaan (check point) yang diatur oleh negara setempat, akan dikenakan tindakan pro justicia ataupun tindakan administrative keimigrasian (deportasi). Dalam hal proses file case atau pro justicia, akan diproses dan diputuskan oleh pengadilan Genaral Santos sesuai lokus delik. “Pelaksanaan proses pengadilan di Filipina memakan waktu yang panjang bisa 3 sampai 6 bulan, tergantung jenis dan berat perkara yang disangkakan,” jelasnya.

Konjen RI Davao City didampingi Fungsi Protkons, ILO TNI dan LO Polisi.
Komentar Facebook

Pos terkait