Manado, DetikManado.com – Aktivitas gempa susulan pasca gempa besar Magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4/2026), masih terus berlangsung. Hingga Senin (6/4/2026) pagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total sudah terjadi 1.108 kali gempa susulan, meski tren frekuensi hariannya mulai menunjukkan penurunan.
Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya, mengungkapkan bahwa gempa yang terjadi pada Senin pagi sekitar pukul 06.18 Wita merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan tersebut.
“Hingga Senin 6 April 2026 pukul 06.48 Wita, tercatat sebanyak 1.108 kali terjadi gempa susulan,” ujar Tony dalam keterangan resminya.
Gempa terbaru yang dirasakan warga memiliki kekuatan Magnitudo 4,4 dan berpusat di laut, sekitar 110 kilometer barat Ternate, dengan kedalaman 35 kilometer. Guncangan ini turut dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Utara seperti Bitung, Minahasa Utara, dan Manado.
Meski jumlah gempa susulan terbilang tinggi, Tony menegaskan bahwa grafik frekuensi harian terus menurun sejak hari pertama pascagempa utama.
“Pada 1×24 jam pertama pasca-gempa M7,6 terjadi sebanyak 394 gempa susulan. Hari kedua 304 kali, hari ketiga 223 kali, dan hingga hari keempat sebanyak 187 kali,” jelasnya.
Menurut BMKG, aktivitas gempa ini dipicu oleh deformasi batuan pada Lempeng Laut Maluku, yang memang dikenal aktif secara tektonik.
“Gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas deformasi batuan Lempeng Laut Maluku. Ini masih merupakan rangkaian gempa susulan dari kejadian utama,” kata Tony.
Sejumlah warga mengaku masih merasakan getaran gempa, meski tidak terlalu kuat.
“Tidak terlalu kencang, tapi saya merasakan getaran saat akan berangkat kerja,” ujar Gladys Theresia, warga Manado.
Hingga saat ini, BMKG memastikan belum ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa susulan terbaru tersebut.
Meski tren gempa mulai menurun, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada. Warga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan serta memastikan kondisi rumah aman sebelum kembali beraktivitas normal.
“Kami tegaskan agar masyarakat tetap tenang, tidak terpancing isu yang tidak jelas, dan hanya mengandalkan informasi resmi dari BMKG,” pungkas Tony. (yos)















