Waspada Hoaks Bencana Letusan Gunung Berapi di Sulut

Erupsi Gunung Karangetang di Kabupaten Sitaro, Sulut yang terjadi beberapa waktu lalu. (Foto: BMKG Sulut)

Manado, DetikManado.com  – Ruang-ruang digital kini banyak dipenuhi dengan berbagai misinformasi dan disinformasi atau hoaks. Selain hoaks terkait vaksin, hoaks tentang bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan letusan gunung berapi juga marak beredar.

Dikutip dari turnbackhoaks.id, belum lama ini beredar video hoaks yang diunggah oleh akun Tiktok bernama “Farel Fahlevi” berdurasi 12 detik memperlihatkan letusan dari sebuah gunung berapi di dekat laut pada malam hari dengan keterangan: Gunung Semeru meletus hari ini.

Bagi warga sekitar Gunung Semeru, hal ini bisa saja tidak terlalu mengkhawatirkan karena mereka bisa langsung melihat kondisi gunung tersebut. Tapi lain halnya dengan sanak keluarga yang berada di luar daerah, tentu cemas dan khawatir dengan beredarnya video tersebut.

Setelah melakukan penelusuran yang dilakukan pemeriksa fakta dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), video tersebut tidak berkaitan dengan letusan Gunung Semeru. Kanal Youtube “TN” telah mengunggah video dengan judul Explosive Eruption of Sakurajima on November 12, 2019. Keterangan itu menyebutkan bahwa gesekan dari partikel abu yang berputar-putar menghasilkan petir. Situasi tersebut merupakan letusan Gunung Sakurajima.

Jadi klaim letusan Gunung Semeru yang berada di Jawa Timur, seperti keterangan pada video Tiktok “Farel Fahlevi” merupakan informasi dengan konteks yang salah.

Dengan demikian, fakta video akun Tiktok “Farel Fahlevi” tentang letusan Gunung Semeru tersebut adalah hoaks, isi video sebenarnya adalah erupsi di gunung Sakurajima di Jepang.

Sulawesi Utara (Sulut) memiliki sejumlah gunung berapi seperti Gunung Lokon, Gunung Soputan, dan Gunung Karangetan. Beberapa kali beredar hoaks bahwa gunung berapi tersebut mengalami erupsi. Hal ini tentu mencemaskan public.

Kecemasan terutama datang dari keluarga-keluarga yang tidak tinggal di kawasan gunung berapi tersebut, tetapi mereka yang tinggal di luar daerah yang menerima hoaks yang disebarkan tersebut.

Nah, beredarnya hoaks terkait letusan gunung berapi ini bisa dimainkan oleh pihak-pihak yang sengaja memanipulasi informasi dengan tujuan tertentu. Misalnya saja untuk mengganggu stabilitas masyarakat karena akan dipenuhi dengan kecemasan. Bisa juga hal itu dilakukan untuk menyesatkan orang lain, dan juga mencari keuntungan secara ekonomi.

Informasi yang salah atau informasi bohong ini kemudian dengan cepat menyebar ke ruang-ruang digital. Orang dengan mudah membagikan informasi terkait letusan gunung berapi ini karena memang mempunyai dampak yang besar pada warga.

Hoaks terkait erupsi gunung berapi ini bisa terjadi berulang-ulang, ketika memang ada peningkatan aktifitas gunung berapi, namun dalam skala yang tidak seperti pada hoaks yang menyebar.

Nah, bagaimana warganet bisa memastikan apakah informasi terkait letusan gunung berapi itu benar atau tidak? Berapa besar peningkatan aktifitas gunung berapi itu? Cara yang paling sederhana adalah dengan mengakses website resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG yakni https://www.bmkg.go.id/ atau beberapa platform media sosial resmi milik BMKG. Ini dilakukan untuk membandingkan informasi yang beredar di medsos dengan informasi resmi dari BMKG.

Bisa dengan mengecek situs https://magma.esdm.go.id/v1/gunung-api/laporan atau  media sosial Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yakni https://linktr.ee/PVMBG .

Cara lainnya adalah dengan mengunjungi website Turnbackhoax.id, sebuah website milik Mafindo yang berisi bank data seluruh hasil periksa fakta, yang sudah diverifikasi oleh tim periksa fakta.

Selain itu ada juga website Cekfakta.com, sebuah proyek kolaboratif pengecekan fakta oleh Mafindo, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) serta didukung oleh Google News Initiative.

Jika beberapa website di atas belum memberi informasi yang Anda butuhkan, maka untuk mengidentifikasi atau mencari kebenaran terhadap sebuah informasi berupa link berita, foto, atau video, maka ada beberapa cara yang bisa digunakan.

 

Memverifikasi judul atau konten editan.

Gunakan mesin pencari seperti google.com. Lalu masukkan kata kunci sesuai informasi yang Anda terima dari media sosial. Setelah memasukkan kata kunci, mesin penelusuran akan memunculkan sejumlah situs cek fakta yang telah memeriksa kebenaran informasi tersebut.

Baca artikel tersebut hingga selesai lalu sebarkan tautannya ke media sosial agar keluarga atau kawan-kawan Anda tidak termakan hoaks serupa.

 

Verifikasi foto

Anda bisa menggunakan tools Reverse Image Search. Tools ini berguna untuk menelusuri foto-foto yang diambil dari internet. Bisa menggunakan Google Image Search, dan Yandex. Anda tinggal memasukan foto yang akan dianalisis dan membandingkan dengan hasil temuan di mesin pencari.

Selain itu bisa juga menggunakan Google Lens. Caranya, Buka Google Lens, arahkan kamera ke gambar/foto yang mau kita cari. Setelah ditekan shutter, maka Google Lens akan mencari menggunakan reverse search image-nya Google. Kemudian akan akan muncul hasilnya.

 

Verifikasi video

Anda bisa memverifikasi dengan menggunakan keyword tertentu yang ingin Anda uji. Kemudian bisa menggunakan foto/frame video secara manual.

Yang terakhir bisa menggunakan foto/frame video secara otomatis menggunakan InVID. Ini dilakukan dengan lebih dulu memasang evtension “InVID WeVerify” di perangkat Anda.

Dengan pengetahuan yang baik, serta bantuan beberapa tools tersebut tentu diharapkan bisa membantu mencegah beredarnya hoaks bernuansa SARA, terutama menjelang Pemilu 2024.

Dengan menggunakan cara-cara tersebut, mana Anda bisa membantu memperlambat penyebaran hoaks termasuk hoaks terkait letusan gunung berapi. (Mikael Labaro)

Komentar Facebook