Salib vs. Takhta: Kristus Raja Menggugat Oligarki Indonesia

Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd.

Merangkul Salib, Mengakui Mahkota
Tuntutan diakonia politik harus diterjemahkan ke dalam gerakan nyata. Hal ini mencakup pendidikan politik berbasis etika, kampanye anti-korupsi yang teguh, dan keterlibatan aktif dalam mengawal proses legislasi dan eksekutif. Ketika para pemimpin politik berupaya mengamankan kekuasaan dengan mengorbankan kaum miskin, rakyat Kerajaan Kristus wajib bersuara, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan otoritas moral dari Injil. Politik Kerajaan adalah politik kesaksian, bukan politik transaksional, menolak patronase yang merusak dan menegakkan pelayanan publik yang sejati.
Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam bukanlah akhir yang menghibur, melainkan sebuah proklamasi yang mengguncang dan sebuah awal yang menantang. Ia menuntut kita untuk merangkul kenyataan radikal tentang Raja yang bertahta di kayu salib. Pengakuan iman ini mengharuskan umat Katolik dan seluruh umat manusia untuk hidup di bawah etika kekuasaan yang terbalik: di mana kekuatan sejati adalah kelemahan yang dipertaruhkan demi cinta, dan kedaulatan sejati adalah pelayanan total kepada yang paling rentan.
Jika kita merayakan Kristus sebagai Raja, maka kita harus siap untuk melihat keadilan sosial, kejujuran politik, dan solidaritas kemanusiaan sebagai agenda utama dari ibadah kita. Mahkota-Nya adalah mahkota duri; dan hanya dengan merangkul mahkota yang tersembunyi inilah, kita dapat sungguh-sungguh membangun Kerajaan-Nya di bumi, di Indonesia, dan secara khusus, di tanah Nyiur Melambai, Sulawesi Utara, kini dan selamanya. Harapan eskatologis ini bukanlah pelarian dari dunia, melainkan motivasi radikal untuk bertindak di dunia. Kita bekerja untuk keadilan bukan karena kita yakin akan segera menang, tetapi karena kita yakin siapa yang telah menang. Di hari perayaan ini, umat Katolik di Indonesia dan Sulawesi Utara dipanggil untuk meninggalkan zona nyaman devosi pribadi dan melangkah keluar menjadi saksi Kerajaan di “lapangan tempur” kemiskinan, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan. (*)

Daftar Pustaka
1. Boff, L. (2001). Ecology and Liberation: A New Paradigm. Orbis Books.
2. Fransiskus, Paus. (2015). Laudato Si’ (Ensiklik tentang Perawatan Rumah Bersama). Libreria Editrice Vaticana.
3. Fransiskus, Paus. (2020). Fratelli Tutti (Ensiklik tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial). Libreria Editrice Vaticana.
4. Hengel, M. (1977). Crucifixion: In the Ancient World and the Folly of the Message of the Cross. Fortress Press.
5. Komisi Ajaran Iman Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). (2004). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Kanisius.
6. Pius XI, Paus. (1925). Quas Primas (Ensiklik tentang Kristus Raja). Libreria Editrice Vaticana.
7. Vatikan II. (1965). Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern). Libreria Editrice Vaticana. (Ayat-ayat Alkitab dikutip dari terjemahan LAI).


Pos terkait