Dialog Persoalan Lingkungan di Pelantikan PMKRI Tondano

Dari kiri ke kanan: Richard Fangohoi (Moderator), Pastor Troy Kalengkongan Pr (Pastor Paroki Tataaran), Juventus PY Kago (Ketua PP PMKRI), Marthen Weku SSos (Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah D3 dan Peningkatan Kapasitas) dan Royke R Pangalila (WWF Indonesia).

Tondano, DetikManado.com – Dialog Publik mengangkat tema “Krisis Lingkungan Hidup: Atasi Sejak Sekarang atau Musnah Bersama” yang diulas dari berbagai perspektif mengisi pelantikan DPC PMKRI Cabang Tondano, Jumat (18/10/2019).

Dialog Publik yang dipandu moderator, Richard Fangohoi ini menghadirkan pembicara Pastor Troy Kalengkongan Pr mewakili Hierarki Gereja Katolik, Ketua Presidium Pengurus Pusat (PP) PMKRI St Thomas Aquinas, Juventus PY Kago, World Wild Life Fund for Nature (WWF) Indonesia, Royke R Pangalila. Dan terakhir dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Minahasa dalam hal ini, Marthen Weku SSos selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengelolahan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas.

Bacaan Lainnya

Dalam pemaparannya Pangalila mengatakan, ada faktor-faktor aktivitas yang terjadi di Bumi yang berdampak pada kondisi lingkungan. “Soal ekonomi, geo-politik, demografi, ada perdagangan dan bermacam-macam. Inilah dasar dari yang akan memberikan dampak sisa pada Sumber Daya Manusia (SDM), iklim, keragaman hayati,” buka pegiat lingkungan hidup ini.

Meminjam teori Robert Malthus, Ia menuturkan laju pertumbuhan penduduk seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung. Yang artinya laju pertumbuhan penduduk lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan pangan. “Diperkirakan jumlah 7,2 milyar penduduk di dunia akan menjadi 9,5 milyar penduduk tahun 2050,” ungkapnya.

Pangalila menambahkan, sektor perikanan memberikan suplai 15% potensi hewani dan nabati.

Lain pihak Weku yang mewakili DHL Minahasa mengatakan, penanganan sampah sedang diupayakan Pemkab Minahasa, Kemudian telah terbagi zona tempat pembuangan akhir (TPA) seperti di Minahasa dan sekitarnya, Langowan Kawangkoan dan Pineleng. Ia menyebutkan, di kota Tondano sendiri terdapat truk pembuang (dump truck) berjumlah 6 unit. Menurutnya, mahasiswa juga dinilai kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. “Sumber sampah terbanyak ada di kecamatan Tondano Selatan dari Tataaran, kebanyakan mahasiswa,” paparnya.

Weku menjelaskan, akan dilakukan pengadaan bak sampah. Banyak petugas di bagian Pengelolahan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas mengeluh dengan kondisi sampah. “Tingkat kesadaran masyarakat kurang sekali. Saya lihat di kampus (Unima) juga banyak sampah,” imbuhnya.

Weku mengatakan, tahun depan Pemkab Minahasa akan menambah unit kendaraan pembuang sampah. Namun dengan catatan setiap desa atau kelurahan memiliki 1 kendaraan pembuang sampah. “Ketambahan 10 dump truck. Jadi petugas ada 300 orang dan menangani sampah di Minahasa,” ucapnya.

Setelah Dialog Publik ini, DPC PMKRI Tondano, para pembicara dan tamu undangan melakukan Deklarasi terkait krisis lingkungan dengan harapan mulai menjaga lingkungan sekitar. (rf)


Pos terkait